4 Keseruan Festival Lima Gunung Magelang, Para Bidan Bawakan Tarian Unik Penuh Makna

4 Keseruan Festival Lima Gunung Magelang, Para Bidan Bawakan Tarian Unik Penuh Makna
Keseruan Festival Lima Gunung. ©YouTube/Terminal Mendut
JATENG | 3 Oktober 2022 14:26 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Pada 2022 ini, Komunitas Lima Gunung kembali menggelar acara Festival Lima Gunung (FLG). Dalam festival ini, panitia mengangkat tema “Wahyu Rumagang”. Sedikitnya ada 63 kelompok kesenian dari berbagai grup kesenian yang ikut ambil bagian dalam festival kali ini.

Berbagai kesenian yang ditampilkan antara lain tari-tarian, musik, teater, performa seni, kirab budaya, pameran seni rupa, pidato kebudayaan, serta instalasi seni lingkungan berbahan baku alam. Berbeda dari dua tahun sebelumnya, festival tahun ini digelar lebih meriah karena sudah bisa dipentaskan secara luring.

“Seakan ini tarikan kemenangan, tahun ini bangga bisa hadir di festival ini. selamat kepada teman-teman Komunitas Lima Gunung yang menyelenggarakan kegiatan kebudayaan ini. Ini kebanggaan bersama,” kata pemerhati seni budaya Magelang, Muhammad Nafi, dikutip dari ANTARA pada Minggu (2/10).

Lalu seperti apa keseruan festival itu? Berikut selengkapnya:

2 dari 5 halaman

Bidan Magelang Bawakan Tarian Unik

keseruan festival lima gunung
©YouTube/Terminal Mendut

Dalam acara tersebut, para bidan anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Magelang membawakan sebuah tarian unik. Nama tarian itu “Soreng Cingan”. Tak hanya sekedar tarian, dalam tarian Soreng Cingan terkandung pesan untuk melaksanakan pola hidup bersih dan sehat.

“Terlebih para ibu dan anak. Mereka harus menjaga kesehatannya dengan baik agar tidak mudah tertular penyakit,” kata Ketua IBI Magelang, Sri Kuswanti, dikutip dari ANTARA.

3 dari 5 halaman

Lima Gunung Award

keseruan festival lima gunung
©YouTube/Terminal Mendut

Selain pementasan seni, dalam festival itu juga diadakan prosesi Lima Gunung Award. Dalam kesempatan itu, pemimpin tertinggi yang juga budayawan dari Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut, menyatakan izin pada publik desa untuk memberikan penghargaan Lima Gunung Award kepada Yenny Wahid.

Yenny Wahid yang juga pimpinan Wahid Institut itu mengaku tidak menyangka kehadirannya untuk menyaksikan festival itu justru memperoleh penghargaan dari komunitas seniman petani dusun dan gunung tersebut.

"Saya kaget dan takjub dapat hadiah istimewa, bukan 'award'-nya yang menyentuh hati saya, tetapi 'roso' (perasaan hati) yang mengiringi pemberian 'award' ini," kata Yenny.

4 dari 5 halaman

Doakan Korban Tragedi Kanjuruhan

keseruan festival lima gunung
©YouTube/Terminal Mendut

Dalam sambutannya, Yenny mengajak seniman Komunitas Lima Gunung dan masyarakat Mantran Wetan, Magelang, untuk mendoakan para korban kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ia berharap tragedi bangsa itu tidak terulang lagi.

“Mari mendoakan mereka yang telah menghadap Tuhan Yang Maha Esa mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya,” kata Yenny.

5 dari 5 halaman

Sebar Semangat Persaudaraan

keseruan festival lima gunung
©YouTube/Terminal Mendut

Tokoh spiritual Komunitas Lima Gunung K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengemukakan kebudayaan menjadi magnet besar bagi daya rekat persaudaraan manusia, sedangkan Festival Lima Gunung tahun ini ungkapan semangat persaudaraan, baik di antara pegiat komunitas maupun dengan masyarakat luas.

"Jadi, melalui festival ini, kita berkumpul bersama-sama lagi setelah pandemi melandai. Kita berharap kebudayaan ini bisa terus berlanjut. Dengan kesenian kebudayaan kita bergembira dan saling berbagi kasih sayang serta persaudaraan," katanya.

(mdk/shr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini