Singkatan Almarhumah dan Maknanya dalam Agama Islam, Perlu Diketahui

Singkatan Almarhumah dan Maknanya dalam Agama Islam, Perlu Diketahui
ilustrasi sholat jenazah. ©2018 arrahmah.co.id
JATENG | 26 Januari 2022 12:01 Reporter : Ayu Isti Prabandari

Merdeka.com - Almarhum dan almarhumah merupakan sebutan yang sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya ini banyak dilakukan oleh masyarakat muslim untuk menyebut orang yang sudah meninggal. Sebutan almarhum ditujukan pada orang meninggal berjenis kelamin laki-laki, sedangkan almarhumah digunakan untuk perempuan yang meninggal.

Dalam penulisan, kedua sebutan ini sering dituliskan dengan singkatan, yaitu “alm.” untuk singkatan almarhum dan “almh” untuk singkatan almarhumah. Ternyata bukan sekedar sebutan, almarhum dan almarhumah ini memiliki makna tersendiri dalam agama Islam. Di mana sebutan ini berisi doa baik untuk orang yang sudah meninggal.

Meskipun kerap diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun penting bagi masyarakat untuk memahami makna sebenarnya dari sebutan almarhum dan almarhumah. Sebab, dalam agama Islam, tidak setiap orang yang meninggal bisa diberikan kedua sebutan tersebut, khususnya bagi orang kafir.

Selain memahami pengertian dasar dan penggunaannya, Anda juga perlu mengetahui beberapa dasar dalil yang menjelaskan tentang penggunaan sebutan almarhum dan almarhumah. Dengan memahami beberapa hal ini, Anda bisa mengerti apa makna dari sebutan tersebut dan kapan bisa menggunakan sebutan tersebut dengan tepat.

Dilansir dari beberapa sumber, berikut kami merangkum penjelasan mengenai singkatan almarhumah dan almarhum, pengertian, penggunaan, hingga dasar hukum dalam agama Islam, yang bisa Anda simak.

2 dari 3 halaman

Singkatan Almarhum dan Almarhumah serta Pengertiannya

ilustrasi sholat
©2021 Merdeka.com/pexels-thirdman

Seperti disebutkan sebelumnya, dalam penulisan almarhum dan almarhumah sering kali disingkat. Sebutan almarhum sering disingkat dengan “alm.” sedangkan singkatan almarhumah ditulis dengan “almh.” Baik almarhum dan almarhumah dipahami sebagai sebutan untuk orang yang telah meninggal. Namun dalam Bahasa Arab, kedua sebutan ini hanya berarti laki-laki dan perempuan yang dikasihi dan dirahmati Allah.

Meskipun telah terjadi perubahan makna, namun baik sebutan almarhum maupun almarhumah, memang berisi doa kebaikan yang ditujukan pada orang yang telah meninggal. Sebagai contoh, jika Anda mengucapkan almarhum Buya Hamka, maka mempunyai arti, semoga Allah merahmati dan mengasihi Buya Hamka.

Dengan begitu, dapat dipahami bahwa almarhum dan almarhumah tidak hanya sebagai sebutan untuk orang yang meninggal, namun sekaligus berisi doa yang menjadi harapan baik untuk orang tersebut. Hingga kini, menyebut orang yang sudah meninggal dengan almarhum dan almarhumah sudah menjadi budaya tersendiri, termasuk di Indonesia yang mayoritas adalah masyarakat beragama Islam.

3 dari 3 halaman

Penggunaan Sebutan Almarhum dan Almarhumah dan Dalilnya

ilustrasi sholat jenazahtrtworld.com

Setelah mengetahui singkatan almarhumah dan almarhum, berikutnya perlu dipahami tetang cara penggunaan sebutan tersebut. Tidak semua orang meninggal dapat disebut dengan sebutan almarhum dan almarhumah. Dalam agama Islam, sebutan ini biasanya digunakan untuk orang yang beriman, dan tidak untuk orang kafir.

Adapun, orang kafir yang sudah meninggal, cukup dipanggil dengan sebutan “mendiang”. Dalam hal ini, orang kafir diyakini mati dalam keadaan kafir yang akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Orang-orang yang kafir juga hidup kekal dalam hukuman tersebut.

Sementara orang yang beriman, diyakini akan meninggal dalam keadaan Islam yang dirahmati Allah. Sehingga orang beriman termasuk golongan yang pantas mendapatkan sebutan almarhum dan almarhumah beserta doa baik di dalamnya.

Penjelasan tersebut tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 161-162, yaitu sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” [QS. al-Baqarah (2): 161-162]

Selain itu, adapa pula ayat lain dalam Surat Al-Baqarah juga menjelaskan lebih lanjut mengenai golongan orang kafir dan hukuman yang didapatkan, yaitu sebagai berikut:

"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. al-Baqarah (2): 217]

Dari Surat Al-Baqarah ayat 217, dapat dipahami bahwa orang yang murtad atau keluar dari agama Islam, kemudian mati dalam keadaan kufur, maka seluruh amalannya akan dianggap sia-sia dan tidak diterima. Orang golongan ini akan masuk sebagai penghuni neraka secara kekal atau abadi.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Anda dilarang menyebut orang yang mati dalam keadaan kafir dengan sebutan almarhum dan almarhumah. Sedangkan umat muslim yang mati dalam keadaan Islam, dianjurkan untuk memanggilnya dengan sebutan almarhum bagi laki-laki dan almarhumah bagi perempuan.

Meskipun tidak tahu masa lalunya semasa hidup, namun sebutan tersebut sah diucapkan karena orang tersebut mati dalam agama Islam. Ini berarti orang tersebut termasuk orang yang saleh atau orang yang fasiq. Dengan memberikan sebutan tersebut, Anda turut mendoakan agar orang yang meninggal bisa mendapatkan rahmat dan kasih dari Allah.

(mdk/ayi)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami