Tegur Kakak Beradik Agar Pakai Masker Saat Nongkrong, Warga Penjaringan Dikeroyok

Tegur Kakak Beradik Agar Pakai Masker Saat Nongkrong, Warga Penjaringan Dikeroyok
JAKARTA | 28 April 2020 13:14 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Muhammad Nur Dava, pemuda berusia 21 tahun ini dikeroyok oleh A dan F yang merupakan kakak beradik. Kedua pelaku kesal usai ditegur korban karena nongkrong di malam hari tanpa menggunakan masker.

Peristiwa itu terjadi di Kampung Gusti Pintu Air, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/4) malam.

Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Ach Imam Rifai membenarkan hal tersebut. "Ya, dalam penanganan Polsek Penjaringan," kata Rifai saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (28/4).

Sementara itu, Desy Aryani selaku pelapor atas insiden tersebut menceritakan awal mula kejadian pemukulan tersebut terjadi yang menimpa keponakannya itu yakni Dava. Saat itu, Dava bersama dengan temannya sedang melakukan patroli atau keliling di lingkungannya.

"Itukan di lingkungan kami biasa kan dari RW ada-lah kaya remaja disuruh buat keliling buat ngingetin masyarakat RW 15 kami buat pakai masker dan tidak kumpul-kumpul. Kebetulan itu keponakan saya yang disuruh beserta yang lainnya," kata Desy saat dihubungi merdeka.com.

Sebelum insiden itu terjadi, pelaku bersama beberapa orang lainnya sedang berkumpul di dekat parkiran mobil dan tidak menggunakan masker.

"Kemudian keponakan saya langsung negur untuk dia (pelaku) banyakan pakai masker dan bubar jangan kumpul-kumpul, itupun sudah malam sekitar jam 11 atau setengah 11 malam menurut korban. Itu anak (pelaku) enggak terima diberi imbauan sama keponakan saya dan ngotot. keponakan saya cuma bilang, 'kalau ngotot udah sono panggil keluarga lu' dan si pelaku itu enggak seneng dengan kata-kata itu," ujarnya.

Setelahnya, Dava langsung pergi ke Pos RT untuk beristirahat. Namun, saat sedang asyik duduk di jembatan dekat Pos RT. Tiba-tiba saja ia dihampiri oleh seorang anak lain yang mengantarkan pesan jika Dava dipanggil oleh pelaku.

"Keponakan saya udah tahu kalau mau dipukulin, tapi keponakan saya enggak mau nyamperin itu pelaku dan pelaku kesel langsung dateng, langsung hajar, langsung dikeroyok (pakai) tangan kosong. Tapi pelakunya dua orang. Lalu kan udah bonyok begitu yang lerai satu orang, dan yang melerai itupun juga ikut dipukul juga oleh pelaku," ucapnya.

1 dari 3 halaman

Bikin Perjanjian

Dengan adanya insiden tersebut, mereka pun langsung dilakukan interogasi oleh RT dan RW setempat. Dalam interogasi itu, mereka melakukan sebuah perjanjian.

"Perdamaiannya itu cuma mihak si pelaku. Jadi point surat perdamaian itu enggak ada namanya itu buat pengobatan, tanggungjawab itu enggak ada. Tadinya maunya orang-orang langsung bawa ke Polsek, tapi itu mbahnya pelaku mohon-mohon untuk damai," ungkapnya.

"Tapi ternyata damainya itu enggak ada point apa-apa untuk korban dan tadinya ibunya korban, udahlah kekeluargaan kan," sambungnya.

Ia mengungkapkan, isi perjanjian itu tak ada untuk melakukan pengobatan terhadap si korban. Melainkan hanya untuk berjanji agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya kembali.

"Nah itu, isi pointnya itu enggak ada (pengobatan). Cuma isinya itu berjanji enggak bakal ngulangin lagi untuk yang kedua kalinya, untuk si pelaku itu. Kalau ngulangin lagi bakal proses hukum, itu intinya dari surat perdamaian itu. Bahkan saat diinterogasi, itu anak berdua nyolot dan dia nantangin buat panggil polisi. Jadi dia enggak takut sama sekali," ungkapnya.

Pihak RT yang merupakan om dari korban ini sendiri tak kepikiran untuk meminta pertanggungjawaban si pelaku untuk mengobati Dava. Karena, ia beranggapan jika keponakannya itu hanya mengalami luka ringan saja.

"Tadinya kan mau dimasukin tentang pengobatan, udah bilang. Tapi si pelakunya itu mohon-mohon, tapi dia itu enggak masukin pengobatan gitu. RTnya pun enggak kepikiran buat begitu, makanya saya begitu posisinya itu merasa dirugikan dengan surat perjanjian itu. Soalnya enggak memihak ke saya. Pokoknya dari pihak pelaku enggak ada itikad baik buat pengobatan," katanya.

2 dari 3 halaman

Pasca Kejadian Korban Sesak Napas

Ternyata, satu hari pasca kejadian tersebut. Dava pun merasa sesak nafas dan adanya bengkak pada bagian muka korban. Mengetahui hal itu korban langsung dibawa ke klinik, namun klinik menolak karena tak mau mengambil resiko akibat luka yang dialami Dava yakni patah hidung.

"Dan langsung klinik nyuruh ke rumah sakit dan hari Minggu itu rumah sakit semua poli tutup. Makanya hari Senin kemarin balik lagi ke Poli THT, ke Poli THT dan dokternya bilang langsung tindakan operasi hidung karena tulangnya patah," ucapnya.

Menurutnya, pihak pelaku sampai saat ini belum mendatangi keluarga korban untuk menanyakan kondisi Dava pasca kejadian tersebut. Terlebih, Dava sampai menjalani operasi akibat patah dibagian hidung.

"Enggak ada (itikad baik) dan bahkan ibu dari korban dateng ke rumahnya bilang ini gimana pengobatannya, kalau misalkan bisa lu bayar enggak apa-apa, kalau misalnya enggak bisa ya mau enggak mau ini kita proses, dia cuek aja," tuturnya.

"Belum ada itikad baik, permintaan maaf pun itu cuma di pos RT doang. Maksud kami nanya basa basi dateng ke rumah, bagaimana keadaannya setelah dipukul anak saya, kan gitu enak. Ini sama sekali enggak ada itikad baik, yang bikin kami kesel begitu. Malah itu orang tua korban yang ke sana, gimana pengobatannya dan dia bilang mau rembukan dulu katanya. Saya yang saya takutin, dia rembukan-rembukan itu nyepelehin, maksud saya gitu," sambungnya.

3 dari 3 halaman

Lapor ke Polsek Metro Penjaringan

Oleh karena itu, Desy pun melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Metro Penjaringan pada Senin (27/4) malam. Laporan ini pun teregistrasi dengan nomor : 526/K/IV/2020/SEK.PENJ. Oleh karena itu, polisi kini sedang menangani kejadian tersebut.

"Kata Polsek Penjaringan nanti saya dikabarin penyidik. Maksud saya itu kapan dikabarin, saya udah gereget banget, saya pengen kasih efek jera kepada anak-anak kaya gitu, jangan sok preman, jangan suka cari masalah di lingkungan. Soalnya ini anak emang banyak bermasalah dan banyak warga RW 015 nyaranin ke saya agar dia dikasih efek jera," sebutnya.

Dengan adanya laporan ke Polsek Metro Penjaringan, ia harap pihak Rumah Sakit Sumber Waras dapat melakukan visum terhadap korban.

"Saya sih belum berunding sama mamahnya, saya ini mau jalan ke RS Sumber Waras mau kasih surat. Kalau saya itu udah lapor polisi, mau kasih ke dokternya. Kalau dokternya itu ngeluarin visum kalau emang ada pemukulan," katanya.

Kini, kondisi Dava sendiri baru sadar setelah menjalani operasi patah hidung. Nantinya, polisi akan memintai keterangan Dava jika memang sudah pulih dan bisa berkomunikasi dengan baik.

"Sekarang baru siuman (sadar), karena kan kemaren baru operasi dan dia belum bisa diajak ngomong. Dan bahkan polisi pun semalem bilang ke saya, nanti disaat si korban udah bisa diajak bicara, udah stabil gitu langsung didatengin ke Polsek bersama saya dan saksi-saksi," jelasnya.

"Soalnya dia aja kan nafasnya aja dari mulut. Karena hidungnya masih ditutup, semoga aja sih bisa diajak ngobrol dikit-dikit," tambahnya.

Ia pun ingin agar masyarakat tak mudah tersinggung atau tak marah jika diperingatin untuk memakai masker. Terlebih dengan kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini.

"Saya pengen masyarakat ngehargain, bagaimana susahnya sih disuruh pakai masker. Maksud saya begitu, jangan sampai pemukulan dan pengeroyokan kaya gini, toh yang rugi mereka juga," tutupnya.

(mdk/rhm)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami