1 Agustus 1927: Pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, Ini Kisahnya

1 Agustus 1927: Pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, Ini Kisahnya
4.000 Tenaga medis Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok saat dikerahkan membantu penanganan Covid-19. ©2020 REUTERS
JATIM | 1 Agustus 2022 05:00 Reporter : Edelweis Lararenjana

Merdeka.com - 1 Agustus 1927 menandai terbentuknya Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army) di Tiongkok. Ini adalah salah satu kekuatan militer terbesar di dunia. Disebut juga sebagai Tentara Rakyat, kesatuan militer ini berada langsung di bawah komando Partai Komunis Tiongkok.

Hal ini jugalah yang membedakannya dengan angkatan militer di negara lain yang notabene dipegang oleh pemerintah yang sedang berkuasa. Tentara Pembebasan Rakyat adalah organisasi terpadu yang berisi angkatan laut, darat dan udara Tiongkok.

Tentara Pembebasan Rakyat ini berakar dari Pemberontakan Nanchang tahun 1927 oleh komunis melawan Nasionalis. Awalnya disebut Tentara Merah, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok tumbuh di bawah kepemimpinan Mao Zedong dan Zhu De dari jumlah 5.000 orang tentara pada tahun 1929 menjadi 200.000 orang tentara pada tahun 1933.

Berikut ulasan selengkapnya yang menarik diketahui mengenai pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok yang didirikan pada hari ini, 1 Agustus 1927 silam.

2 dari 3 halaman

Asal Mula dari Pemberontakan Nanchang

Peristiwa Pemberontakan Nanchang pada 1 Agustus 1927 adalah awal mula terbentuknya Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Pemberontakan Nanchang merupakan aksi keterlibatan Partai Nasionalis Tiongkok dengan Partai Komunis Tiongkok pertama dan terbesar dalam sejarah Perang Saudara Tiongkok, yang dimulai oleh Komunis Tiongkok untuk melawan pembantaian Shanghai tahun 1927 oleh Kuomintang.

Sayap kiri Kuomintang (KMT) membentuk "Komite Revolusioner" di Nanchang untuk menyalakan api yang diperkirakan akan memicu pemberontakan petani yang meluas. Para pemimpin politik yang ada pada aksi tersebut di antaranya adalah Deng Yanda, Song Qingling, dan Zhang Fakui.

Pasukan militer di Nanchang di bawah kepemimpinan He Long dan Zhou Enlai memberontak dalam upaya untuk merebut kendali kota setelah berakhirnya aliansi Kuomintang-Komunis yang pertama. Pemimpin penting lainnya yang ada dalam pemberontakan ini adalah Zhu De, Ye Ting, dan Liu Bocheng.

Pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan dan kekuatan pemberontak yang tersisa lantas bersatu membentuk kesatuan militer dengan nama Tentara Revolusioner Petani dan Buruh Tiongkok. Tahun 1928, nama tentara ini berubah menjadi Tentara Merah Petani dan Buruh Tiongkok.

Pada saat terjadinya invasi Jepang tahun 1937, Tentara Merah dipersatukan di bawah komando Tentara Nasionalis menjadi Angkatan Darat Rute Kedelapan. Pada 1945, Komandan Angkatan Darat Rute Kedelapan, Zhu De menyerukan perlawanan hidup atau mati terhadap Jepang, yang mana dalam pidatonya ia pertama kali mengucapkan istilah Tentara Pembebasan Rakyat.

Tahun 1946, terjadi peristiwa perang saudara antara pihak komunis dengan nasionalis. Unit-unit tentara yang tadinya merupakan kekuatan komunis segera melepaskan diri dari komando nasionalis dan membentuk kesatuan tentara dengan nama Tentara Pembebasan Rakyat sampai sekarang. Pada 1 Agustus kemudian dianggap sebagai hari berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan aksi pertama melawan Kuomintang dan Tentara Revolusioner Nasional (NRA).

3 dari 3 halaman

Pasukan Militer Terbesar di Dunia Ketiga

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok adalah aktor global yang membentuk kembali lanskap geopolitik, menggeser keseimbangan kekuatan di kawasanIndo-Pasifik, dan menekankan komitmen dan hubungan keamanan global Amerika dengan sekutu dan mitra.

Melansir aljazeera.com, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok kini telah tumbuh menjadi kekuatan tempur terbesar di dunia, dengan lebih dari dua juta personel aktif. Terlebih di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Tiongkok menjadi lebih tegas secara diplomatis dan menunjukkan keinginan yang meningkat untuk mendukung klaimnya atas wilayah yang disengketakan dengan demonstrasi kekuatan militernya.

Negara-negara tetangga di Asia dan juga Amerika Serikat telah mengawasi pergerakan militer Tiongkok ini dengan cermat. Pasukan darat Tentara Pembebasan Rakyat secara tradisional menjadi fondasi Tiongkok untuk menegaskan kekuasaan di wilayah tersebut. Dalam jajarannya, ada lebih dari 915.000 tentara tugas yang aktif.

Persenjataannya para tentara juga dilengkapi dengan senjata berteknologi tinggi. Pada tahun 2019, rudal balistik antarbenua DF-41, yang menurut para ahli dapat menghantam setiap sudut dunia, diluncurkan selama parade militer Hari Nasional. Ada juga rudal hipersonik DF-17 yang menarik perhatian banyak orang.

Angkatan lautnya juga menjadi angkatan laut terbesar di dunia, menurut buku putih pertahanan pemerintah, dan kapal selamnya memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal bersenjata nuklir. Untuk mendukung angkatan laut, Tiongkok juga memiliki apa yang disebut milisi maritim, yang didanai oleh pemerintah dan dikenal sebagai “little blue men” yang aktif di Laut China Selatan. Tahun 2021 kemarin Beijing juga telah mengizinkan penjaga pantainya untuk menembaki kapal asing.

(mdk/edl)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini