Sandhur Pantel, Tradisi Sumenep Berbau Magis Terinspirasi Kisah Nabi Zakaria

Sandhur Pantel, Tradisi Sumenep Berbau Magis Terinspirasi Kisah Nabi Zakaria
Sandhur Pantel Sumenep. ©2022 Merdeka.com/Dok. Lontar Madura
JATIM | 15 Agustus 2022 11:11 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Sandhur Pantel dikenal sebagai kesenian tari berbau magis yang berasal dari Desa Ambunten Barat Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep Jawa Timur.

Kesenian ini biasanya digelar saat masyarakat menghadapi musibah dan cobaan. Tarian ini menjadi sarana berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kesenian ini menjadi media untuk menolak serta menjauhkan masyarakat dari bencana, direfleksikan dalam bentuk puji-pujian dan rangkuman doa dalam bentuk ragam tarian yang diiringi musik.

2 dari 3 halaman

Tujuan Sandhur Pantel

Adapun tujuan pagelaran Sandhur Pantel antara lain adalah untuk mendatangkan hujan, rokat anak agar yang bersangkutan selamat dan bebas dari berbagai gangguan, rokat pangkalan agar para nelayan bisa menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah, dan penyembuhan suatu penyakit. Dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, kesenian Sandhur Pantel berasal dari tamsil kisah nabi zakaria. 

Berdasarkan cerita tutur yang beredar di masyarakat setempat, dulunya ada anak bernama Sandhur hidup di Desa Ambunten Barat. Dia adalah penggembala kambing yang saleh dan kesalehannya menjadi buah bibir masyarakat setempat. 

Rupanya, di tengah banyaknya masyarakat yang memuji kesalehan Sandhur, ada salah satu orang yang iri hati. Dia dikenal dengan julukan Si Kafir karena tidak mempercayai Tuhan. Si Kafir ini berniat mencelakakan Sandhur. 

Saat Sandhur menggembala kambing, Si Kafir berniat membunuhnya. Namun, saat hendak melancarkan aksi jahatnya, Sandhur tiba-tiba menghilang seolah ditelan bumi.  

Si Kafir tidak putus asa, ia pu melakukan meditasi hingga medengar suara gaib memberitahu keberadaan Sandhur. Menurut suara gaib itu, Sandhur berada di sebuah pohon berukuran besar. Tanpa pikir panjang, Si Kafir memotong pohon tersebut dengan gergaji. 

3 dari 3 halaman

Roh Kesenian

Kisah menghilangnya Sandhur saat hendak dibunuh Si Kafir inilah yang menjadi ruh kesenian Sandhur Pantel. 

Kesenian ini dimainkan oleh sekelompok laki-laki dan perempuan. Satu kelompok kesenian terdiri dari 13 penabuh, 5 penembang, seorang penebas, dan 14 penari. Pementasan babak pertama Sandhur Pantel berdurasi sekitar 3 hingga 4 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan pelantunan bait-bait pujian dan doa. Kemudian, para penari melakukan gerakan yang sama. 

Setiap pementasan Sandhur Pantel, selalu ada sesaji yang disiapkan yakni berupa kelapa gading, jajan pasar, rengginang, nasi dan panggang ayam, serta roncean jagung. 

Selain itu, ada pula pakaian anak-anak, remaja dan dewasa yang warnanya berbeda-beda (merah, kuning, hitam dan hijau). Konon, pakaian-pakaian tersebut diperuntukkan bagi makhluk halus  agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini