Pengakuan sopir Metromini sering ugal-ugalan buat kejar setoran

Pengakuan sopir Metromini sering ugal-ugalan buat kejar setoran
JAKARTA | 7 Desember 2015 21:03 Reporter : Dede Rosyadi

Merdeka.com - Kecelakaan angkutan umum Metromini diseruduk kereta Commuterline yang memakan 18 korban jiwa di Muara Angke, Jakarta Barat, Minggu (6/12) kemarin, tengah menjadi sorotan. Kejadian ini bukan sekali menimpa Metromini. Banyak kecelakaan maut kerap menimpanya.

Lantas apa yang menyebabkan metromini 'langganan' kecelakaan? Salah seorang sopir metromini di terminal Blok M, Jakarta Selatan, Simbolon (37) mengakui, memang banyak faktor angkutan umum ini alami kecelakaan.

Menurut dia, faktor paling sering terjadi yakni berebut penumpang. "Bisa jadi dia(supir) kejar setoran, berebut penumpang. Atau memang pengemudi mau gaya-gayaan, itu sih tergantung orangnya (sopir)," kata Simbolon saat ditemui merdeka.com di lokasi, Senin (7/12).

Simbolon sendiri mengaku tidak mau ambil risiko kebut-kebutan saat membawa penumpang. Dia beralasan selalu ingat pesan istri dan anaknya di rumah.

"Saya narik (bawa penumpang) kecepatan standar lah. Ingat pesan istri, anak nunggu di rumah," ucap pria asal Sumatera tersebut.

Soal kejar setoran, Simbolon tidak menampik sering menerapkan cara itu. Sebab, dirinya menyadari persaingan angkutan umum di ibu kota sudah ketat dan sulit.

Bila setoran kurang, tentu jadi masalah bagi Simbolon. Apalagi Metromini dikendarainya sehari-hari bukan miliknya.

"Pikirin setoran seharian, apalagi kalau penumpang sepi. Setoran pake apa ke Bos?," paparnya.

Sopir Metromini lainnya, Marpaung (41), merasa perlu adanya edukasi bagi para pengendara. Selama ini, diakuinya terlalu mudah menjadi sopir Metromini. Tidak sedikit banyak sopir baru bisa nyetir sudah menarik penumpang.

Mengaku telah kendarai Metromini belasan tahun menjadi, Marpaung sebut sopir ugal-ugalan adalah mereka yang baru bisa nyetir.

"Baru bisa dikit sudah jadi sopir. Nah, ini yang biasanya suka ugal-ugalan di jalan. Kemampuan (pengalaman) rute jalan masih minim, main serobot saja di jalan raya. Itu yang bahaya," keluh Marpaung.

Menurutnya, para sopir baru ini memang berusia masih muda. Sehingga mereka masih nekat membawa Metromini. "Jiwa muda kali ya, maunya ngebut kalau lagi bawa penumpang. Ya kalau setoran juga penting, tapi nyawa yang jadi taruhannya bagaimana?" katanya.

Di singgung soal perilaku buruk supir yakni mabuk saat membawa penumpang, dirinya menanggapi dengan santai bahkan dirinya melarang hal tersebut dilakukan oleh semua supir angkutan umum.

"Ya kalau lagi nyupir bawa penumpang dia mabuk kan urusan pribadinya. Sebaiknya jangan lah. Bahaya di jalan," tegasnya.

Baca juga:

Kapolda Metro sebut Metromini vs KRL di Angke karena kelalaian sopir

Kemenhub bakal buat aturan trayek angkutan umum dilarang lintasi rel

Kemenhub minta Ahok tutup 19 pintu perlintasan kereta api

Buntut tabrakan maut, dishub dan polisi razia metromini-kopaja

Puluhan angkutan umum terjaring razia di Jalan Sudirman (mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami