Bahu-membahu Melindungi Pahlawan Medis

Bahu-membahu Melindungi Pahlawan Medis
Ilustrasi Petugas medis. ©Paolo Miranda/AFP
KHAS | 6 April 2020 09:17 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Sederet dokter satu per satu gugur. Mereka pahlawan di tengah serangan wabah pandemi virus corona (Covid-19). Sebagian meninggal status positif corona dan sisanya merupakan pasien dalam pengawasan (PDP). Kekurangan alat pelindung diri (APD) menjadi salah satu penyebab. Bukan hanya dokter, tim perawat juga merupakan objek paling rentan tertular.

Kelangkaan paling dirasakan sejak awal Maret. Ketika itu pemerintah mengumumkan terdapat dua pasien dinyatakan positif corona. Mulai dari situ, masyarakat berbondong memborong APD. Utamanya membeli masker. Kondisi ini membuat harga di pasaran melonjak dan stok barang semakin tipis.

Keluhan kelangkaan dan mahal APD dirasakan betul Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M. Faqih. Menurut dia, banyak relawan dan petugas medis di rumah sakit kekurangan beberapa barang APD, seperti hazardous material (hazmat), masker medis, dan kacamata sampai sepatu boot. Kemudian berbagai APD itu dipakai berulang kali yang seharusnya dilarang.

imbauan dokter dan paramedis
Tim dokter dan paramedis ©2020 Liputan6.com/Johan Tallo

"Seharusnya sekali pakai, harus langsung dibuang. Tapi Karena ada kelangkaan jadi kawan-kawan tenaga medis terpaksa memakainya berkali-kali," kata dr. Daeng M. Faqih kepada merdeka.com, Minggu kemarin.

Untuk kacamata dan sepatu boot, kata dia, bisa dipakai hingga tiga kali. Lantaran langka, banyak tim medis dan perawat di lapangan terpaksa memakai lebih dari anjuran. Mereka bisanya merendam dengan deterjen untuk digunakan kembali.

Baca Selanjutnya: Kelangkaan APD di pasaran begitu...

Halaman

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami