Lemah Peguron Probolinggo, Tempat Pejuang Menyepi Agar Kebal Tak Mempan Ditembak

Lemah Peguron Probolinggo, Tempat Pejuang Menyepi Agar Kebal Tak Mempan Ditembak
Mbah Sujud dan Lemah Peguron Probolinggo. ©2022 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
JATIM | 15 Agustus 2022 10:15 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Mbah Sujud dan Lemah Peguron di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Menurut cerita tutur masyarakat setempat, Mbah Sujud adalah orang yang pertama babat alas mendirikan desa yang berpusat di Dukuh Krajan.

“Mulai kakek-nenek kami sudah disebut Mbah Sujud dan Lemah (tanah) Peguron,” demikian kesaksian salah satu sesepuh Dukuh Krajan, dikutip dari laman resmi Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jawa Timur.

Bahkan tidak hanya masyarakat Kabupaten Probolinggo, banyak warga dari luar daerah yang sengaja datang ke petilasan Mbah Sujud.

2 dari 4 halaman

Tempat Pejuang Revolusi Menyepi

Mbah Sahat, salah seorang sesepuh Dukuh Krajan Kabupaten Probolinggo itu menceritakan, masa mudanya ia sering melihat langsung orang sedang mencoba kedigdayaan dan kesaktian mereka yang diperoleh dari Lemah Peguron. 

Saat itu, orang bacok-membacok tetapi tidak ada luka sedikit pun di badan mereka. Padahal pakaian dan sarung yang mereka kenakan sobek tak beraturan. 

Dulu, ada pendekar yang ikut menjaga agar perampok dan orang-orang jahat lain tidak ikut menyepi di petilasan Mbah Sujud dan Lemah Peguron. 

Pada zaman revolusi, Lemah Peguron menjadi salah satu tujuan para pejuang untuk menyepi mencari kekebalan. Menurut cerita, mereka yang menyepi atau bertapa tidak mempan peluru yang ditembakkan para tentara Belanda.

3 dari 4 halaman

Kisah Si Kuru dan Si Lemu

mbah sujud dan lemah peguron probolinggo
©2022 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim

Kisah yang berabad-abad silam diyakini masyarakat setempat yakni tentang dua lelaki bersaudara sedang bersaing mencari kesempurnaan hidup untuk mendapatkan tempat paling mulia di surga. 

Lelaki yang sulung bernama Si Kuru sebab tubuhnya kurus, sedangkan sang adik dikenal sebagai Si Lemu karena tubuhnya gemuk. Setiap hari, Si Kuru selalu berpuasa dan hanya makan dedaunan. Sementara Si Lemu menyantap apa saja yang dapat dimakan asal tidak merugikan orang lain. Selama bertahun-tahun, keduanya dikenal paling suka memberikan pertolongan kepada masyarakat. 

Menjelang kematian keduanya, Dewa mengutus seekor harimau putih mendatangi kedua bersaudara itu. Pertama, harimau itu mendatangi Si Kuru. Setelah sempat ketakutan, Si Kuru akhirnya rela jika memang dialah yang dipilih Dewa untuk diterkam harimau. Menanggapi kesanggupan Si Kuru, harimau mengangguk-angguk menyatakan bahwa Si Kuru adalah salah satu contoh manusia yang mulia.

Setelah mendatangi Si Kuru, sang harimau berganti mendatangi Si Lemu. Saat itu, Si Lemu pun langsung menyediakan diri jika ia harus menjadi korban yang dimakan harimau. 

Keduanya pun mendengar janji bakal masuk surga, tetapi belum diketahui pasti siapa di antara keduanya yang memiliki derajat lebih tinggi nantinya. Si Kuru menggugat Dewa untuk lekas memberi jawaban. 

Akhirnya muncul petunjuk agar keduanya bertapa untuk menyongsong kematian, mengakhiri kehidupan dengan sempurna. Si Kuru memilih bertapa di puncak satu bukit, sementara Si Lemu memilih bertapa di dalam hutan. Keduanya duduk bersila selama berminggu-minggu tanpa makan, minum, dan tidur. 

Namun, tiba-tiba puncak tempat Si Kuru hangus terbakar. Penyebabnya disebut-sebut ialah panas badan Si Kuru yang menuntut Dewa agar lekas mengangkat rohnya menuju surga. Permintaan itu dikabulkan, Si Kuru terlebih dahulu dimasukkan ke nirwana. Tak lama kemudian, Si Lemu menyusul tepat di mana waktunya ia meninggal dunia karena usia.

4 dari 4 halaman

Petilasan Si Lemu

Sementara itu, di Nirwana Si Kuru masih belum puas. Ia terus bertanya kepada Dewa siapa yang lebih tinggi derajatnya. Dewa pun menyuruh ia menyaksikan sendiri pada tempat bekas mereka bertapa. Barang siapa yang lebih tinggi derajatnya, maka petilasannya didatangi peziarah. 

Hasilnya, ternyata petilasan Si Lemu yang kerap didatangi peziarah. Selama hidup, Si Kuru lebih sering meminta sesuatu kepada Dewa dibandingkan Si Lemu. Maka, sebagai gantinya, peziarah yang datang berdoa di petilasan Si Lemu pun dikabulkan oleh Dewa. 

Sejak saat itu, petilasan atau makam Si Lemu banyak didatangi orang. Sementara petilasan Si Lemu semakin jarang didatangi bahkan sudah dilupakan orang. 

Adapun petilasan Si Lemu akhirnya lebih dikenal dengan nama Makam Mbah Sujud alias Mbah Ujud. Pasalnya, di sana orang-orang yang datang berziarah bersujud, kemudian permintaan mereka banyak yang terwujud. 

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini