Cara Pemkot Surabaya Cegah Kekerasan Seksual pada Anak, Libatkan Tokoh Masyarakat

Cara Pemkot Surabaya Cegah Kekerasan Seksual pada Anak, Libatkan Tokoh Masyarakat
Ilustrasi Pelecehan Seksual. ©2014 Merdeka.com
JATIM | 9 Agustus 2022 13:55 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Pemerintah Kota Surabaya melibatkan tokoh masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di wilayah setempat.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan pihaknya tengah gencar melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual pada anak di masyarakat.

"Kami berharap dengan adanya sosialisasi ini tokoh masyarakat, kader, RT/RW bisa menyampaikan materi yang sudah kami sampaikan," tutur Maria di Surabaya, Selasa (9/8/2022).

2 dari 4 halaman

Beri Pemahaman

ilustrasi pelecehan seksual terhadap anak

childlinett.org

Sosialisasi yang sudah menjadi agenda rutin itu bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, tokoh agama, Kader Surabaya Hebat (KSH) mengenai penanganan jika terjadi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak.

Selanjutnya, para tokoh masyarakat yang sudah memiliki pemahaman mengenai pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual itu diharapkan menyampaikan informasi kepada masyarakat di lingkungannya melalui kegiatan-kegiatan yang ada. 

"Mungkin lagi kumpul pengajian, arisan dan sebagainya, ilmunya bisa disampaikan oleh para tokoh masyarakat," terang Maria, dikutip dari Antara.

3 dari 4 halaman

Pelaksanaan Sosialisasi

Kegiatan sosialisasi digelar secara bergantian di seluruh kecamatan yang ada di Kota Surabaya. Hingga kini sudah ada 10 kecamatan yang menggelar sosialisasi, di antaranya Kecamatan Pakal, Semampir, Simokerto, dan Wonocolo.

"Dalam setahun kami mengadakan sosialisasi di 10 titik kecamatan dan sudah dilakukan di kecamatan-kecamatan itu," imbuh Maria.

Camat Wonocolo Muslich Hariadi mengungkapkan, pihaknya telah menggelar sosialisasi bertema "Penghapusan Kekerasan di dalam Rumah Tangga" pada Senin (8/8). Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan sekaligus menampung keluhan masyarakat.

4 dari 4 halaman

Minta Warga Berani

ilustrasi pasangan bertengkar

©Shutterstock

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam sosialisasi adalah UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

"Selanjutnya, memberikan sosialisasi bagaimana masyarakat menghadapi warga yang mengalami masalah atau kekerasan dalam rumah tangga, bagaimana cara menyampaikan untuk memberikan solusi atau cara mengingatkannya," jelas Muslich.

Dia mengimbau tokoh masyarakat, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Ketua RT/RW dan masyarakat secara umum harus berani mengingatkan jika ada warga yang mengalami masalah keluarga. Apabila dirasa tidak mampu, warga bisa melapor ke tingkat kelurahan atau kecamatan untuk ditindaklanjuti.

"Ketika ada masalah dalam rumah tangga dampaknya bisa ke anak. Ketika anak dihadapkan dengan kekerasan secara verbal atau non-verbal pasti akan menimbulkan efek buruk. Maka dari itu sosialisasi ini sangat penting," pungkasnya.

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini