Jadi Pelajaran Berharga, Ini Kata Pengamat UGM tentang Tragedi Kanjuruhan

Jadi Pelajaran Berharga, Ini Kata Pengamat UGM tentang Tragedi Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan. ©YouTube/Liputan6
JATENG | 4 Oktober 2022 16:08 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Tragedi Kanjuruhan yang terjadi di Malang (1/10) lalu membawa duka bagi bangsa. Peristiwa kerusuhan suporter sepak bola itu juga mendapat banyak sorotan dari dunia internasional karena akan menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola dunia. Sejumlah remaja, perempuan, ibu-ibu, anak-anak, hingga balita turut jadi korban dalam peristiwa itu.

Menanggapi peristiwa itu, pengamat pembangunan sosial dan kesejahteraan UGM, Dr. Hempri Suyata., S.Sos., M.Si mengatakan bahwa suporter sepak bola memiliki karakter tersendiri. Bagi Hempri, mereka memiliki karakter unik dan semangat fanatisme yang luar biasa.

“Bagi mereka, sepak bola adalah harga diri dan martabat daerah atau martabat bangsa,” kata Hempri, mengutip dari Ugm.ac.id pada Selasa (4/10). Berikut selengkapnya:

2 dari 3 halaman

Harus Pendekatan Persuasif

tragedi kanjuruhan

©YouTube/Liputan6

Hempri menjelaskan, para suporter sepak bola rela berkorban waktu, uang, dan tenaga untuk mendukung tim kebanggaan mereka. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus menjual barang yang dimiliki agar dapat menonton tim kesayangan mereka berlaga.

Oleh karena itu, bagi Hempri kunci utama dalam memberikan pola-pola pengasuhan, pengamanan, atau pengamanan suporter adalah mampu memahami karakteristik mereka. Di sini pola pendidikan persuasif harus diutamakan.

“Kalau kasus di Kanjuruhan justru pendekatan represif yang dikedepankan. Penggunaan pentungan dan gas air mata yang sudah jelas dilarang FIFA ternyata justru masih digunakan,” kata Hempri.

3 dari 3 halaman

Jadi Pelajaran Berharga

tragedi kanjuruhan
©YouTube/Liputan6

Bagi Hempri, kasus di Kanjuruhan bisa menjadi pelajaran berharga bagaimana dimensi sosial suporter seharusnya jadi pertimbangan dalam melakukan pola penanganan suporter. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan banyak pihak.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah soal edukasi suporter dan pendekatan-pendekatan persuasif. Selain itu, pemahaman terkait karakteristik, kultur dan sejarah historis antar suporter seharusnya bisa jadi acuan dalam melakukan pengamanan.

“Kedua, perbaikan fasilitas infrastruktur pendukung. Bagaimana membangun stadion ramah anak, stadion ramah perempuan, stadion ramah lansia, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu perlu dilakukan dan harus dikedepankan,” terang Hempri.

(mdk/shr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini