Ada Soto hingga Rawon, Ini Kisah Makanan Jatim Jadi Perjamuan Khusus di Istana Negara

Ada Soto hingga Rawon, Ini Kisah Makanan Jatim Jadi Perjamuan Khusus di Istana Negara
7 Resep Rawon Daging Sapi Empuk dan Gurih, Sajian Lezat Khas Bumbu Rempah. ©2021 Merdeka.com
JATIM | 26 Oktober 2021 10:30 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Beragam makanan khas Jawa Timur (Jatim) menjadi perjamuan khusus di Istana Negara pada acara puncak Kemerdekaan RI ke-60 tahun 2015 lalu. Ketua Forum Intelektual 45 Jatim saat itu, Achmad Zaini menceritakan awal mula keterlibatan makanan Jatim pada acara spesial tersebut.

Saat jamuan makan dalam acara audiensi Bersama Forum Intelektual 45 yang digelar Maret 2015, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan bahwa dirinya menyukai makanan-makanan asal Jatim.

“Presiden bercerita, kalau ia suka makanan Jawa Timur seperti rawon, sate, pecel dan soto. Dan beliau ingin pada acara puncak di Istana, makanan tersebut juga dihadirkan,” terang Zaini.

2 dari 4 halaman

Persiapan Singkat

Dua bulan sebelum kemerdekaan, Zaini mengoordinasikan keinginan Presiden SBY dengan protokol istana.

“Saat saya sampaikan, bahwa bapak Presiden punya keinginan untuk menampilkan makanan khas tersebut, langsung saat itu saya dibuatkan surat resmi,” ungkapnya, mengutip dari Majalah Mossaik (Oktober 2005, hlm. 57).

Usai menerima surat resmi dari panitia peringatan HUT RI pada 8 Agustus 2005, pada hari yang sama Zaini berburu makanan kesukaan presiden.

“Saya mencari langsung pemilik rawon Embong Malang lebih dulu,” lanjutnya.

Meskipun membawa surat resmi, ternyata tidak mudah meyakinkan para penjual makanan yang ia incar. “Mereka rata-rata bilang masih mikir-mikir, apalagi makanan masuk Istana kan tidak gampang,” lanjut Zaini.

3 dari 4 halaman

Ajak Penjual ke Istana

rombongan penjual makanan khas jatim berangkat ke istana negara©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim

Akhirnya, pada 16 Agustus 2005, Zaini dan rombongan penjual makanan khas Jatim berangkat ke Istana Negara dengan menggunakan armada bus. Zaini mengaku mengajak langsung penjualnya untuk menjaga cita rasa makanan.

“Kata orang kalau beda tangan, rasanya tidak sama,” ujarnya.

Sesampainya di Jakarta, rombongan tidak bisa langsung masuk ke Istana Negara. Mereka menempati mess untuk menyiapkan makanan.

“Penjagaan sangat ketat, semua makanan sebelum disajikan harus melalui tes laboratorium dari tim kepresidenan,” lanjut Zaini.

Rasa Lelah karena menempuh perjalanan jauh terbayar ketika makanan Jatim yang malam itu tampil sederhana justru menjadi idola para tamu undangan.

“Tampilan yang tradisional menggunakan daun pisang disemat dengan lidi, rupanya mengundang penasaran tamu yang datang,” imbuhnya.

4 dari 4 halaman

Laris Manis

Hampir semua Duta Besar khususnya dari negara-negara Islam merasakan sajian istimewa khas Jatim. “Semua menteri juga rela ikut ngantre,” ujar Zaini.

Zaini yang turut melayani para tamu undangan tak menyangka makanan tradisional dari tanah kelahirannya justru laris manis dibandingkan menu makanan lain yang disediakan hotel-hotel besar.

“Setelah acara selesai, Pak SBY minta dibawakan rawon dua piring,” kata Zaini yang menghantarkan langsung pesanan Presiden tersebut.

 

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami