Mengenal Kampung Jamu Gendong Semarang, Sentra Rempah yang Makin Laris Karena Corona

Mengenal Kampung Jamu Gendong Semarang, Sentra Rempah yang Makin Laris Karena Corona
JATENG | 19 Maret 2020 15:17 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Jumlah penderita Virus Corona di Indonesia makin bertambah. Hal ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Mereka melakukan berbagai macam cara agar tak tertular virus COVID-19 itu. Salah satunya adalah dengan minum ramuan tradisional atau jamu.

Di Kota Semarang, ada beberapa kampung yang banyak warganya bekerja sebagai peracik jamu, yaitu kampung Sumbersari, Wonopolo Mijen, dan Ngadirgo Mijen. Dilansir dari Liputan6.com, Rabu (18/3), para ibu-ibu di kampung tersebut sudah bangun sejak dini hari untuk meracik jamu.

Karena aktivitas warga itu, kampung tempat mereka tinggal disebut kampung jamu. Karena gelar ini juga, kampung ini mendapat keuntungan saat merebaknya virus corona.

1 dari 5 halaman

Penjaja Jamu Tradisional

kampung jamu gendong semarang

2020 liputan6.com

Warga yang tinggal di kampung Sumbersari, Wonopolo dan Kampung Ngadirgo, Kecamatan Mijen mayoritas berprofesi sebagai pembuat jamu. Di Wonopolo, terdapat 50 orang perajin dan pedagang jamu, sementara itu di Ngadirgo ada 25 orang pengracik dan pedagang jamu.

Salah satu pedagang jamu itu adalah Suhanah. Dia selalu bangun pagi untuk meracik jamu gendong. Menurutnya meracik jamu itu butuh keahlian khusus. Meracik jamu itu tak bisa sembarangan dan butuh ketelatenan khusus.

"Bahan-bahan seperti kunyit, kayu pepet, asam jawa, dan sambiroto harus diracik secara telaten," ujar Suhanah dilansir Liputan6.com, Rabu (18/3).

2 dari 5 halaman

Menjajakan Jamu dengan Cara Digendong

kampung jamu gendong semarang

2020 liputan6.com

Setelah jamu selesai dibuat, mereka kemudian menjajakannya keliling kampung. Pada awal kemunculannya, mereka menjajakan jamu dengan cara digendong. Hal ini menjadi pemandangan yang menarik untuk dilihat. Namun seiring berkembangnya sarana moda transportasi, mereka mulai menjajakan jamu dengan sepeda atau kendaraan bermotor.

Pada awalnya, usaha jamu dirintis oleh ibu-ibu di tempat itu karena mereka menganggur di saat suaminya bekerja. Diawali ibu-ibu yang menganggur dan mencoba berdagang jamu gendong.

"Ternyata hasilnya luar biasa. Bahkan hasil penjualannya menjadi penopang utama kampung ini," ujar Kholidi, Ketua Paguyuban Jamu Gendong Sumber Husodo, dilansir dari Liputan6.com, Rabu (18/3).

3 dari 5 halaman

Bahan Jamu Ditanam di Pekarangan

Seiring berjalannya waktu, ibu-ibu di kampung Ngadirgo dan Wonopolo tidak hanya menjajakan jamu, tapi mereka juga menanam bahan-bahan mentahnya. Mereka menanam rempah, sebagai bahan dasar jamu, di pekarangan rumah mereka.

rempah

Shutterstock

Di perkarangan itu juga, mereka menanam temulawak, kunyit, kencur, daun papaya, manjakani, cabai jawa, dan bahan-bahan lainnya.

4 dari 5 halaman

Omset Meningkat Karena Virus Corona

kampung jamu gendong semarang

2020 liputan6.com

Setiap hari, para penjual jamu itu membawa 15-20 liter jamu gendong. Bahkan bagi yang menjajakan jamu menggunakan sepeda motor, mereka sanggup membawa 70 liter jamu per hari. Dilansir dari Liputan6.com, Kholidi menyebut saat berjualan mereka membawa aneka jamu seperti beras kencur, gula asem, cabai puyang, daun papaya, brotowali, dan lainnya.

Segelas jamu gendong biasanya dihargai Rp2.000 - 3.000. Sementara itu dalam sehari Suhanah bisa mendapatkan Rp 150-200 ribu dari penjualan jamu itu. Namun belakangan omset itu meningkat karena jamu semakin dicari setelah merebaknya Virus Corona.

5 dari 5 halaman

Dikemas secara Tradisional dan Ramah Lingkungan

kampung jamu gendong semarang

2020 liputan6.com

Tidak hanya menanam dan menjualnya saja, para penjual jamu di kampung ini juga meracik sendiri dagangan mereka. Ketika sudah masak, jamu harus segera dimasukkan ke dalam botol kaca yang sudah diberi garam. Jamu tidak boleh dimasukkan ke dalam botol kaca maupun plastik karena berbahaya.

"Memasukkannya ke dalam botol plastik dapat merusak kualitas jamu dan menimbulkan penyakit akibat reaksi kimia. Jamu itu dibuat untuk membuat orang sehat, bukan penyakitan," ujar Suhanah.

Menurut Kholidi, pemilihan usaha jamu di kampungnya telah mendatangkan manfaat. Salah satu manfaat itu digunakan untuk penataan lingkungan kampung jamu agar terlihat rapi, bersih, dan menarik.

(mdk/shr)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menjawab Keluhan, Menyiasati Keadaan - MERDEKA BICARA with Ganjar Pranowo

5