Walhi duga tumpukan sampah di Teluk Jakarta dampak proyek reklamasi

JAKARTA | 19 Maret 2018 20:46 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Lautan sampah menghiasi Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara. Pemprov DKI Jakarta tidak tinggal diam dan mengambil langkah cepat untuk membersihkan sampah. Semua alat berat dikerahkan, Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) juga bahu membahu mengangkat berton-ton sampah.

Dari catatan Pemprov DKI, sampah-sampah ini sudah mengendap sejak 2014. Kedalamannya mencapai lebih dari 2,5 meter.

Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Dwi Sawung mengatakan, tumpukan sampah mungkin saja terjadi karena terbawa arus laut. Ditambah adanya proyek reklamasi di Teluk Jakarta yang secara tidak langsung mengubah arus laut.

"Iya lama juga, lama-lama dia juga kan mengendap, kalau misalnya airnya enggak balik lagi, begitu ada reklamasi gitu ya arusnya kan berubah sampah yang masuk situ enggak bisa keluar lagi bisa aja jadi kaya numpuk gitu," jelas Sawung saat dihubungi, Senin (19/3).

Sawung menduga, sampah tersebut bisa saja karena proyek reklamasi. Namun ke mana arah sampah itu terbawa arus dia belum bisa memastikan. Bisa saja tumpukan sampah bercampur lumpur di wilayah konservasi bakau Kali Adem, seperti yang terjadi saat ini.

"Perubahan arus pasti ada, enggak mungkin enggak ada. Cuma kita kan enggak tahu nih, kan sekarang ada yang setengah jadi nih (Pulau reklamasi)," jelas dia.

"Cuma arah penumpukan sampahnya ke arah mana dan juga sekarang banyak sampah yang dari dulu banyak, misalnya ini cerita teman-teman dari walhi harusnya bulan-bulan ini ada biasanya ada sampah dari Teluk Jakarta ke pantai Pulau Pari misalnya ya sekarang enggak ada sampahnya ke Pulau Pari. Ada perubahan arus ini," sambungnya.

Pesimis sampah dikeruk dalam waktu satu minggu

Pemprov DKI menargetkan pembersihan sampah dalam waktu satu minggu. Walhi pesimis dengan target itu. Menurutnya, butuh waktu lama untuk membebaskan Teluk Jakarta dari sampah karena ada beberapa tempat yang tidak bisa menggunakan alat berat.

"Saya kira sulit yah seminggu pasti yang besarnya aja, ada yang di dalam yah harus manual juga enggak bisa pake alat berat. Alat berat ada batasnya juga karena enggak ada jalan ke situ. Harus manual dan pake tangan gitu , pasti lama lebih dari seminggu itu," ujar dia.

Untuk itu dia ingin ada kesadaran dari semua pihak karena sampah khususnya sampai plastik itu datang dari darat yang terbaru arus sampai ke laut. Untuk itu penanganan di darat juga perlu dilakukan.

"Itu kan dari darat yang ngalir ke laut, dari laut ngalir lagi ke darat. Selama persoalan di darat enggak ditangani ya enggak bisa juga. Kalau yang di laut sendiri sulit sekali memang, ini bukan program kita saja sendiri tapi juga program internasional untuk bagaimana mengatasi sampah plastik di laut. Karena pasti dia mendarat lagi di daratan atau dia muter di tengah-tengah (laut)," kata dia.


Polisi siap usut temuan kulit kabel di gorong-gorong Jalan Medan Merdeka
Kulit kabel bekas di gorong-gorong Jalan Medan Merdeka diduga ulah maling
Pemprov DKI kembali temukan kulit kabel di gorong-gorong Jalan Medan Merdeka
Tinjau Teluk Jakarta, Anies bantu pasukan oranye pungut sampah
Gunungan sampah di Teluk Jakarta ditargetkan beres dalam sepekan

(mdk/noe)