Semakin Langka, Tradisi Angon Putu Ternyata Baru Bisa Digelar saat Cucu Berjumlah 25

Semakin Langka, Tradisi Angon Putu Ternyata Baru Bisa Digelar saat Cucu Berjumlah 25
JATIM | 25 Maret 2020 11:45 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Tradisi Angon Putu sejatinya merupakan budaya masyarakat Jawa. Di masa silam, masyarakat Jawa menyelenggarakan upacara tradisi Angon Putu sebagai wujud rasa syukur terhadap keberkahan yang diperoleh keluarganya. Syarat utama penyelenggaraan tradisi ini adalah harus sudah memiliki cucu sebanyak 25 orang.

Berbeda dengan sekarang, di masa silam masyarakat Jawa sangat biasa dengan jumlah cucu yang banyak. Hal ini lantaran belum ada program Keluarga Berencana (KB) yang berlaku sebagaimana hari ini.

Orang-orang Jawa biasanya memiliki anak dalam jumlah yang cukup banyak. Sedangkan di kehidupan mutakhir seperti sekarang, sudah jarang ditemui orang yang memiliki banyak anak. Hal ini berlaku baik di lingkungan desa maupun kota.

1 dari 6 halaman

Sejarah Angon Putu

angon putu

2020 Merdeka.com/budayajawa.id


Dihimpun dari berbagai sumber, tradisi Angon Putu merupakan salah satu tradisi asal Yogyakarta. Angon Putu berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa. Angon berarti menggembalakan dan Putu berarti cucu. Angon Putu secara harafiah dapat diartikan sebagai menggembalakan cucu.

Upacara tradisi Angon Putu merupakan bagian dari Tumbu Ageng. Tumbuk Ageng ialah acara berkumpulnya keluarga besar yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, dan cicit. Orang tua biasanya akan memberikan uang saku kepada masing-masing keturunannya. Uang saku itulah yang kemudian digunakan untuk membeli jajan di pasar.

Setelah puas membeli jajan di pasar, rombongan keturunan ini biasanya akan diarak kembali ke rumah. Dalam perjalanan menuju ke pasar dan sepulangnya, orang tua atau yang biasanya berstatus sebagai kakek nenek sesekali mengayunkan pecut yang dibawanya. Pecut ini merupakan bagian simbolis dalam kegiatan menggembalakan cucu.

Tercatat, beberapa prosesi Angon Putu tidak dilaksanakan di pasar sungguhan. Melainkan keluarga yang bersangkutan membuat semacam pasar tiruan di halaman rumah mereka. Pelaksanaan tradisi Angon Putu biasanya dilakukan ketika masa liburan panjang. Sehingga anak dan cucu dari berbagai kota bisa bersama-sama pulang ke daerah asal orang tuanya, di mana Angon Putu akan dilaksanakan.

2 dari 6 halaman

Makna Angon Putu

angon putu

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Pelaksanaan tradisi Angon Putu menjadi perwujudan rasa syukur keluarga. Rasa syukur itu dikarenakan keberkahan yang selalu melingkupi kehidupan keluarga yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak jarang pada penyelenggaraannya, tradisi Angon Putu berlangsung meriah karena memang merupakan perayaan atas berkah-berkah yang diterima sebuah keluarga.

Angon Putu juga menjadi perekat ikatan kekeluargaan. Terutama apabila anggota keluarga terpisah dan telah memiliki kehidupan di berbagai daerah yang berbeda. Ketika pelaksanaan Angon Putu, para anggota keluarga yang sehari-hari terpisah jarak akan menjadi satu dalam perayaan menggembirakan.

Selain itu, Angon Putu juga memiliki tujuan agar anak, cucu, serta cicit senantiasa menghormati orang tuanya.

3 dari 6 halaman

Angon Putu di Nganjuk

angon putu

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Di Desa Petak, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, sebuah keluarga menggelar perayaan Angon Putu dan berhasil menyita perhatian masyarakat setempat. Tahun 2018, keluarga besar Sakidjo (89) dan Poni istrinya (79) menggelar tradisi Angon Putu.

Dihimpun dari berbagai sumber, tujuan pelaksanaan Angon Putu agar anak, cucu, dan cicit senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya. Saat penyelenggaraan Angon Putu, Sakidjo memiliki 21 cucu dari 9 orang anaknya.

Meskipun ada kepercayaan bahwa syarat minimal bagi keluarga untuk bisa mengadakan Angon Putu harus memiliki cucu sebanyak 25 orang, tetapi Sakidjo kala itu sudah dianggap layak untuk menggelar upacara tradisi tersebut.

Pasalnya, pasangan Sakidjo dan Poni juga telah memiliki sejumlah cicit. Apabila cucu dan cicitnya dijadikan satu jumlahnya bahkan sudah lebih dari 25 orang.

4 dari 6 halaman

Sungkeman

angon putu

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Upacara tradisi Angon Putu di Nganjuk dimulai dengan acara sungkeman. Sembilan anak Sukidjo dan Poni duduk bersimpun di hadapan kedua orang tuanya. Setelah itu, giliran para cucu dan cicit yang melakukan sungkem kepada kakek dan neneknya.

Acara sungkeman itu diiringi isak tangis haru. Setelah sungkeman selesai dilaksanakan, sang nenek akan memberikan sejumlah uang saku kepada para cucunya. Pemberian uang saku itu sebagai bentuk dari tali kasih antara nenek dengan cucu-cucunya. Uang saku itulah yang nantinya akan dibelanjakan ketika mereka diarak ke pasar.

5 dari 6 halaman

Potong Tumpeng

ilustrasi tumpeng

2020 Merdeka.com/solusicatering.com

Setelah prosesi sungkeman selesai, acara dilanjutkan dengan potong tumpeng. Tumpeng dipotong oleh anak pertama dari pasangan Sukidjo dan Poni. Potongan tumpeng pertama itu akan diserahkan kepada kedua orang tuanya.

Sukidjo dan Poni kemudian menyuapkan potongan tumpeng kepada 9 anaknya. Hal ini sebagai simbol bahwasanya orang tua mengayomi anak-anaknya.

6 dari 6 halaman

Menaburkan Kembang 7 Rupa

angon putu

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Selesai memberi makan kepada anak-anaknya, Sukidjo dan Poni menaburkan bunga 7 rupa kepada anak, cucu, serta cicitnya. Proses tabur bunga itu diharapkan bisa membuat keturunannya semerbak wangi di manapun mereka berada.

Penaburan bunga menjadi acara terakhir yang dilaksanakan di rumah keluarga sebelum mereka diarak ke pasar. Mengarak anak, cucu, serta cicit ke pasar merupakan acara inti dari tradisi Angon Putu. Keluarga besar ini akan membelanjakan uang saku yang telah diterima dari neneknya untuk membeli makanan di pasar.

Sementara, mereka meramaikan lapak-lapak penjual di pasar, saudara dari Sakidjo dan Poni membagikan makanan kepada masyarakat sekitar. Makanan itu merupakan bagian dari amal keluarga kepada para tetangga.

(mdk/rka)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami