Kenali Gejala Obesitas yang Wajib Diketahui, Cegah Sebelum Terlambat

Kenali Gejala Obesitas yang Wajib Diketahui, Cegah Sebelum Terlambat
Ilustrasi obesitas. ©2015 Merdeka.com/shutterstock
JATIM | 28 Desember 2021 18:00 Reporter : Edelweis Lararenjana

Merdeka.com - Obesitas adalah penyakit kompleks yang melibatkan jumlah lemak tubuh yang berlebihan. Obesitas adalah masalah medis yang meningkatkan risiko penyakit dan masalah kesehatan lain, seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, dan kanker tertentu.

Ada banyak alasan mengapa beberapa orang mengalami kesulitan menurunkan berat badan. Biasanya, obesitas bersumber dari faktor keturunan, fisiologis, dan lingkungan, dikombinasikan dengan diet, aktivitas fisik, dan pilihan olahraga yang tidak tepat.

Gejala obesitas lebih dari sekadar kelebihan lemak tubuh. Masalah kulit, sesak napas, sulit tidur, dan lainnya dapat mempengaruhi seseorang yang menderita obesitas. Beberapa gejala obesitas bahkan diketahui meningkatkan risiko terkena penyakit dan gangguan tertentu. Dalam beberapa kasus, ini dapat mengancam jiwa dan berakibat fatal.

Berikut adalah informasi selengkapnya mengenai gejala obesitas dan bagaimana cara mencegahnya dengan tepat sebelum obesitas berkembang menjadi tak terkendali.

2 dari 4 halaman

Gejala Obesitas

Untuk mendiagnosis obesitas, seorang profesional kesehatan menggunakan sistem pengukuran yang disebut indeks massa tubuh (BMI). BMI adalah angka yang dihitung menggunakan tinggi dan berat badan Anda masing-masing. Namun, perlu diingat bahwa BMI tidak selalu merupakan pengukuran yang akurat dari kandungan lemak tubuh.

Misalnya, beberapa atlet mungkin memiliki berat badan yang lebih tinggi dari rata-rata hanya karena mereka memiliki tingkat massa otot yang tinggi, dan otot lebih berat daripada lemak. Ini mungkin secara teknis memenuhi syarat mereka untuk tergolong ke dalam kategori obesitas, meskipun mereka memiliki lemak tubuh yang sangat sedikit.

Meskipun mengalami peningkatan beberapa kilo berat badan mungkin tampak tidak signifikan sejauh menyangkut kesehatan seseorang secara keseluruhan, penambahan berat badan yang terlalu banyak terkadang dapat menyebabkan kondisi medis yang serius. Dilansir dari verywellhealth.com. American Medical Association menganggap obesitas itu sendiri sebagai penyakit.

Berikut adalah beberapa gejala obesitas yang paling umum pada orang dewasa;

  • Kelebihan lemak tubuh, terutama di sekitar pinggang
  • Sesak napas
  • Berkeringat lebih dari biasanya
  • Sulit tidur
  • Masalah kulit akibat kelembapan yang menumpuk di lipatan kulit
  • Ketidakmampuan untuk melakukan tugas fisik sederhana yang dapat dilakukan dengan mudah sebelum penambahan berat badan
  • Kelelahan, yang dapat berkisar dari ringan hingga ekstrem
  • Nyeri, terutama di punggung dan persendian
  • Masalah psikologis seperti harga diri negatif, depresi, rasa malu, dan isolasi sosial.

Obesitas tak hanya menyerang orang dewasa saja. Anak-anak pun berisiko terkena obesitas. Berikut beberapa gejala obesitas pada anak yang paling umum terjadi;

  • Deposit jaringan lemak (mungkin terlihat di area payudara)
  • Munculnya stretch mark di pinggul dan punggung
  • Acanthosis nigricans (kulit beludru gelap di sekitar leher dan area lainnya)
  • Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik
  • Sleep apnea
  • Sembelit
  • Penyakit refluks gastroesofageal (GERD)
  • Harga diri rendah
  • Pubertas dini pada anak perempuan / pubertas tertunda pada anak laki-laki
  • Masalah ortopedi, seperti kaki rata atau pinggul terkilir
3 dari 4 halaman

Gejala Obesitas Lain yang Langka

Obesitas dini dapat berkembang pada anak-anak karena kelainan genetik yang langka. Gangguan tersebut melibatkan gen yang berperan dalam mengatur nafsu makan dan pengeluaran energi. Kondisi ini dan efeknya meliputi:

  • Obesitas defisiensi pro-opiomelanocortin (POMC)

Gejala utama termasuk kelaparan ekstrem (hiperfagia) mulai saat bayi, obesitas dini, dan masalah hormonal.

  • Obesitas defisiensi reseptor leptin (LEPR)

Gejala utama termasuk hiperfagia, obesitas awal yang parah, dan hipogonadisme hipogonadotropik (suatu kondisi di mana testis pria atau ovarium wanita menghasilkan sedikit atau tidak sama sekali hormon seks).

  • Sindrom Bardet-Biedl (BBS)

Gejala utama termasuk obesitas dini, hiperfagia, gangguan penglihatan, memiliki jari tangan atau kaki ekstra (polidaktili), dan masalah ginjal.

4 dari 4 halaman

Komplikasi Obesitas

Penderita obesitas lebih mungkin mengembangkan sejumlah masalah kesehatan yang berpotensi serius. Di antaranya adalah;

  • Penyakit jantung dan stroke.

Obesitas membuat Anda lebih cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol abnormal, yang merupakan faktor risiko penyakit jantung dan stroke.

  • Diabetes tipe 2.

Obesitas dapat mempengaruhi cara tubuh menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Hal ini meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes.

  • Kanker tertentu.

Obesitas dapat meningkatkan risiko kanker rahim, leher rahim, endometrium, ovarium, payudara, usus besar, rektum, kerongkongan, hati, kandung empedu, pankreas, ginjal dan prostat.

  • Masalah pencernaan.

Obesitas meningkatkan kemungkinan mengembangkan mulas, penyakit kandung empedu dan masalah hati.

  • Apnea tidur.

Orang dengan obesitas lebih cenderung mengalami sleep apnea, gangguan yang berpotensi serius di mana pernapasan berulang kali berhenti dan dimulai saat tidur.

  • Osteoartritis.

Obesitas meningkatkan tekanan pada sendi yang menahan beban, selain meningkatkan peradangan di dalam tubuh. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan komplikasi seperti osteoarthritis.

  • Gejala COVID-19 yang parah.

Obesitas juga meningkatkan risiko mengembangkan gejala parah jika Anda terinfeksi virus penyebab penyakit coronavirus 2019 (COVID-19). Orang yang memiliki kasus COVID-19 yang parah mungkin memerlukan perawatan di unit perawatan intensif atau bahkan bantuan mekanis untuk bernapas.

(mdk/edl)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami