Diteror Banjir Rob Bertahun-Tahun, Warga Kota Semarang Keluhkan Hal Ini

Diteror Banjir Rob Bertahun-Tahun, Warga Kota Semarang Keluhkan Hal Ini
Banjir rob di Kota Semarang. ©YouTube/BETA TV
JATENG | 22 November 2021 08:30 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Setiap tahunnya, banjir rob selalu menggenangi Kota Semarang khususnya wilayah yang tak jauh dari garis pantai. Bencana rob di kota itu seolah tidak pernah ditemukan solusinya.

Namun lama-kelamaan cobaan rutin yang menimpa mereka tiap tahun membuat warga jengah juga. Melansir dari kanal YouTube BETA TV pada Sabtu (20/11), warga Kampung Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang segera membangun sabuk laut.

Dengan adanya sabuk laut mereka berharap bisa bebas dari bencana banjir rob yang terjadi hampir sepanjang tahun. Apalagi, di kampung itu terdapat 950 kepala keluarga yang terdampak banjir rob. Sudah lama warga tak bisa tidur nyenyak karena banjir rob selalu datang sepanjang waktu.

Berikut selengkapnya:

2 dari 3 halaman

Dampak Banjir Rob

banjir rob di kota semarang
©YouTube/BETA TV

Mengutip dari BETA TV, seringkali air laut mulai pasang saat warga sudah terlelap, sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Istri Ketua RW 15 Kelurahan Tanjung Mas, Sri Wahyuni mengatakan bahwa tak jarang banyak warga yang memilih pindah, nge-kos di tempat lain, maupun pindah rumah, karena mereka tak mampu beradaptasi dengan kondisi banjir rob.

Tak hanya itu, banyak barang warga yang rusak karena terjangan rob seperti sepeda motor, kulkas, dan barang elektronik lain.

“Yang mengerikan itu tengah malam. Bahkan kemarin orang yang tertidur itu sampai kasurnya ikut terendam. Ketinggian air saat banjir itu bisa mencapai 60 cm,” kata Sri Wahyuni, mengutip dari kanal YouTube BETA TV.

3 dari 3 halaman

Memunculkan Penyakit

banjir rob di kota semarang©YouTube/BETA TV

Tak cukup sampai di situ, warga juga sudah merasakan dampak sampah yang sudah mengapung ke permukiman karena terjangan rob. Karena bencana itu pula, ada puluhan balita di daerah itu yang menderita stunting. Warga setempat juga banyak yang terkena hipertensi karena sering cemas dengan bahaya rob yang terus mengancam.

“Kami sangat terganggu sekali. Apalagi saat musim hujan genangan bisa tambah tinggi karena berbarengan dua arah. Arah air dari pasang dan air dari atas,” ungkap Sri Wahyuni.

(mdk/shr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami