Surabaya Jadi Kota Termacet di Indonesia Kalahkan Jakarta, Ini Sederet Faktanya

Surabaya Jadi Kota Termacet di Indonesia Kalahkan Jakarta, Ini Sederet Faktanya
Potret kemacetan Jakarta dulu dan sekarang. Instagram/@perfectlifeid ©2021 Merdeka.com
JATIM | 14 Januari 2022 11:23 Reporter : Rizka Nur Laily M

Merdeka.com - Surabaya dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia sepanjang tahun 2021 berdasarkan laporan Global Traffic Scorecard 2021 yang dikeluarkan INRIX.

Menurut perusahaan analisis dan penyedia data pengelolaan lalu lintas itu, tingkat kemacetan di Kota Surabaya sepanjang tahun 2021 mengalahkan tingkat kemacetan Ibu Kota Jakarta.

Sementara di tingkat dunia, Surabaya menempati posisi 41 sebagai kota paling macet.
INRIX menghitung durasi waktu para pengemudi yang terbuang dengan cara menganalisis kecepatan maksimal saat lalu lintas padat dan lalu lintas lancar.

2 dari 3 halaman

Waktu Terbuang

Berdasar catatan INRIX, jumlah durasi waktu terbuang para pengemudi selama jam sibuk di Kota Surabaya mencapai 62 jam dalam setahun dengan kecepatan rata-rata kendaraan 13 mph atau 20,9 km/jam.

DKI Jakarta menduduki peringkat kedua sebagai kota termacet di Indonesia dan peringkat 222 dunia. Durasi waktu terbuang para pengemudi selama periode jam sibuk yakni 28 jam dengan total kecepatan 11 mph atau 17,1 km/jam.

Selanjutnya, peringkat ketiga kota termacet di Indonesia adalah Kota Denpasar dengan durasi waktu terbuang 31 jam dari kemacetan selama periode jam sibuk.

Malang menduduki peringkat keempat sebagai kota termacet di Indonesia. Kota ini tercatat sebagai menjadi peringkat ke-334 sebagai kota termacet di dunia.

Laporan yang dirilis INRIX menunjukkan, pengendara di Kota Malang kehilangan waktu 29 jam setahun selama kemacetan di kota ini.

3 dari 3 halaman

Laporan INRIX

ilustrasi macet©Shutterstock/Artens

Sebagai informasi, INRIX telah melakukan penelitian di lebih dari 1.000 kota di 50 negara di dunia. Penelitian terkait tingkat kemacetan kota dilakukan dengan menggunakan data penyelidikan GPS anonym.

Tujuannya yakni untuk mengidentifikasi rute dan tujuan yang paling sering dikunjungi di seluruh wilayah kota. Hal ini dilakukan untuk menciptakan gambaran perjalanan yang lebih akurat pada suatu wilayah, tidak hanya dari dan ke pusat kota.

“Penelitian ini dilakukan berkenaan dengan pemulihan ekonomi dan sosial saat kondisi pandemi Covid-19,” tulis akun Instagram @aslisuroboyo, Kamis (13/1/2022).

(mdk/rka)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami