Balap Formula E, Persembahan Anies untuk Ibu Pertiwi

Balap Formula E, Persembahan Anies untuk Ibu Pertiwi
Jokowi serahkan piala ke pemenang Formula E Jakarta. ©Liputan6.com/Herman Zakharia
KHAS | 8 Juni 2022 09:09 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Balap mobil listrik Formula E di Jakarta E-Prix International Circuit (JIEC), Ancol, rampung digelar Sabtu 4 Juni 2022. Kontroversial sejak awal direncanakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membuktikan dengan suksesnya penyelanggaraan.

Mitch Evans dari tim Jaguar TCS Racing menjadi yang tercepat disusul oleh Jean-Eric Vergne (DS Techeetah) dan Edoardo Mortara (ROKiT Venturi Racing). Tidak ada semprotan botol sampanye dari tiga pembalap yang berada di podium usai Presiden Joko Widodo menyerahkan piala.

Anies turut menyerahkan piala kepada Director Jaguar TCS Racing, James Barclay. Ketua MPR Bambang Soesatyo yang juga ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Ahmad Sahroni yang merupakan ketua panitia menyerahkan tropi kepada dua pembalap lainnya.

"Ketika hadir kesempatan untuk mengibartinggikan nama Ibu Pertiwi di hadapan dunia, kami tak tunda menyambutnya. Ketika tantangan bertubi hadir bersamanya, kami tak lelah menuntaskannya. Ketika ragu dan cela terus disandangkan, kami katakan: biar waktu dan kerja kami semua yang akan membuktikannya," tulis Anies dalam unggahan di Facebook-nya.

"Semoga hari ini menyalakan harap dan meneguhkan tekad. Bahwa kita mampu hadirkan pagelaran global dengan kerja cepat dan mutu tinggi. Dan bahwa kita peduli dengan masa depan bumi, lingkungan yang lestari, dengan memanfaatkan teknologi," tulis Anies lagi.

Melalui balapan Formula E di Jakarta, Anies berharap membuka mata dunia bahwa Jakarta adalah kota global yang berdiri sama tinggi dengan megapolitan dunia lainnya. "Dan bahwa anak-anak bangsa Indonesia tak bisa diremehkan, tak mau hanya berdiri di pinggir lapangan, dan tak segan untuk berada di paling depan," ujarnya.

Unggahan Anies ini seolah ingin menjawab kepada semua pihak yang selama ini menentang ambisinya menggelar Formula E di Jakarta.

Cuma punya waktu 54 hari di awal Februari lalu untuk membangun sirkuit dari nol, banyak yang meragukan pembangunan sirkuit akan selesai tepat waktu dengan kualitas sesuai persyaratan FIA. PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama (Jakon) saat itu mengerahkan ratusan pekerja yang bekerja 24 jam penuh setiap harinya.

"Di balik kesuksesan acara Jakarta E-Prix kemarin, ada ribuan tangan yang terlibat mewujudkannya. Petugas konstruksi, petugas kesehatan, pengemudi transportasi, penyedia makanan, pengurus perizinan, dan banyak lagi yang bekerja dalam sunyi," ucap Anies.

Bagi Anies, semua pihak yang terlibat, tak hanya membangun sirkuit, tapi membangun kebanggaan bagi kota dan negara. "Mereka tak hanya menggelar balapan, tapi menggelar rasa percaya diri bagi bangsa. Karena mimpi adalah kunci, dan mereka semua telah berlari tanpa lelah untuk meraihnya. Salam hormat dari kami semua," kata Anies.

2 dari 4 halaman

Tanpa Sponsor Negara

negara rev1

Sponsor menjadi salah satu sorotan dalam pelaksanaan Formula E di Ancol. Berbeda dengan balapan MotoGP di Mandalika, tak satupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mau mengucurkan dana untuk Formula E.

Ketua Panitia Ahmad Sahroni mengaku sampai memelas kepada Kementerian BUMN. Bukan karena butuh dana sponsor, tapi politikus Partai NasDem itu berdalih untuk kebanggaan Indonesia.

"Ini bukan masalah duit tapi pride (kebanggaan), bahwa BUMN hadir itu untuk Indonesia," katanya kepada wartawan, di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (2/6).

"Saya menyampaikan per hari ini tentang BUMN. Kenapa orang bilang. 'Lau (Anda) melas-melas kemarin minta sponsor'. Gua memelas minta BUMN untuk bergabung demi bangsa dan negara bukan melas karena faktor yang lain. Karena saya melas untuk BUMN, untuk ikut serta bahwa Indonesia ada untuk kegiatan Formula E," tambahnya.

Sementara Vice Managing Director Formula E, sekaligus Direktur Bisnis PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Gunung Kartiko mengatakan, pelaksanaan Formula E tidak tergantung dari ada tidaknya sponsor dari BUMN.

Panitia penyelenggara sebetulnya telah mengajukan proposal kepada BUMN untuk menjadi sponsor namun tidak direspons. Gunung menyebut ada 30 sponsor lokal yang berpartisipasi.

Padahal, saat balap MotoGP di Mandalika, Lombok, sejumlah BUMN ramai-ramai menjadi sponsor. PT Pertamina (Persero) menjadi sponsor utama. Beberapa BUMN lainnya adalah PT Telkom Indonesia, PT Telkomsel, BRI, Bank Mandiri, BTN, hingga PT PGN.

Pihak Kementerian BUMN melalui juru bicaranya Arya Sinulingga mengklarifikasi mengapa tidak ada satupun BUMN yang menjadi sponsor. Apalagi muncul kesan BUMN tidak mendukung Formula E di Jakarta.

Arya mengatakan sebagian dari korporasi BUMN baru menerima proposal dari Panitia Penyelenggara Jakarta E-Prix 2022 sebulan sebelum acara.

"Dalam mendukung event besar dan berskala internasional, BUMN memerlukan waktu untuk melakukan proses pengkajian sponsorship, termasuk pengkajian kelayakan secara bisnis dan model kerja sama agar memenuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG)," kata Arya dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 3 Juni lalu.

Arya menambahkan, pada umumnya BUMN menerima proposal event besar berskala internasional paling cepat tiga bulan sebelumnya atau bahkan setahun sebelumnya.

"Dengan demikian ada waktu cukup untuk melakukan kajian sebelum mengambil keputusan yang didasari oleh aspek bisnis dan kontribusi nilai sosial BUMN kepada masyarakat," ujarnya.

Arya menegaskan, ada satu BUMN yang turut menjadi sponsor yakni PT Indosat Tbk, yang dikenal sebagai Indosat Oredoo Hutchison. Perusahaan telekomunikasi itu sebagian sahamnya dimiliki BUMN.

Kesan pemerintah pusat tidak mendukung balapan Formula E juga dibantah Presiden Jokowi. Usai balapan di sirkuit JIEC, Jokowi mengungkapkan dukungan yang telah diberikan dalam berbagai cara. Sejak tahapan persiapan Formula E, Jokowi mengaku memberikan dukungan secara pribadi dengan mengecek pembangunan sirkuit.

Di sisi lain, Jokowi mengatakan, pemerintah memberikan perizinan acara hingga logistik dan bea cukai. "Ya Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan baik. Saya kira ini even masa depan karena kita tahu nanti akan ada pergeseran dari mobil yang sekarang banyak nanti ke pemakai mobik listrik," jelasnya.

3 dari 4 halaman

Ditentang Sejak Awal

awal rev1

Nuansa politis mewarnai pelaksanaan balap Formula E di Jakarta. Dua tahun gagal digelar karena pandemi Covid-19, langkah Anies Baswedan membayar commitment fee Rp560 miliar membuat anggota DPRD DKI merasa dilangkahi.

Puncaknya Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Fraksi PDI Perjuangan sampai mengajukan rencana interpelasi terhadap Gubernur Anies Baswedan. Namun, rencana itu kandas karena partai pendukung Anies di DPRD DKI menggagalkan. Rapat paripurna interpelasi tidak pernah terlaksana.

Ganjalan lainnya adalah lokasi sirkuit yang awalnya direncanakan di kawasan Monas dan sekitar Jalan Medan Merdeka hingga Jalan Sudirman-Thamrin dan GBK. Pemerintah pusat menolak dengan alasan kawasan cagar budaya. Pemprov DKI melalui PT Jakpro terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membangun sirkuit baru.

"Lucu, suara mobilnya unik. Mirip balap mobil Tamiya," ucap Reza, warga Meruya, Jakarta Barat usai menonton balapan.

Reza mengaku bukan penggemar otomotif ataupun balap mobil. Apalagi Formula E yang dia tidak tahu para pembalapnya. "Gue penasaran aja, seperti apa sih balap mobil listrik," ujarnya.

Bahkan Reza mendapatkan tiket dari calo di hari H balapan, karena sejak awal dia tidak berniat menonton ke sirkuit. Dari harga normal Rp250 ribu, Reza membayar tiket di calo Rp300 ribu. "Mereka bilangnya jual rugi, karena pas mau balapan masih banyak tiket yang belum laku di tangan calo," tutur Reza.

Sedangkan Irfan, warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur datang sejak pagi bersama keluarganya. Dia antusias ingin menyaksikan langsung balapan sekaligus berwisata ke kawasan Ancol. Meski begitu, Irfan mengaku tidak terlalu familiar dengan balapan Formula E.

"Saya ikutin Formula 1. Tapi saya senang nonton balapan mobil atau motor. Kemarin balap motor MotoGP di Mandalika itu enggak kesampaian karena jauh. Sekarang di Jakarta, kampung sendiri, ya nonton," ujarnya.

Soal pro kontra dan nuansa politis Formula E, Irfan tidak mau menghiraukan. Dia hanya ingin menikmati event balapan.

"Harusnya enggak usah mikirin pro-kontranya. Saya waktu ada balapan Mandalika nonton aja. Klo ada tiket di kampung sendiri pasti nonton. Ya saya org Jakarta begitu ada balapan mobil ya kenapa enggak. Apalagi ini pertama kali dan saya penasaran mobil listrik," tutur Irfan.

4 dari 4 halaman

Berapa Keuntungan Formula E

formula e rev1

Gubernur Anies Baswedan menyebut penjualan tiket Formula E sold out. PT Jakpro sebagai penyelenggara belum menghitung berapa pendapatan yang diperoleh.

Total tiket Formula E Jakarta yang dijual berjumlah 52.500. Kategori VVIP sebanyak 1.500 tiket, VIP 1.050 kursi, dan sekitar 10 ribu tiket untuk kategori grandstand. Sisanya sebanyak 40 ribu tiket untuk kategori Ancol Festival dan Circuit Festival. Harga tiket termurah sebelum dikenai pajak Rp250 ribu dan yang paling mahal Rp10 juta.

Direktur Utama Jakpro, Widi Amanasto mengatakan proses penghitungan masih dilakukan. "Lagi dihitung sekarang, termasuk dari sponsor lagi dihitung, direkonsiliasi semuanya," kata ujarnya di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa, 7 Juni.

Widi mengaku belum berani memberikan perkiraan angka keuntungan dari pelaksanaan Formula E. PT Jakpro saat ini masih membongkar sejumlah fasilitas pendukung termasuk peralatan yang disewa.

"Kami dismantle (bongkar) dulu yang lainnya, yang kami sewa, kami kembalikan, aset-asetnya," kata Widi.

Dihubungi terpisah, Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol, Ariyadi Eko Nugroho menyebut ada 20 ribu pengunjung yang berada di kawasan Ancol saat Formula E berlangsung Sabtu 4 Juni lalu.

"Data pengunjung yang masuk area Ancol festival itu di 15 ribu orang. Kalau ditotal sama penonton sirkuit itu ada sekitar 20 ribu orang," ujarnya.

Sedangkan jumlah pengunjung Ancol sehari setelah Formula E digelar lebih banyak. "Hari Minggu tanggal 5 Juni kemarin finish di 34 ribu orang," kata yang enggan mengungkapkan pendapatan pihak Ancol selama sehari pelaksanaan Formula E.

Sementara Ketua Panitia Pelaksana Ahmad Sahroni yang dihubungi melalui stafnya enggan menanggapi pertanyaan yang dikirimkan merdeka.com.

"Bapak lagi ke Singapura sampai weekend. Enggak mau ngomong soal Formula E dulu," ujar staf tersebut. (mdk/bal)

Baca juga:
Tak Ada Keterlibatan BUMN dalam Formula E Timbulkan Polemik
Crazy Rich Grobogan Buka-bukaan Alasan Bersedia jadi Sponsor Formula E
Pesan Politik Tersirat dari Formula E Jakarta
Jakpro Optimis Formula E Untung
Wagub DKI: Enggak Ada Kepentingan Politik Dalam Formula E
Fraksi PDIP DPRD DKI Gaungkan Lagi Interpelasi Formula E

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini