Bahaya Panas Iklim Ekstrem

KHAS | 15 Juli 2019 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Jumat pukul 11 siang, pekan lalu. Panas matahari begitu menyengat. Suhu di ponsel pintar menunjukkan angka 33 derajat celsius. Mengendarai sepeda motor melewati jalan protokol di Jakarta sungguh cobaan berat. Ditambah harus menghadapi lalu lintas yang padat.

Kendaraan hanya bisa melaju 20 kilometer per jam kala itu. Melewati Jalan Letjen Soeprapto, menuju arah Tebet. Sepanjang jalan banyak pejalan kaki menepi. Berlari menuju pepohonan teduh di atas trotoar. Mata menyipit dan dahi mengernyit. Menutupi wajah dengan tangan. Berusaha terhindar dari panas matahari.

Suhu hari itu terbilang tinggi. Perubahan iklim cukup terasa. Meski belum ekstrem seperti sedang terjadi di banyak belahan dunia. Bahkan sampai menyebabkan banyak es di kutub mencair.

Kekhawatiran dehidrasi mengintai. Di tengah jalan menuju lokasi, coba sebentar menepi. Membeli minum air mineral kemasan. Tidak kuat rasanya melewati seluk beluk jalan ibu kota. Tapi apa daya sudah kepalang janji harus sampai lokasi. Tancap gas lagi tanggung akan sampai sedikit lagi.

Perbanyak minum air putih menjadi salah satu solusi. Di tengah panas terik ini banyak potensi penyakit terjadi. Apalagi daya tahan tubuh menurun. Mudah bagi tubuh terserang penyakit.

Serangan cuaca panas (heat stroke) bisa saja terjadi ketika itu. Kondisi itu menyebabkan kondisi tubuh meningkat tajam dan tiba-tiba dalam waktu cepat. Menandakan suhu panas di lingkungan sekitar telah mencapai batas toleransi tubuh.

Secara langsung, heat stroke bisa mengakibatkan kulit terbakar, kulit kering, gatal-gatal dan menimbulkan luka lecet. Termasuk menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi yang tidak disadari akan memicu penyakit lain, misalnya mengganggu aliran darah menuju otak, jantung, saluran kencing dan ginjal.

"Dampak lanjutan ini yang kita khawatirkan," ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih kepada merdeka.com, pekan lalu.

Faqih menuturkan, banyak orang abai terhadap gejala dehidrasi. Terutama orang yang jarang mengonsumsi air minum. Padahal dalam cuaca panas ekstrem membuat tubuh banyak mengeluarkan cairan.

Perubahan iklim juga mengakibatkan perubahan cuaca tak menentu. Dalam kondisi ini juga resiko terserang flu, demam dan gangguan pencernaan bisa terjadi. Begitu juga saat memasuki musim penghujan yang berakhir banjir.

Bahkan saat banjir. Potensi penyakit kencing tikus mudah menyerang manusia. Sebab tempat tinggal tikus tergenang air. Bakteri leptospira dengan mudah sampai di manusia lewat air genangan tersebut. "Masyarakat harus waspada terhadap kencing tikus karena bisa ada bakteri leptospira," ujar Faqih.

Penyakit ini dibawa bakteri leptospira interrogonas. Masuk ke dalam tubuh manusia lewat kulit pada luka terbuka, kulit kering atau lapisan lendir tubuh seperti mata, hidung dan mulut.

Di dalam tubuh, bakteri ini akan menyebar melalui aliran darah dan sistem getah bening pada tiap organ dalam. Jika dibiarkan, penyakit ini akan menyebabkan gangguan pada paru dengan gejala napas pendek dan batuk mengeluarkan darah. Gangguan ginjal juga akan mengakibatkan kondisi gagal ginjal.

Bukan hanya itu. Leptospira dapat memicu gangguan otak dengan gejala meningitis. Serta gangguan jantung yang memicu peradangan jantung (miokarditis). Meski begitu, penyakit ini tidak ditularkan antar manusia. Tetapi, tidak menutup kemungkinan berpotensi menular lewat air susu ibu atau hubungan seksual.

Liburan ke Monas 2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Perubahan iklim juga mengakibatkan suhu bumi menghangat. Potensi sebaran penyakit juga meningkat seiring dengan perubahan cuaca. Paling kentara dan sering biasanya penyakit demam berdarah, demam kuning (yellow fever), chikungunya.

Biasanya jenis nyamuk ini ada di daratan rendah. Namun, belakangan wabah DBD ini muncul di beberapa kota pegunungan. Wilayah dengan ketinggian 1000 meter seperti Temanggung dan Wonosobo.

Menghangatnya wilayah ini jadi tempat baru bagi nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak. Apalagi bila tidak dibarengi dengan antisipasi masyarakat. Nyamuk jenis ini menyukai genangan air bersih dengan suhu yang hangat. Meski bukan penyakit baru, potensi penyebaran DBD perlu diantisipasi seiring terjadinya perubahan iklim.

Peningkatan suhu tiap tahun memengaruhi pola dan sebaran penyakit. Penyakit yang bersumber dari sebaran virus sangat tergantung pada vektor (pembawa virus). Sebaran nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor akan mencari banyak tempat hangat untuk berkembang-biak.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Anung Sugihantono menjelaskan, beberapa penyakit diduga ditengarai aktivitas kembali bibit penyakit dibawa bangkai. Penyakit dari bangkai hewan atau manusia di masa lalu ini biasa disebut re-emerging crisis.

Dalam dunia kesehatan, re-emerging crisis merupakan penyakit yang sebelumnya ada dan telah dinyatakan hilang atau tidak ada lalu kembali muncul. Bahkan bangkai itu bisa menimbulkan penyakit baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Contohnya, kata dia, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis penyakit pernapasan ditularkan tikus terinfeksi hantavirus. Misalnya, menghirup debu terkontaminasi sarang atau kotoran tikus.

Diperkirakan tahun 1951-1954 jadi awal mua ditemukannya HPS. Saat itu, lebih dari tiga ribu tentara Amerika di Korea terinfeksi hantavirus. Virus ini menyebabkan banyak kematian akibat gagal jantung.

Dalam waktu yang sama, virus tersebut menyebar hingga ke Amerika. Virus ini kemudian diisolasi pada tahun 1976. Hantavirus pertama kali ada di Indonesia tahun 2002. Setidaknya ada 11 kasus yang dilaporkan. Penyakit ini dibawa dan disebar oleh rattus norvegicus atau tikus got. Meski bukan spesies asli Indonesia, tikus ini mudah berkembang biak dan menyebar ke seluruh dunia lewat jalur perdagangan.

Beberapa jenis penyakit infeksi baru lainnya adalah SARS (sindrom pernapasan akut), Avian influenza (flu burung), ebola dan Japanese Encephalitis.

Peningkatan suhu akibat perubahan iklim juga menyebabkan beberapa penyakit lainnya. Yaitu, infeksi saluran pernapasan (ISPA), malnutrisi yang menyebabkan gizi buruk, penyakit jantung, asma sampai paru-paru.

Meski begitu, Anung menyebut potensi penyakit menular meningkat sejalan dengan perubahan daya tahan tubuh manusia dan aktivitas dari bibit penyakit. Untuk iu, ada empat hal yang saling berhubungan sebagai dampak dari perubahan iklim. Yakni manusia, sumber penyakit, lingkungan dan perilaku.

"Keempat hal ini selalu ada dinamika dalam penularan penyakit. Ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain," kata Anung.

Anung menjelaskan, saat musim panas daya tahan menurun manusia menurun karena kurang cairan. Sementara bibit penyakit masih ada yang bertahan. Dengan begitu memudahkan kuman aktif menyerang manusia dan menyebarkan penyakit.

Di sisi lain, lingkungan memengaruhi perilaku manusia. Seperti saat hari sedang panas, orang akan melakukan upaya untuk membuatnya nyaman. Misalnya membuka pakaian. Saat itulah potensi terserang penyakit bisa terjadi.

Baca juga:
Keluh Air Semakin Keruh
Hewan di Alam Punah Perlahan
Potret Aktivis Iklim Greta Thunberg Hiasi Padang Jagung
Potret Pilu Beruang Kutub Cari Makan Hingga ke Tengah Kota
Aksi Aktivis Lingkungan Blokade Jembatan di London
Aksi Aktivis Lingkungan 'Duduki' London

(mdk/ang)

BERI KOMENTAR
Join Merdeka.com