Kisah Mantan TKW Buka Usaha Tenun Ikat di Kediri, Punya Tujuan Mulia

Kisah Mantan TKW Buka Usaha Tenun Ikat di Kediri, Punya Tujuan Mulia
Tenun Ikat Kediri. ©2021 Merdeka.com/Instagram @tenunmedalimasofficial
JATIM | 12 Agustus 2021 08:22 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Siti Rukayah, pengusaha tenun ikat asal Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur tak akan pernah lupa bagaimana ia dan sang suami berupaya mempertahankan usahanya pada awal pandemi Covid-19.

Hingga dua pekan pertama pandemi di Indonesia, usaha tenun ikat yang digelutinya masih mampu bertahan. Namun, selanjutnya ia mendapati permintaan di pasar semakin lesu.

Akibatnya, ia terpaksa menjual satu petak tanah Rp85 juta untuk menutup biaya operasional usaha tenun ikatnya.

"Pesanan banyak tinggal diambil. Dua pekan masih bertahan, tiga pekan sudah tidak bisa. Saya telepon yang pesan, ternyata dipending," tutur Siti, Rabu (11/8/2021).

2 dari 5 halaman

Putar Otak

Siti dan sang suami memutar otak mencari solusi agar usahanya tetap berjalan. Suatu saat, seorang penjahit datang meminta pekerjaan. Dari situ, Siti memiliki ide membuat masker dari bahan tenun ikat. Masker itu diharapkan bisa jadi alternatif lantaran harga masker medis melambung tinggi di masa awal pandemi.

Ia kemudian berinisiatif menawarkan masker buatannya ke pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Kediri. Dari situ munculah persetujuan dari Wali Kota Kediri. Masker berbahan kain tenun ikat itu diproduksi massal.

Siti bersyukur bisa bekerja lagi, terlebih para pegawainya juga mengalami kondisi perekonomian sulit akibat pandemi.

"Pekerja memohon agar jangan PHK, karena suaminya sudah di-PHK. Saya tidak tega. Tapi, dengan masker ada rejeki tidak terduga. Saya nangis awalnya, karena mau jual ke mana, akhirnya Dinsos pesan masker besar-besaran dibagi ke semua penjahit," ungkap mantan TKW ini.

3 dari 5 halaman

Nasib 115 Karyawan

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh TENUN KEDIRI (@tenunmedalimasofficial)

Sebelumnya, Siti sempat meliburkan ratusan karyawannya lantaran pasar tenun ikat mengalami kelesuan. Sejak memproduksi masker dari bahan tenun ikat, ia mempekerjakan lagi para karyawan.

Baginya, tidak mudah memikirkan nasib 115 karyawan yang mayoritas tetangga sekitar. Terlebih membuat tenun ialah sumber pendapatan sehari-hari mereka.

4 dari 5 halaman

Jatuh Bangun Usaha Tenun Ikat

Tenun ikat dengan merek Medali Mas itu sendiri merupakan usaha keluarga yang dimulai sejak 27 Februari 1989. Perjalanan usaha tersebut tak mudah. Selama dua tahun tak ada produksi sama sekali.

Siti kemudian memutuskan banting setir jualan obat. Profesi itu ditekuninya selama lima tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setelah itu, ia nekat berangkat ke Arab Saudi untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Ia bekerja mati-matian demi mengumpulkan uang untuk modal usaha.

"Saya dua tahun sampai 2000. Akhir tahun 2000 suami kirim surat, katanya tenun mau dimulai. Presiden saat itu kebetulan Gus Dur, dan sarungnya yang masih sisa (belum terjual, red) diborong. Itu buat modal lagi," ungkap Siti, dikutip dari Antara, Kamis (12/8/2021).

Dua tahun bekerja, Siti membawa pulang uang Rp25 juta. Ia dan suami menggunakan uang tersebut untuk membeli alat-alat penunjang tenun ikat. Kini, total ada sekitar 60 mesin di gudang kerjanya.

5 dari 5 halaman

Ingin Bantu Tetangga

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh TENUN KEDIRI (@tenunmedalimasofficial)

Hingga kini, pasang-surut dalam menjalankan usaha tenun ikat Medali Mas masih dialami Siti dan sang suami. Meski demikian, keduanya tak pantang menyerah.

Siti mengaku sedih jika ada tetangganya yang nekat menjadi TKW di luar negeri. Ia menerangkan bahwa bekerja di luar negeri godaannya sangat banyak, terlebih jika yang bersangkutan adalah perempuan.

Oleh karena itu, ia berharap usaha tenun ikatnya terus berkembang. Ia tidak ingin ada tetangga yang kesulitan mencari pekerjaan, sehingga ketika ada yang meminta pekerjaan padanya selalu diberi kesempatan.

(mdk/rka)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami