Wagub DKI akan Kaji Usulan DPRD Menunda Perluasan Jakwifi

Wagub DKI akan Kaji Usulan DPRD Menunda Perluasan Jakwifi
Wagub DKI Ahmad Riza Patria. ©2020 Merdeka.com
JAKARTA | 30 April 2021 14:11 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria akan mengkaji kembali usulan Komisi A DPRD agar menunda perluasan area Jakwifi. Usulan tersebut disampaikan lantaran dianggap biaya yang mahal, namun tidak sebanding dengan kecepatan internet.

"Kita teliti kembali apakah betul angka tersebut adanya begitu dan apakah betul angka tersebut dianggap terlalu mahal," ucap Riza di Balai Kota, Kamis (29/4) malam.

Hanya saja, Riza menuturkan pembangunan atau pengadaan hotspot internet telah disetujui oleh DPRD. Sehingga, menurutnya Jakwifi masih cukup membantu para murid selama pembelajaran tatap muka di sekolah.

Jika harga dengan kualitas yang diterima tidak sesuai, Riza memastikan akan mengevaluasi kembali biaya yang akan dikeluarkan Pemprov DKI.

"Kalau dianggap terlalu mahal tugas kita harus melakukan upaya-upaya agar tidak terjadi pemborosan, apalagi terlalu mahal," lugasnya.

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono meminta Pemerintah Provinsi DKI menunda perluasan pemasangan Jakwifi. Pertimbangan Komisi, bujet per bulan untuk setiap titik terlalu mahal namun koneksitas internet lambat.

Per bulan, biaya abodemen Jakwifi berkisar Rp6 juta. Angka ini dinilai terlalu mahal jika dibandingkan kecepatan internetnya.

"Rp 6 juta per bulan itu kemahalan, katanya stabilitas jaringan mereka bisa tetap kuat walaupun banyak WiFi lain di sekitarnya, tapi pas kita reses lemot-lemot juga," ucap Mujiyono, Jumat (30/4).

Selain itu, Mujiyono berpandangan, perluasan titik Jakwifi tidak menjadi prioritas seiring target pemerintah menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah. Sehingga menurutnya, pemanfaatan Jakwifi tidak optimal.

"Sesuai dengan permintaan Pak Presiden meminta dimulai pembelajaran tatap muka serempak per Juli 2021, kira-kira Jakwifi enggak terlalu dibutuhkan untuk siswa PJJ," ucapnya.

Politikus Demokrat itu menuturkan jika anggaran untuk perluasan Jakwifi bisa direlokasi ke penambahan biaya untuk subsidi kuota internet melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP), atau pemeliharaan infrastruktur sekolah yang tidak terpakai selama 1 tahun lebih.

"Anggarannya masukin saja ke tambahan kuota untuk KJP, bisa juga buat percepatan vaksin guru-guru, buat maintenance sekolahannya, penyediaan hand sanitizer tiap sekolah," tandasnya.

Penyediaan Jakwifi, hotspot internet, oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seiring kebijakan pembelajaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19.

Gubernur Anies Baswedan menargetkan Jakwifi bisa terpasang di 9.000 titik. Pada Agustus 2020 Jakwifi sudah terpasang di hampir 5.000 titik. (mdk/ray)

Baca juga:
Tinjau Jaring Apung, Anies Baswedan Kunjungi Pulau Terluar Jakarta
Ditemui Anies, Dokter RSUD Kepulauan Seribu Singgung Soal Anggaran
DPRD Minta Pemprov DKI Tunda Perluasan Jakwifi: Abodemen Mahal, Koneksi Lambat
Kadis Pariwisata DKI Tegaskan Dua Mafia Karantina di Bandara Bukan Anak Buahnya
Anies di Peresmian GBI: Pemerintah Hadir untuk Segala Kebutuhan Umat Beragama

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami