Wali Murid di Kulon Progo Diduga Diintimidasi Gara-gara Seragam, Ini 3 Faktanya

Wali Murid di Kulon Progo Diduga Diintimidasi Gara-gara Seragam, Ini 3 Faktanya
Ilustrasi penyekapan. ©2022 Merdeka.com/liputan6.com
JATENG | 4 Oktober 2022 14:06 Reporter : Shani Rasyid

Merdeka.com - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengusut kasus dugaan intimidasi dan penyekapan seorang wali murid SMAN 1 Wates di Kantor Satpol PP Kulon Progo. Wadir Reskrimum Polda DIY AKBP Tri Panungko mengatakan bahwa terkait kasus tersebut polisi masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan sejumlah saksi.

“Saat ini kami sedang melakukan pemanggilan-pemanggilan. Jadi proses penyelidikan masih kami laksanakan pemeriksaan saksi-saksi. Nanti kalau sudah cukup kami akan lakukan penahanan,” kata Tri dikutip dari ANTARA pada Senin (3/10).

Lantas apa gerangan yang terjadi terkait dugaan kasus tersebut? Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Dugaan Intimidasi

ilustrasi penyekapan

©2022 Merdeka.com/liputan6.com

Dalam laporannya ke Polda DIY, pengacara publik LBH Yogyakarta Era Hareva mengungkapkan salah satu wali murid SMAN 1 Wates diduga mendapat intimidasi dan penyekapan dari pihak SMA dan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat.

Menurutnya, dugaan intimidasi serta penyekapan tersebut bermula dari beberapa murid yang memprotes dan mempertanyakan pengadaan seragam yang harganya mahal tapi tidak sebanding dengan kualitasnya.

Setelah protes itu, salah satu wali murid, Agung Purnomo, tiba-tiba dihubungi dan diminta datang ke Kantor Satpol PP Kulon Progo. Saat tiba di kantor Satpol PP, Agung melihat ada beberapa orang di dalam ruangan, antara lain pihak dari SMAN 1 Wates dan Satpol PP Kulon Progo.

“Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, dengan suasana yang tidak kondusif, korban merasa terintimidasi apalagi dalam posisi sendirian. Wali murid itu diancam karena telah membuat kegaduhan dan akan mencemarkan nama baik sekolah,” kata Era.

3 dari 4 halaman

Tanggapan Pemkab Kulon Progo

Perihal peristiwa ini, Pejabat Bupati Kulon Progo Tri Saktiyana mengatakan bahwa peristiwa itu sebagai konflik antar sesama wali murid dan ASN. Menurutnya, sebanyak sembilan orang di ruang Satpol PP itu berstatus ASN.

Selain Agung Purnomo yang merupakan ASN di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) Kulon Progo, sejumlah orang dalam peristiwa itu juga berstatus wali murid di SMAN 1 Wates. Ia menilai tak ada intimidasi dalam peristiwa itu.

“Nanti ada inspektorat daerah menelisik kondisinya. Kami minta inspektorat membantu sebenarnya seperti apa,” kata Tri Saktiyana.

4 dari 4 halaman

Butuh Waktu

ilustrasi waktu
© ideachampions.com

Terkait dengan kasus ini, polisi menginstruksikan Pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan orang. Namun terkait penyelidikan kasus ini, Tri Panungko mengatakan polisi masih butuh waktu. Apalagi butuh lebih dari satu orang untuk melengkapi keterangan yang dibutuhkan.

“Dalam pemanggilan saksi itu tentunya kami tidak sekali panggil mereka langsung datang, karena mungkin ada keperluan-keperluan dari pihak para saksi sehingga kami kadang waktunya agak lama,” kata Tri.

(mdk/shr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini