5 Fakta Produksi Baju Astronot RS Moewardi, Gandeng Penjahit Solo untuk Lindungi Diri

5 Fakta Produksi Baju Astronot RS Moewardi, Gandeng Penjahit Solo untuk Lindungi Diri
JATENG | 25 Maret 2020 12:00 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Penyebaran virus Corona makin meluas. Pasien-pasien mulai berdatangan untuk berobat. Namun di saat makin banyak orang yang positif terkena virus Corona, justru keterbatasan dirasakan oleh rumah sakit. Salah satunya keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) yang bentuknya seperti baju astronot.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M. Faqih, APD hanya bisa digunakan sekali.

“APD itu hanya sekali pakai. Setelah itu langsung dibuang dan dihancurkan,” ujar Faqih dilansir Liputan6.com (23/3).

Untuk mengatasi keterbatasan APD, berbagai cara dilakukan rumah sakit. Salah satunya adalah dengan memproduksi baju APD sendiri. Cara itulah yang dilakukan RS Moewardi Solo dalam mengatasi kelangkaan APD. Berikut selengkapnya:

1 dari 5 halaman

Sulit Mencari APD

RSUD dr. Moewardi Solo mengaku harus memproduksi baju APD sendiri karena kesulitan mencari perlengkapan medis tersebut. Kesulitan itu dikarenakan permintaan APD semakin meningkat karena banyak rumah sakit yang membutuhkannya.

"Kami membuat sendiri APD karena kalau kita mencari sendiri itu sudah susah. Kalau adapun harganya juga sudah mahal," ujar Dirut RS Moewardi Cahyono Hadi dilansir Liputan6.com (24/3).

2 dari 5 halaman

Baju Astronot dengan Harga Murah

Karena keterbatasan barang dan mahalnya harga, RS Moewardi berinisiatif untuk memproduksi sendiri baju astronot itu dengan harga murah. Setelah munculnya ide tersebut, tim langsung bergerak cepat dengan memberi contoh. Setelah itu APD diuji coba dan ternyata hasilnya baik.

"Tim dari RS Moewardi mengakali bagaimana supaya kita bisa mandiri dan tidak bergantung. Hasilnya kita bisa membuatnya dan dipakai sesuai standar," ujar Cahyono dilansir Liputan6.com (24/3).

3 dari 5 halaman

Menggandeng UMKM Penjahit

Dalam memproduksi baju APD itu, RS Moewardi menggandeng sejumlah UMKM penjahit. Dalam sehari, mereka bisa memproduksi sebanyak 100-200 APD. Biaya produksi untuk satu APD sebesar Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu.

Selain itu, APD itu memang tidak dikormesialkan. Sedangkan jika tersisa akan langsung dikirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

"Kita ini rumah sakit bukan pabrik konveksi. Jadi untuk produksinya langsung menggandeng UMKM penjahit. Terus nanti kalau ada sisa akan kita kirim ke dinas agar mereka bisa membantu rumah sakit lain yang memerlukannya," ujar Cahyono dilansir Liputan6.com (24/3).

4 dari 5 halaman

Pernah Digunakan untuk Penanganan Flu Burung

Menurut Cahyono, APD yang diproduksi RS Moewardi terbuat dari jenis bahan polypropilane sponbound. Bahan itu diklaim bebas dari bakteri tertentu dan aman dari paparan virus COVID-19. Dulunya, pakaian itu pernah dipakai saat pemberatasan wabah flu burung.

"Bahan ini dulu kita pakai saat penanganan flu burung. Jadi ini sudah sesuai dengan standar kita," ujar Cahyono dilansir Liputan6.com (23/3).

5 dari 5 halaman

Satu Pasien Butuh 15 APD

Terkait berapa kebutuhan APD selama penanganan wabah Corona, Cahyono mengatakan itu tergantung berapa banyak pasien Corona yang ditangani. Dia menyebutkan bahwa satu pasien dibutuhkan sebanyak 15 APD per harinya.

"Kalau pasiennya satu orang kita butuh 15 APD karena satu tim ada dokter dan perawat. 15 APD itu untuk tiga kali shift," ujar Cahyono dilansir Liputan6.com (23/3).

(mdk/shr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami