Bantul Kembangkan Layanan Pengobatan Tradisional di 12 Puskesmas, Begini Faktanya

Bantul Kembangkan Layanan Pengobatan Tradisional di 12 Puskesmas, Begini Faktanya
Ilustrasi Jamu. ©2020 Merdeka.com/www.pixabay.com
JATENG | 6 Juli 2022 17:15 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Biasanya pengobatan tradisional hanya bisa ditemukan di balai-balai pengobatan tertentu. Namun di Kabupaten Bantul, tercatat sudah ada 12 puskesmas yang melakukan layanan pengobatan dengan obat tradisional. Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan, layanan itu merupakan bentuk inovasi yang dilakukan pemerintah.

Abdul Halim mengatakan, layanan itu dinamakan “Seroja”. Namanya merupakan akronim dari Sehat, Ekonomi Meningkat Karo Jamu. Inovasi itu telah dipresentasikan kepada tim independen penilai inovasi publik pusat.

“Sudah kita presentasi bagaimana Seroja itu kita kembangkan sehingga melahirkan dua efek, yaitu efek sehat dan efek ekonomi meningkat. Sehatnya adalah bahwa jamu-jamuan kita sudah masuk ke dalam sistem layanan kesehatan di puskesmas,” kata Abdul Halim dikutip dari ANTARA pada Rabu (6/7).Berikut selengkapnya:

2 dari 3 halaman

Sudah Diakui BPOM

ilustrasi obat herbal

©Shutterstock.com/Melpomene

Abdul Halim mengatakan, jamu-jamuan atau hasil pengolahan dari bahan herbal itu sudah diakui dan tersertifikasi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ia mengatakan penggunaan obat-obatan tradisional itu dilakukan dalam rangka mengurangi penggunaan obat-obat kimiawi.

Ia menambahkan, masuknya jamu dalam sistem layanan tradisional selain berdampak dari sisi kesehatan, juga terjadi penyerapan tenaga kerja di bidang industri.

“Jadi kalau dulu jamu itu bentuknya hanya cair diseduh langsung diminum. Tapi sekarang tidak, ada bubuk, ada kapsul, kemudian lulur. Itu contoh-contoh diversifikasi penggunaan tanaman obat dan rempah-rempah,” kata Abdul Halim.

3 dari 3 halaman

Bukan Lagi Polemik

ilustrasi jamu
©2020 Merdeka.com/www.pixabay.com

Abdul Halim mengatakan dulu penggunaan obat tradisional pada pengobatan di puskesmas masih dianggap sebuah polemik. Kini ia melihat zaman telah berubah di mana pemakaian tanaman obat-obatan dan remah itu telah mendapat pengakuan dari BPOM.

“Kalau dulu masih jadi polemik. Jadi masih kontroversi apakah boleh atau tidak menggunakan rempah dan herbal. Tapi sekarang sudah diyakini itu memang ada khasiatnya dan sudah diuji secara klinis,” kata Abdul Halim.

(mdk/shr)

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini