Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya Diklaim Aman, Begini Fakta di Baliknya

Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya Diklaim Aman, Begini Fakta di Baliknya
Simulasi PTMT di Depok. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki
JATIM | 13 Oktober 2021 10:21 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengklaim pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Surabaya, Jawa Timur berjalan aman. Ada rangkaian tahapan yang dilakukan untuk menjamin keamanan PTM, mulai dari vaksinasi untuk guru dan tenaga pendidik, vaksinasi siswa, meminta surat persetujuan orang tua, hingga pembentukan Tim Siswa Satgas Sekolah.

"Kami sudah melakukan tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri). Ada asesmen yang kita lakukan, di mana pemerintah meyakinkan keamanan anak-anak kita saat berada di lingkungan sekolah," tuturnya saat menjadi narasumber dalam bincang wicara bersama UNICEF dan Radio RRI yang digelar secara virtual dari ruang kerjanya di Surabaya, Selasa (12/10).

2 dari 4 halaman

Tanggung Jawab Pemkot

Tahapan-tahapan tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah Kota Surabaya untuk meyakinkan masyarakat, terutama wali murid.

"Sebagai pemerintah kami meyakinkan orang tua, bahwa semua perangkat sekolah sudah divaksin, kemudian vaksinasi untuk anak di tingkat SD dan SMP juga terus dijalankan," lanjutnya, dikutip dari Antara.

Pembentukan Tim Siswa Satgas Sekolah sendiri bertujuan untuk memantau penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah.

"Setiap sekolah memiliki satgas anak, bahkan kami juga memberikan rompi. Mereka bertugas memantau penerapan prokes di sekolah dan menegur hingga melarang warga sekolah yang mengabaikan prokes. Itu kami bangga betul, terhadap anak-anak, bisa menjadi satgas untuk saling mengingatkan temannya," ujar pria yang kini sedang menempuh pendidikan doktor di Pascasarjana Unair itu.

3 dari 4 halaman

Yakinkan Orang Tua

pembelajaran tatap muka terbatas di smpn 1 depok
©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya tersebut juga meyakinkan orang tua bahwa hingga kini tidak ditemukan klaster penularan virus di sekolah. Menurutnya, saat ada anak yang terpapar Covid-19, sekolah bukan menjadi satu-satunya tempat penularan virus corona.

"Lalu bila ada anak yang terpapar, sebetulnya dia juga bisa jadi tidak terpapar di sekolah. Tapi terpapar di luar sekolah. Ini harus disampaikan bahwa penularan COVID-19 tidak mesti dari lingkungan sekolah, bisa saja kena di tempat lain," ungkapnya.

4 dari 4 halaman

Apresiasi

Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Surabaya Ermi Ndoen mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya membuat suasana PTM di tengah pandemi aman bagi anak.

"UNICEF sangat mengapresiasi langkah-langkah Pak Eri. Kota Surabaya juga menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki satgas anak untuk pemantauan Covid-19 di sekolah, ini merupakan langkah dari partisipasi anak, sehingga anak berpartisipasi dalam pemantauan sekolah yang sehat dan aman," ujarnya.

Kota Surabaya, imbuh dia, sudah melakukan pemantauan secara rutin, salah satunya dengan keikutsertaannya dalam Asesmen Nasional.

"Tadi disampaikan Pak Wali Kota, bahwa tenaga pendidik sudah 100 persen. Surabaya juga membantu wilayah aglomerasi untuk mempercepat vaksinasi. Itu akan mempercepat kesiapan PTM di Kota Surabaya. Hal-hal itu memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada orang tua, bahwa pemerintah siap menjamin adanya PTM terbatas ini," pungkasnya.

(mdk/rka)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami