17 Februari: Sayembara Pembangunan Tugu Monas, Ini Sejarah Lengkapnya

17 Februari: Sayembara Pembangunan Tugu Monas, Ini Sejarah Lengkapnya
Monumen Nasional (Monas). ©Shutterstock
JATENG | 17 Februari 2022 05:00 Reporter : Jevi Nugraha

Merdeka.com - Berkunjung ke Kota Jakarta, tentu kurang lengkap rasanya jika belum mengunjungi tugu Monumen Nasional (Monas). Tidak hanya memiliki bentuk bangunan yang unik dan megah, ikon Kota Jakarta ini juga sarat akan nilai-nilai sejarah. Tak heran jika Monas menjadi salah satu obyek wisata yang selalu ramai pengunjung.

Di balik keunikan dan kemegahan tugu Monas, terdapat sejarah panjang saat proses pembangunan tugu ikonik ini. Sebelum membangun Monas, Soekarno mengadakan sayembara rancangan tugu yang nantinya akan menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Tepat hari ini, 17 Februari pada tahun 1955 silam, panitia membuka sayembara pembangunan Tugu Nasional. Panitia menginginkan rancangan Tugu Nasional harus memenuhi lima kriteria apa yang disebut sebagai sebuah bangsa.

Lantas, seperti apa sejarah pembangunan tugu Monumen Nasional? Simak ulasannya yang merdeka.com rangkum dari Historia.id dan Liputan6.com:

2 dari 3 halaman

Tujuan Pembangunan Monas

ilustrasi monas
Ilustrasi shutterstock.com

Setelah penandatanganan pengakuan kedaulatan, akhirnya Soekarno bisa bernapas lega dan menginjakkan kaki di Jakarta pada 28 Desember 1949. Setelah mendarat, Soekarno yang didampingi Sri Sultan, menaiki mobil kap terbuka dan beriringan menuju Istana Negara. Tentu saja, kedatangan Bung Karno di Jakarta disambut oleh massa dengan gegap gempita.

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta, Presiden Soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di Paris. Saat itu Soekarno ingin membangun sebuah monumen di lapangan tepat depan Istana Merdeka.

Pembangunan monumen bertujuan mengenang perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Dengan adanya monumen itu, Soekarno berharap bisa terus membangkitkan semangat patriotisme generasi yang akan datang.

Sayembara Rancangan Pembangunan Monas

Mengutip dari Historia.id, pada 17 September 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada 17 Februari 1955. Saat itu terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.

Sayembara kedua digelar pada 10 Mei 1960, tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Presiden Soekarno. Tapi saat itu Bung Karno meminta agar Saliban memperkecil monumen agar sesuai dengan keuangan negara.

Usulan Soekarno tidak disetujui oleh Saliban dan mengusulkan agar pembangunan Monas diundur sampai keadaan ekonomi di Indonesia membaik. Bung Karno yang tidak suka menunggu lama, akhirnya beralih ke rancangan Soedarsono.

3 dari 3 halaman

Monas Rancangan Soedarsono

monas
©Toptime.co.id/Viva

Soekarno tertarik dengan rancangan Soedarsono yang berbentuk sebuah tugu (lingga) yang memiliki ketinggian 111,70 meter di atas pelataran persegi empat berukuran 45 meter. Rancangan bangunan tersebut ditopang oleh cawan (lumpang) persegi empat setinggi 17 meter.

Setelah mantap dengan rancangan Soedarsono, akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 pada 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketuai oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya.

Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan RM Soedarsono, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961.

Sementara itu, lapangan Merdeka pun harus segera dibersihkan dari berbagai bangunan yang ada di sana. Bangunan-bangunan yang terkena dampaknya akan dipindahkan ke tempat lain. Adapun untuk urusan keuangan pemindahan bangunan dan pembangunan tugu, berasal dari sumbangan masyarakat, pengusaha, ekspor kopra, dan karcis bioskop.

Peresmian Tugu Monas

Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia, yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir Rooseno. Pada 12 Juli 1975, Monas resmi dibuka untuk umum.

Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer. Sebuah elevator (lift) juga dibangun pada pintu sisi selatan untuk membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut.

Di puncak Monas terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

(mdk/jen)

Baca juga:
Kisah Hidup Pa Van Der Steur, Tokoh Kemanusiaan dari Magelang yang Dilupakan
Keseruan Warga Karanganyar Rayakan Napak Tilas Perjanjian Giyanti, Ini 3 Potretnya
Sebabkan Kemiskinan hingga Wabah, Ini 5 Fakta Krisis Ekonomi di Banyumas 1930-1935
Kisah Pengembaraan Louw Djing Tie, Sang Pendekar Kungfu Tanah Jawa
5 Fakta Sejarah Jalan Malioboro, Jalan Para Raja hingga Pusat Pertokoan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini