Agar tren vlog awet, konten inspiratif jadi kunci

KHAS | 11 Oktober 2016 08:24 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Salshabilla Andriani asyik berfoto bersama kawan-kawannya di pinggir Pantai Pandawa, Bali. Dia bersemangat menuturkan detail perjalannya, sejak dari bandara, hingga proses makan-makan di restoran sepanjang momen pelesir itu.

"Jadi gue udah di Bali, finally akhirnya ke Bali dan bisa main ke pulau lagi. So happy," ujarnya.

Dalam video lain yang diunggah 5 Oktober lalu, pesohor media sosial, Arief Muhammad, tak canggung menampilkan kegiatan bulan madunya bersama istri ke Maladewa. Dalam salah satu percakapan Arief - yang dulu terkenal berkat akun Twitter @Poconggg - diprotes oleh sang istri. "Kenapa istrinya sih yang malah ndorong bagasi?"

"Engga apa-apa, emansipasi," sahut Arief sekenanya.

Inilah sekelumit contoh video blog atau Vlog yang populer. Video kegiatan Salshabilla di Bali ditonton lebih dari 250 ribu orang. Sedangkan vlog Arief sudah melampaui 656 ribu kali diputar. Padahal kedua video itu menampilkan kehidupan sehari-hari belaka, bahkan sebagian bersifat privat. Keduanya sebelum populer juga bukan artis.

Dengan demikian, apa yang menyebabkan format penceritaan vlog menjadi populer? Pemerhati IT, Abimanyu Wachjoewidajat, meyakini gairah publik merayakan eksistensi seseorang tak pernah padam.

Manusia selalu senang berbagi cerita, apalagi jika cerita pribadi itu dikemas menarik. Inilah keunggulan vlog menurut Abimanyu. Dalam prediksinya, vlog akan populer sampai beberapa tahun ke depan. Artinya, vlog adalah pertemuan antara kemajuan teknologi yang memudahkan seseorang berbagi cerita menemukan khalayak yang menyukai kisah-kisah menarik, dari manapun asalnya.

Selain itu, vlog populer karena memangkas jalur birokrasi pencarian bakat artis terbaru yang selama ini berlangsung tradisional di televisi. Tak heran bila vlogger kondang sering mendapat tawaran melakoni serial ataupun datang ke acara bincang-bincang televisi.

Arief Muhammad bersama istrinya membuat vlog (c) 2016 Merdeka.com/Youtube

"Yang kaya gini kan bisa mengorbitkan seseorang juga ke layar kaca ternyata mukanya enak dilihat, ternyata mainnya bagus, otomatis dipanggil media atau production house," kata Abimanyu saat dihubungi merdeka.com.

"(Vlog) menurut saya bertahan lama, malah ke depan semakin menggila," imbuhnya.

Pengampu mata kuliah Interaksi Manusia Komputer di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan vlog sebetulnya memiliki semangat seperti sarana hiburan lain: Yakni adanya kebaruan serta pengemasan ide yang menarik. Oleh sebab itu, mereka yang ingin serius menekuni vlog tidak boleh abai pada kemampuan teknis dasar seperti penyuntingan video serta pengambilan gambar.

Abimanyu melihat mayoritas vlogger populer di Indonesia sudah menggunakan piranti audio visual canggih. Hal ini berpengaruh pada kualitas gambar yang membuat orang betah berlama-lama menonton karya mereka, termasuk cerita pribadi sekalipun.

"Antara gambar sama alat harus selalu mendukung, karena ide itu pusing loh, kalau jelek gambar, bisa diambil orang dengan cahaya yang lebih baik sehingga punya orang yang ditonton, padahal itu ide kita," urainya.

Pengamat media sosial, Enda Nasution, mengungkapkan pandangan serupa. Dia optimis tren vlog bukan fenomena sesaat. Alasannya, vlog merupakan medium yang lengkap dalam mengekspresikan seseorang.

Vlog adalah perpanjangan dari blog yang sempat populer pada pertengahan 2000-an. Artinya, penggemar kisah-kisah personal sebetulnya sejak lama ada, hanya kini beralih medium audio visual.

Raditya Dika salah satu vlogger terpopuler Indonesia (c) 2016 Merdeka.com/Youtube



"Kalau dulu kan blog hanya tulisan. Sekarang sudah ada handphone bagus, kamera bagus, jadi ambil video gampang. Memang sudah saatnya sekarang muncul vloggers dan (popularitasnya) dalam waktu lama menurut saya," kata Enda ketika dihubungi terpisah.

Untuk menunjang eksistensi pembuat vlog, Enda mengingatkan mereka supaya menghindari pelanggaran hukum. Misalnya memuat konten bernuansa pornografi.

Vlogger yang tidak hati-hati mengunggah karya rentan mengundang banyak kontroversi dan melanggar UU ITE hingga berujung ke kepolisian. Artinya memproduksi konten inspiratif pasti lebih awet popularitasnya.

"Syaratnya mereka buat vlog itu ada manfaatnya buat orang lain, apakah itu menghibur, informasi. Selama buat orang itu menarik, maka bukan masalah bertahan lama atau tidak," kata Enda.

(mdk/ard)