Kampungnya Berstatus Lockdown, Begini Prosesi Pernikahan Dua Sejoli di Purbalingga

Kampungnya Berstatus Lockdown, Begini Prosesi Pernikahan Dua Sejoli di Purbalingga
JATENG | 8 April 2020 19:00 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Merebaknya virus Corona membuat banyak warga menjadi resah. Mereka menutup akses jalan menuju desa mereka sebagai bentuk pencegahan dan penyebaran virus Corona. Bahkan di blokade jalan itu mereka menuliskan kata 'Lockdown'.

Hal ini juga terjadi di Desa Gunungwuled, Purbalingga. Lockdown dilakukan desa itu setelah ada seorang warganya yang positif terkena COVID-19. Namun, masalahnya ada sepasang kekasih di sana yang hendak melangsungkan pernikahan. Mereka adalah Ryan dan Tiwi.

Karena status lockdown yang sedang diterapkan di desa mereka, akhirnya mereka harus melangsungkan pernikahan dengan cara yang berbeda. Berikut selengkapnya:

1 dari 4 halaman

Tak Ada Tamu Undangan

pernikahan di tengah wabah corona

2020 liputan6.com

Pernikahan antara Ryan dan Tiwi dilaksanakan di halaman Balai Desa Gunungwuled pada Rabu (1/4). Acara itu tidak dihadiri tamu undangan dan dekorasi yang diadakan juga seadanya.

Dilansir dari Liputan6.com, sarana akad nikah pada prosesi itu juga sederhana. Di sana hanya ada sebuah meja kayu serta kursi plastik untuk mempelai, penghulu, saksi, perwakilan keluarga, dan juga pemerintah. Selain itu, tersedia hidangkan makanan prasmanan sederhana sebagai bentuk rasa syukur pada Yang Maha Kuasa.

2 dari 4 halaman

Menggunakan APD

pernikahan di tengah wabah corona

2020 liputan6.com

Dalam prosesi pernikahan itu, kedua mempelai mengenakan APD berupa jas hujan, masker, dan sarung tangan. Hal yang sama juga dilakukan belasan orang yang hadir dalam prosesi acara tersebut. Selain itu, posisi duduk mereka juga diatur sesuai dengan anjuran pembatasan fisik.

"Pengantin pria dan wanita diberi jarak satu meter, saksi diberi jarak dua meter dari meja pengantin, keluarga yang berjumlah 5 orang duduk lebih jauh di belakang pengulu, jadi yang berdekatan hanyalah pengantin pria dan wali," ujar Kepala Desa Gunungwelud pada Rabu (8/4).

3 dari 4 halaman

Sempat Ditolak Warga

Rombongan mempelai putra sampai di Gunungwuled pada 28 Maret 2020. Saat itu mereka harus segera menuju ke Dusun Bawahan, tempat akan dilangsungkan pernikahan. Sayangnya waktu itu Dusun Bawahan sedang menerapkan kebijakan Lockdown.

Dilansir dari Liputan6.com, pada saat tiba di Dusun Bawahan mereka dicegat petugas tanggap COVID-19. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, mereka digiring ke posko penanggulangan COVID-19 di balai desa.

4 dari 4 halaman

Mempelai Perempuan Langsung Diboyong ke Lampung

pernikahan di tengah wabah corona

2020 liputan6.com

Karena ditolak warga, resepsi pernikahan yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 April resmi dibatalkan. Namun, setelah dilakukan proses dialog, akhirnya diputuskan pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana di depan balai desa. Resepsi pernikahannya sendiri ditunda sampai tahun depan.

Dilansir dari Liputan6.com, setelah resepsi itu selesai, keluarga mempelai pria beserta mempelai putri langsung diboyong ke Lampung. Pemerintah desa pun memperbolehkan karena mempelai perempuan itu bukan termasuk warga yang kontak langsung dengan pasien.

(mdk/shr)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami