Intip Puncak Panen Kopi di Kebun PTPN Jatim, Begini Peluang Ekspornya

Intip Puncak Panen Kopi di Kebun PTPN Jatim, Begini Peluang Ekspornya
Ilustrasi biji kopi. ©shutterstock.com/saiko3p
JATIM | 23 Agustus 2021 08:54 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII menargetkan produksi kopi sebanyak 3.601 ton dari sejumlah perkebunan di Jawa Timur seluas 10.715 hektare pada musim panen Agustus 2021.
Kepala Bagian Non Core Business dan Optimalisasi Aset PTPN XII Nelson Limbong mengungkapkan bahwa bulan Agustus merupakan puncak panen kopi, yakni dimulai sejak awal bulan.

"Sejumlah kebun kopi milik BUMN tersebut pada Agustus saat ini mengalami puncak panen, setelah bulan lalu memulai awal petik kopi," ungkapnya, dikutip dari liputan6.com, Minggu (22/8/2021).

2 dari 3 halaman

Harapan

Kopi merupakan salah satu komoditas utama yang diusahakan PTPN XII dengan areal seluas 5.471 hektare untuk kopi jenis arabika dan 5.244 hektare untuk kopi robusta yang tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Timur. Selain kopi, komoditas utama lain yang diusahakan PTPN XII yakni karet, teh, kakao, dan aneka kayu.

"Komoditas tersebut diorientasikan ke pasar ekspor meliputi Amerika Serikat, Italia, Jerman, dan Jepang. Sebagian dipasarkan di dalam negeri," katanya.

Pihaknya berharap, hasil panen kopi pada masa puncak panen Agustus ini mencapai target yang diharapkan.

"Cuaca tahun ini cukup bagus, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil panen kopi yang ditargetkan mencapai 3.601 ton yang terdiri dari kopi arabika 1.434.500 kilogram dan jenis robusta 2.167.200 kilogram," terangnya.

3 dari 3 halaman

Persaingan Pasar Ekspor

kopi©2012 Merdeka.com

Sementara itu, persaingan kopi di pasar ekspor semakin ketat sebagai akibat adanya peningkatan pasokan kopi dari Amerika Latin, India, dan Vietnam dengan harga jual lebih rendah.

Nelson menjelaskan, saat merebaknya Covid-19 tahun lalu pasar kopi dunia mengalami penurunan. Tapi kini sudah mulai ada respons di AS dan Eropa seiring meredanya pandemi di kawasan tersebut.

Namun, tingkat konsumsi kopi di negara tujuan ekspor belum sepenuhnya pulih. Maka, para pembeli pun masih bersikap menunggu.

"Persaingan kopi di pasar ekspor pun semakin tajam, produsen kopi asal Brasil, Kolumbia, India, dan Vietnam menggelontor komoditas tersebut dengan harga jual lebih rendah sehingga mampu menarik buyer," katanya.

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami