Kisah Unik Upacara Larung Sesaji di Gunung Kelud, Pesta Alam ala Warga Kediri

Kisah Unik Upacara Larung Sesaji di Gunung Kelud, Pesta Alam ala Warga Kediri
JATIM | 24 Maret 2020 16:15 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Tradisi larung sesaji di Gunung Kelud rutin dilakukan satu tahun sekali, tepatnya pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini diinisiasi oleh warga Desa Sugihwaras dan sekitarnya. Desa Sugihwaras merupakan desa yang memiliki akses paling dekat sekaligus paling mudah menuju Gunung Kelud, Kediri.

Dikutip dari berbagai sumber, pelaksanaan larung sesaji Gunung Kelud merupakan bagian dari rasa syukur warga setempat atas berkah bumi yang melimpah. Dalam upacara tradisi itu, masyarakat biasanya menyediakan berbagai macam sesaji. Mulai dari bunga, sayur-sayuran, sampai ayam ingkung.

1 dari 3 halaman

Pelaksanaan Larung Sesaji

larung sesaji gunung kelud

2020 Merdeka.com/sempu.desa.kedirikab.go.id

Pada pagi hari, sesaji yang sudah disiapkan warga dilarung ke kawah Gunung Kelud. Sementara siang harinya, perayaan larung sesaji menjadi sebentuk pesta rakyat yang berlangsung meriah. Rombongan berangkat dengan berjalan kaki menuju arah puncak Gunung Kelud.

Di antara mereka ada yang bertugas memanggul pandu yang memuat gunungan. Gunungan itu terdiri dari bermacam-macam buah dan sayuran yang merupakan hasil panen dari warga desa di lereng Gunung Kelud. Selain gunungan yang berisi buah-buahan dan sayur, ada juga tumpeng yang dilengkapi dengan lauk-pauk.

Selain gunungan, ada juga patung sosok Dewi Kili Suci yang diarak menggunakan tandu. Dewi Kili Suci sebenarnya merupakan anak dari Airlangga sekaligus sebagai pewaris tahta Kahuripan. Tetapi ia memilih mengundurkan diri dan menjalani laku hidup sebagai pertapa yang sampai sekarang dikenal dalam cerita sejarah sebagai sosok Dewi Kili Suci.

2 dari 3 halaman

Berebut Gunungan

larung sesaji gunung kelud

2020 Merdeka.com

Dari tempat pemberangkatan, rombongan larung sesaji perlu menempuk perjalanan dengan medan menanjak sekitar satu kilometer. Setelah sampai di tujuan, juru kunci Gunung Kelud akan memanjatkan doa. Doa yang dipanjatkan ialah doa memohon keselamatan untuk warga Kediri sekaligus meminta berkah.

Setelah doa selesai dipanjatkan, gunungan yang tadi diarak akan diperebutkan. Rebutan gunungan ini biasanya terjadi dengan semarak. Rombongan yang terdiri dari warga desa maupun penonton akan saling beradu cepat mendapatkan isi gunungan. Tidak peduli anak-anak, tua, maupun muda, semua menjadi satu.

Berebut isi gunungan dan mendapatkannya diyakini bisa mendatangkan berkah tersendiri. Selain itu, selama pelaksanaannya, orang-orang yang terlibat memperebutkan isi gunungan juga tampak bergembira menikmati kebersamaan.

3 dari 3 halaman

Atraksi Seni

larung sesaji gunung kelud

2020 Merdeka.com

Selain arak-arakan warga membawa gunungan dan patung Dewi Kili Suci, rangkaian acara larung sesaji juga dimeriahkan oleh penampilan tari reog dan bujang ganong. Bujang ganong sendiri merupakan tarian yang menggambarkan sosok patih muda yang cekatan, cerdik, sakti, tetapi juga jenaka.

Tradisi larung sesaji Gunung Kelud ini lambat-laun terbukti menarik minat wisatawan. Jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Gunung Kelud menunjukkan kurva peningkatan setiap kali pelaksanaan tradisi larung sesaji digelar.

Pemerintah Kediri menyadari potensi pariwisata dari pelaksanaan tradisi ini. Sehingga, dukungan penuh diberikan pihak pemerintah terhadap berlangsungnya tradisi masyarakat lereng Gunung Kelud itu. Mulai dari publikasi acara, sampai menyemarakkan pelaksanaannya.

Dikutip dari berbagai sumber, Pemkab Kediri mengharapkan bahwasanya tradisi larung sesaji Gunung Kelud ini mampu meningkatkan jumlah wisatawan.

(mdk/rka)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami