Kisah Perjuangan dr. Kariadi, Pahlawan Medis Pertempuran Lima Hari Semarang

Kisah Perjuangan dr. Kariadi, Pahlawan Medis Pertempuran Lima Hari Semarang
Dokter Kariadi. ©Kemenkes.go.id
JATENG | 18 Oktober 2021 12:00 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Di Semarang, ada sebuah rumah sakit yang cukup besar. Namanya RSUP dr. Kariadi. Didirikan pada tahun 1925, rumah sakit itu menjadi yang terbesar se-Jawa Tengah. Rumah sakit itu menjadi semakin vital perannya dalam penanganan pandemi COVID-19 di Provinsi Jateng dan sekitarnya.

Nama rumah sakit itu tak lepas dari tokoh dr. Kariadi yang merupakan seorang pahlawan medis pada masanya. Tepatnya pada saat pertempuran 5 hari di Kota Semarang yang meletus pada 15-19 Oktober 1945.

Sehari sebelum hari pertama pertempuran, tersiar kabar bahwa Reservoir Siranda yang merupakan sumber air satu-satunya di Kota Semarang, telah diracuni tentara Jepang. Selepas Magrib, dr. Kariadi yang saat itu menjabat sebagai Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara (sekarang RSUP Dr. Kariadi) mendapat telepon dari pimpinan rumah sakit agar memeriksa sumber air tersebut.

Waktu itu suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan pada beberapa titik di Kota Semarang. Istri dr. Kariadi, drg. Soenarti, mencoba mencegah suaminya karena situasi genting itu. Namun dr. Kariadi tetap pada pendiriannya untuk pergi ke Reservoir Siranda karena hal itu menyangkut nyawa ribuan warga Semarang.

Berikut kisah perjuangan dr. Kariadi, tokoh perjuangan dalam pertempuran 5 hari di Kota Semarang.

2 dari 4 halaman

Sosok dr. Kariadi

dokter kariadi
©Kemenkes.go.id

Kariadi lahir di Kota Malang pada 15 September 1905. Pada tahun 1921, ia berhasil memasuki Nederlansch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya dan lulus pada tahun 1931.

Setelah lulus, dr. Kariadi bekerja sebagai asisten tokoh pergerakan nasional, dr. Soetomo di CBZ Surabaya. Tiga tahun kemudian, ia ditugaskan ke Manokwari, Papua.

Dalam kehidupan asmaranya, dr. Kariadi menikah dengan drg. Soenarti, lulusan STOVIT (sekolah kedokteran gigi) Surabaya yang juga merupakan dokter gigi pribumi pertama di Indonesia.

Setelah bertugas tiga tahun di Manokwari, ia dipindahkan ke Banyumas, lalu kemudian ke Martapura. Pada 1 Juli 1942, dr. Kariadi ditugaskan sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) Semarang.

3 dari 4 halaman

Rela Berkorban Demi Nyawa Ribuan Orang

kariadi semarang
©2016 Merdeka.com

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, berbagai perang kemerdekaan pecah di banyak tempat tak terkecuali di Semarang. Pada 13 Oktober 1945, suasana Semarang memanas. Tentara Jepang yang masih bercokol di kota itu tak mau menyerahkan senjata pada tentara Indonesia.

Pada 14 Oktober 1945, pasukan Jepang melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi yang berjaga di Reservoir Siranda, sumber air minum bagi warga Kota Semarang.

Tak hanya melucuti anggota polisi, saat itu tersiar kabar pula bahwa pasukan Jepang telah menebarkan racun ke sumber air itu. Menjelang Magrib, dr. Kariadi diminta memeriksa Reservoir Siranda karena adanya berita tersebut.

Saat hendak berangkat, istrinya mencoba mencegah suaminya pergi. Namun usaha itu gagal karena dr. Kariadi tetap pada pendiriannya karena hal itu menyangkut ribuan nyawa warga Semarang.

Saat tengah malam, Soenarti mendapat kabar bahwa suaminya telah ditembak tentara Jepang dan nyawanya tidak tertolong. Soenarti menangis seketika. Sementara di rumah sakit, jasad dr. Kariadi terbaring dengan luka tembak yang sangat serius.

Pada malam hari itu, dr. Kariadi ditembak oleh tentara Jepang bersama pasukan tentara pelajar yang menumpangi mobil. Saat dibawa ke rumah sakit pada pukul 23.30, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak terselamatkan. Ia meninggal dunia dalam usia 40 tahun.

4 dari 4 halaman

Awal Mula Pertempuran Semarang

tugu muda semarang
©2013 Merdeka.com

Berita tewasnya dr. Kariadi menyebar cepat dan menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya, terjadi pertempuran di berbagai penjuru Semarang yang menyebabkan korban tewas berjatuhan. Pertempuran itu berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000 orang Indonesia dan 850 orang Jepang.

Karena kondisi darurat itu, jenazah dr. Kariadi baru bisa dimakamkan pada 17 Oktober 1945 di tengah hingar bingar tembakan musuh. Pada 5 November 1961, kerangka jenazahnya dipindah dari halaman rumah sakit ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang.

Menurut putrinya, Prof. Dr. Sri Hartini K.S Kariadi, ia ikut sempat memeriksa tulang belulang ayahnya yang terdapat retakan membentuk celah. Diduga sebelum ditembak, dr. Kariadi sempat menerima pukulan benda tajam.

(mdk/shr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami