Ini Dampak Lockdown yang Akan Terjadi Apabila Diterapkan di Indonesia

Ini Dampak Lockdown yang Akan Terjadi Apabila Diterapkan di Indonesia
JATIM | 27 Maret 2020 15:59 Reporter : Edelweis Lararenjana

Merdeka.com - Dalam upaya memerangi pandemi Corona, berbagai negara di dunia telah mengambil serangkaian kebijakan guna melindungi negaranya. Sejauh ini, kebijakan paling ekstrem yang diambil adalah lockdown. Kebijakan lockdown berarti mengunci semua akses keluar masuk di negara atau kawasan tersebut guna mencegah penyebaran COVID-19. Masyarakat pun diatur sedemikian rupa agar tidak berkeliaran dan berkerumun di tempat umum.

Beberapa negara yang telah menerapkan kebijakan lockdown adalah China, Italia, Prancis, dan Malaysia. Penerapan kebijakan ini tentu memiliki dampak dan resikonya masing-masing.

Dan resiko serta dampak tersebut tidaklah kecil. Banyak sektor dalam kehidupan masyarakat berhenti beroperasi. Suasana kota menjadi sepi. Kendaraan tidak banyak lagi yang hilir mudik di jalan. Para warga pun terkunci di dalam rumah, dalam upaya mereka mematuhi perintah social distancing dan karantina mandiri.

Namun hingga saat ini, presiden Indonesia Joko Widodo belum memerintahkan untuk menerapkan kebijakan lockdown. Hal ini berkaitan dengan dampak lockdown yang akan muncul.

1 dari 3 halaman

Mengapa Kebijakan Lockdown Belum Diterapkan di Indonesia?

lockdown

2020 Merdeka.com

Presiden Jokowi sejauh ini baru menerapkan kebijakan social distancing dan work from home (bagi sebagian perusahaan) guna merespon persebaran virus Corona yang kian meluas di Indonesia. Meski wacana mengenai lockdown sudah banyak disarankan, namun Jokowi berpendapat hal itu belum perlu. Hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah dengan mengurangi mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Masyarakat diimbau agar tidak berada dalam kerumunan.

Mengapa lockdown belum diterapkan di Indonesia? Alasan utamanya tentu adalah ekonomi. Lockdown berarti menutup total akses dari segala penjuru, di seluruh lapisan masyarakat. Aktivitas ekonomi akan lumpuh. Dan ini adalah dampak lockdown terburuk bagi Indonesia.

2 dari 3 halaman

Dampak Lockdown Bagi Ekonomi Negara

Dikutip dari artikel yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia, dari segi pelaku sektor produksi, perekonomian Indonesia didominasi oleh UMKM. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, pada 2019, entitas produksi Indonesia didominasi UMKM, yaitu 99,99 persen dari total jumlah unit usaha yang ada. Sementara itu, dari sisi nilai tambah, UMKM menyumbang sekitar 63 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dari segi ukuran jumlah pekerja dan omzet, yang terkecil adalah usaha mikro dengan kontribusi nilai tambah sekitar 34 persen PDB. Sementara secara entitas berjumlah sekitar 98 persen dari 63 juta jumlah total unit usaha yang ada, termasuk perusahaan besar.

Tidak seperti pegawai di perkantoran, bagi usaha mikro dan pekerjanya, hidup adalah dari hari ke hari dengan mengandalkan omzet dan pendapatan harian. Omzet usaha mikro per tahun rata-rata sekitar Rp76 juta, berarti Rp6 juta sebulan atau Rp200.000 per hari.

Penjual di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, atau Pasar Gede Solo, memiliki uang yang menjadi sumber investasi dan untuk berjaga-jaga. Bagi mereka, kesehatan dan penghidupan menjadi satu. Mereka berusaha mencari nafkah untuk tetap sehat dan mereka berusaha tetap sehat untuk dapat mencari nafkah. Sehingga, apabila lockdown diterapkan, yang paling besar merasakan dampaknya adalah pekerja-pekerja dengan pemasukan harian seperti ini.

3 dari 3 halaman

Dampak Lockdown Bagi Distribusi Barang dan Jasa

Apabila keputusan lockdown jadi dijalankan, masyarakat akan mulai mengkalkulasi kebutuhan sehari-hari mereka. Perilaku konsumsi pun akan berubah. Lockdown akan menimbulkan fenomena panic buying di masyarakat dan hal tersebut akan mengganggu kelancaran distribusi barang dan jasa.

tegal local lockdown

liputan6.com

Over consumption atau belanja yang berlebihan untuk menimbun bahan makanan dan barang kebutuhan sehari-hari akan terjadi. Hal ini tidak berbanding lurus dengan terhentinya aktivitas jual-beli para pedagang harian. Lockdown pun berpotensi melahirkan konflik sosial terkait dengan suplai kebutuhan masyarakat seperti makanan, obat, dan lain sebagainya.

Pendapatan masyarakat yang terganggu ditambah dengan pasokan barang yang terhambat akan menimbulkan kekacauan. Harga barang di pasaran juga akan melambung secara gila-gilaan apabila permintaan konsumen meningkat.

Mengutip perkataan Eko Listiyanto, Deputy Director Institute for Development of Economic and Finance, insentif apapun yang diberikan pemerintah tidak akan efektif jika corona tidak bisa diatasi. Karena, meskipun jika pada akhirnya pemerintah memberi bantuan, namun kondisi masyarakat dan pelaku ekonominya cemas dan tidak stabil, bantuan tersebut tidak akan berfungsi dengan efektif.

Sektor transportasi juga akan mengalami dampak lockdown. Mulai dari ojek online/konvensional, taksi, kereta dan maskapai penerbangan akan terganggu jadwal operasinya. Alat-alat transportasi ini akan kehilangan penumpang, mengingat mobilitas masyarakat akan terhenti.

(mdk/edl)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menyambut New Normal

5