Perpaduan Tradisi dan Dakwah Islam, Ini 4 Fakta Nyadran dalam Budaya Jawa

Perpaduan Tradisi dan Dakwah Islam, Ini 4 Fakta Nyadran dalam Budaya Jawa
Ritual Nyadran. ©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa
JATENG | 7 April 2021 14:42 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa banyak yang berkunjung ke makam-makam. Di sana mereka mendoakan para leluhur, membersihkan makam, menaburkan bunga, dan mengadakan acara kenduri. Di kalangan masyarakat Jawa, tradisi unik itu dikenal dengan nama Nyadran.

Dilansir dari Ngawikab.id, kata “Nyadran” berasa dari Bahasa Sansekerta, “sraddha” yang berarti keyakinan. Nyadran biasanya dilakukan pada hari ke-10 Bulan Rajab atau di awal Bulan Sya’ban.

Dalam tradisi itu, masyarakat akan berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal. Setelah berdoa, mereka menggelar makan bersama, di mana makanan yang disajikan merupakan makanan tradisional seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan daun rempah, tempe, tahu bacem, dan lain sebagainya. Lantas seperti apa sejarah tradisi itu bermula?

2 dari 5 halaman

Sudah Ada Sejak Zaman Hindu Buddha

ritual nyadran

©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Dilansir dari Ngawikab.id, tradisi Nyadran sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha. Sejak abad ke-15, para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya agar Islam mudah diterima.

Pada waktu itu, para Walisongo berusaha meluruskan kepercayaan masyarakat Jawa waktu itu tentang pemujaan roh yang dalam Islam dinilai musyrik. Namun, agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa, mereka tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam seperti membaca Alquran, tahlil, dan doa.

3 dari 5 halaman

Punya Ciri Khas

ritual nyadran©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Dilansir dari Menpan.go.id, masing-masing daerah di tanah Jawa memiliki ciri khas masing-masing dalam menyelenggarakan adat ini. Biasanya dalam upacara ini, masyarakat di beberapa daerah membersihkan makam sambil membawa bungkusan makanan hasil bumi yang disebut sadranan.

Namun tidak semua masyarakat Jawa selalu membawa sadranan ke makam. Di Kecamatan Muntilan, Magelang, masyarakat tidak membawa sadranan saat membersihkan makam. Sehari setelah pembersihan makam, mereka baru menyajikan makanan saat doa bersama untuk mendoakan para leluhur yang telah berjuang di masa lalu.

4 dari 5 halaman

Diwariskan Secara Turun Temurun

ritual nyadran©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Dalam upacara Nyadran yang dilaksanakan di Makam Petompon, Kelurahan Petompon, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang pada tahun 2016, warga sekitar tampak antusias mengikuti acara tersebut.

Antusias warga terlihat di mana mereka memenuhi kawasan makam dan sekitarnya. Tak hanya orang tua, anak-anak dan remaja tampak turut hadir dalam acara itu.

“Tradisi ini selalu digelar setiap tahunnya, sebab tradisi ini sudah turun temurun. Acara ini juga membantu memperkenalkan pada generasi selanjutnya serta memperkuat tradisi Jawa meskipun banyak sekali pengaruh asing yang dapat menghilangkan tradisi ini,” ujar Hermani, salah satu warga yang mengikuti acara itu, dikutip dari Liputan6.com.

5 dari 5 halaman

Makna Nyadran Bagi Masyarakat Jawa

ritual nyadran©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Dilansir dari Menpan.go.id, masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya bahwa membersihkan makam merupakan simbol dari pembersihan diri menjelang bulan suci.

Bukan hanya sebagai bentuk hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, namun juga sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur.

Telah dijaga selama ratusan tahun khususnya pada masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, upacara ini selalu menghadirkan rasa hangatnya persaudaraan dan kerukunan.

(mdk/shr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami