Khofifah, Inisiator Piala Gubernur Jawa Timur 2020

Khofifah, Inisiator Piala Gubernur Jawa Timur 2020
Gubernur Khofifah pencetus Piala Jatim. ©2020 Merdeka.com
JATIM | 12 Februari 2020 14:01 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Ajang sepak bola Piala Gubernur Jawa Timur 2020 sudah dimulai sejak (10/2/2020) lalu. Even sepak bola kebanggaan Jawa Timur itu sebelumnya digelar pada 2014. Artinya, sudah lima tahun even yang selalu digandrungi banyak orang itu tidak terselenggara.


Kembali terselenggaranya even Piala Gubernur Jawa Timur 2020 menjadi kegembiraan tersendiri bagi banyak pihak. Klub-klub sepak bola mengaku senang karena Piala Gubernur Jawa Timur 2020 bisa menjadi ajang untuk unjuk diri. Beberapa klub peserta even sepak bola nomor satu di Indonesia, Liga 1 menganggap bahwa even ini ialah ajang latihan menjelang pertandingan besar itu.


Nama gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa tidak bisa dilepaskan dari penyelenggaraan Piala Gubernur Jawa Timur 2020. Pelaksanaan even sepak bola ini merupakan pemenuhan janji Khofifah untuk memberikan hiburan bagi masyarakat pecinta sepak bola di Jawa Timur. Even sepak bola ini juga diharapkan bisa menjadi ajang latihan bagi klub-klub di Jawa Timur menjelang pertandingan di Liga 1.

2 dari 4 halaman

Mengenal Khofifah

rev1

Khofifah merupakan putri asli Jawa Timur. Ia lahir di Surabaya pada 19 Mei 1965. Sejak kecil, Khofifah dikenal sebagai perempuan pemberani. Setiap pulang sekolah, ia bersama dengan teman - teman laki-lakinya terjun ke sungai untuk mencari kerang air tawar.

Kedua orang tuanya, almarhum Achmad Rai dan Rochmah tidak pernah melarang Khofifah bermain di sungai. Tetapi setiap kali menjelang magrib, ia sudah harus berada di rumah untuk mengaji. Sejak kelas empat sekolah dasar, Khofifah sudah aktif berkumpul dengan ibu-ibu muslimat untuk shalawatan dan membaca tahlil.

Selain bermain di sungai, Khofifah kecil gemar menonton acara Dunia dalam Berita di TVRI. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi pembawa acara seperti Tuti Aditama yang saat itu membawakan acara Dunia dalam Berita.

Ketertarikannya dengan dunia politik sudah tampak sejak ia belia. Di bangku SMP, kegemarannya berdiskusi tampak menonjol. Ia juga aktif mengikuti organisasi. Setelah lulus SMA, ia menempuh jurusan Ilmu Politik di Universitas Airlangga Surabaya. Di kampus, ia tak hanya aktif di satu organisasi. Khofifah bergabung dengan himpunan mahasiswa di jurusannya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam, serta aktif di Lembaga Dakwah Kampus.

Sementara di luar kampus, ia bergabung dengan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Pelajar Perempuan Nahdlatul Ulama (IPPNU). Khofifah terpilih menjadi ketua PMII perempuan di Surabaya. Ia kemudian juga didapuk menjadi ketu PW IPPNU Jawa Timur. Organisasi di luar kampus yang juga diikuti Khofifah ialah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

3 dari 4 halaman

Karir Politik Khofifah

khofifah rev1

Pada pencalonan anggota legislatif tahun 1991, Khofifah terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Jabatan itu diemban Khofifah mulai tahun 1992-1998. Umurnya tercatat baru 26 tahun saat pemilu 1977 digelar. Ia menjadi politisi paling muda di antara yang lain.

Pada sidang istimewa MPR 1998, mewakili Fraksi PPP ia berpidato mengkritik Soeharto.
Sejak pidato itu, namanya kian melambung di jagat politik nasional. Ia berani menyatakan bahwa Orde Baru memanipulasi penyelenggaraan pemilu, termasuk gaya kepemimpinan Soeharto yang diktator dan otoriter.

Pada Juli 1998, tokoh-tokoh NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Perubahan peta politik pasca Orde Baru membuat Khofifah hijrah ke partai baru itu. Ia terpilih masuk ke parlemen dari dapil Surabaya-Sidoarjo. Di parlemen, Gus Dur memberinya amanat sebagai Ketua fraksi PKB MPR RI.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, Khofifah diangkat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN. Pada tahun 2004, Gus Dur menunjuknya menjadi Ketua Bapilu DPP PKB. Pada pemilu di tahun yang sama, ia kembali masuk menjadi anggota parlemen dari dapil Surabaya-Sidoarjo.

4 dari 4 halaman

Menuju Jatim I

i rev1

Pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur di tahun 2013, ia maju menjadi calon gubernur. Dalam pesta demokrasi itu, Khofifah maju bersama Herman Sumawiredja. Pasangan ini berhasil meraup suara terbanyak kedua setelah pasangan Soekarwo dan Saifullah. Kekalahan Khofifah dalam Pilkada Jatim 2013 tak berarti karir politiknya sudah selesai.

Dalam Pilpres 2014, ia ditunjuk sebagai salah satu juru bicara Joko Widodo. Ketika sudah menjabat sebagai presiden, Jokowi menunjuk Khofifah sebagai Menteri Sosial. Jabatan itu diembannya sejak 27 Oktober 2014 hingga 17 Januari 2018.

Di tahun 2018, Khofifah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Sosial. Ia maju ke Pilkada Jatim bersama Emil Elestianto Dardak. Pasangan ini meraih suara sebesar 53,55% dari keseluruhan jumlah suara. Setelah mengalahkan pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, pasangan Khofifah dan Emil resmi menjadi gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur periode 2019-2024. (mdk/paw)

Baca juga:
Tiga Mandat Gus Sholah
Khofifah Kenang Gus Sholah: Beliau Beri Energi Luar Biasa dalam Karir Politik Saya
Mahfud Doakan Tito Karnavian-Khofifah Jadi Presiden dan Wapres di 2024
4 Ribu Warga Terdampak Banjir Bandang Bondowoso, Gubernur Tetapkan Tanggap Darurat
Temui Khofifah, Orangtua 10 Mahasiswa WNI di Wuhan Minta Anaknya Dievakuasi
Temui Mendagri Tito, Khofifah Bahas Persiapan Pilkada 2020

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami