Mild Report

Bayang-Bayang Kerusuhan di Tengah Pelantikan Joe Biden

Bayang-Bayang Kerusuhan di Tengah Pelantikan Joe Biden
gedung capitol persiapan pelantikan joe biden. ©Reuters
KHAS | 20 Januari 2021 16:39 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Sorak sorai ratusan ribu penonton usai lagu kebangsaan dilantunkan. Balon-balon beterbangan, musik dan parade beriringan. Upacara pelantikan seorang presiden Amerika Serikat biasanya dipenuhi kegembiraan dan gegap gempita perayaan kebahagiaan. Amerika adalah negeri demokrasi tertua di dunia yang selalu menjalani tradisi perpindahan kekuasaan secara damai.

Tapi tidak tahun ini.

Menyusul penyerbuan ke Gedung Capitol AS oleh para pendukung Presiden Donald Trump 6 Januari lalu, suasana jelang pelantikan presiden terpilih Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris dipenuhi ketegangan dan kecemasan ditambah pelantikan kali ini berlangsung masih di tengah pandemi Covid-19. Faktor keamanan jadi sorotan utama pada pelantikan presiden AS kali ini.

anggota garda nasional jaga ketat capitol as
©2021 REUTERS/Joshua Roberts

Sebanyak 31.000 aparat keamanan dari Garda Nasional dan penegak hukum dikerahkan untuk melindungi Washington. Sebagian besar jalan utama di ibu kota AS itu ditutup jelang pelantikan, biasanya sehari penuh untuk perayaan dan pesta-pesta. Tapi kali ini jalanan utama sudah ditutup karena aturan pembatasan akibat pandemi Covid-19.

Meski masih akan ada parade, Wali Kota District of Columbia, tempat lokasi Gedung Capitol berada, Muriel Bowser, menyerukan 684.000 warga di wilayahnya untuk tetap di rumah. AirnBnb membatalkan semua pemesanan kamar dan pertokoaan juga ditutup.

infografis pelantikan joe biden
©2021 Merdeka.com

Kementerian Pertahanan juga mengerahkan tentara aktif untuk berkoordinasi dengan Badan Manajemen Kedaruratan Federal, tim medis untuk melakukan pengujian Covid-19 yang membantu dokter Kongres dan anggota tambahan sebagai pendukung.

Secara keseluruhan, kata pejabat Pentagon, ada sekitar 2.750 tentara aktif yang dikerahkan untuk membantu pengamanan pelantikan, tapi dari angka itu sekitar 2.000 tentara bertugas membantu acara seremonial, seperti marching band militer.

Pejabat pentagon menegaskan, para tentara aktif itu dikerahkan untuk menangani insiden jika terjadi kejadian yang tidak inginkan, ketimbang tindakan pencegahan.

Sementara itu Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara atau NORAD bertugas memastikan larangan penerbangan di langit Washington di hari pelantikan.

"Sejumlah sumber daya dikerahkan, termasuk pesawat tempur dan pesawat baling-baling untuk mengantisipasi berbagai pesawat yang bisa mengancam keamanan di kawasan pelantikan," kata pejabat Pentagon.

infografis pelantikan joe biden
©2021 Merdeka.com

penutupan jalan di pelantikan joe biden

©BBC

Anarki di Gedung Simbol Demokrasi

Penutupan pesta demokrasi di Amerika Serikat ternoda oleh ulah segerombolan perusuh yang menyerbu dan menyerang Gedung Parlemen atau US Capitol pada 6 Januari lalu. Para perusuh ini adalah pendukung garis keras Presiden Donald Trump yang kebanyakan merupakan aktivis sayap kanan. Mereka menyerbu Capitol saat pelaksanaan rekapitulasi tahap akhir suara elektoral Pilpres 2020. Mereka tak terima Trump kalah dari Biden, menuduh pilpres berlangsung curang.

Dalam penyerbuan mematikan itu, lima orang tewas, salah satunya adalah anggota Kepolisian Capitol. Para anggota Kongres yang sedang menghadiri sidang rekapitulasi dan penetapan presiden terpilih itu dievakuasi dari ruang paripurna. Sidang ditunda selama beberapa jam. Namun akhirnya Kongres berhasil menetapkan pemenang pilpres hari itu juga.
Pascakerusuhan, kritik dilontarkan kepada aparat penegak hukum yang dinilai tak melakukan persiapan matang mengawal agenda penting tersebut. Bahkan diduga ada peran veteran militer dalam aksi tersebut.

Kerusuhan Capitol terjadi dua pekan sebelum pelantikan Presiden AS terpilih Joe Biden dan Wakil Presiden AS terpilih Kamala Harris. Pasangan ini akan dilantik Kamis (20/1) besok sekitar pukul 11.30 waktu Washington, DC. Aksi itu memicu aparat penegak hukum meningkatkan kesiagaan jelang pelantikan.

kerusuhan di gedung capitol as

Potensi Kekerasan

Sekitar sepekan setelah kerusuhan Capitol, FBI mengirim memo ke aparat penegak hukum seluruh AS bahwa ada potensi unjuk rasa bersenjata di gedung parlemen atau Capitol di 50 negara bagian mendekati hari H pelantikan. Pekan lalu, Direktur FBI, Chris Wray mengatakan pihaknya memperhatikan adanya potensi kekerasan dalam unjuk rasa di Washington dan di negara bagian seluruh AS. Dikutip dari France 24, Selasa (19/1), Wray memperingatkan, kejadian-kejadian seperti itu bisa membawa orang-orang bersenjata mendekati gedung pemerintah dan pejabat terpilih.

Wray mengatakan FBI menerima informasi dalam jumlah yang “signifikan” yang telah diteruskan ke lembaga penegak hukum lainnya menjelang pelantikan.

Pejabat federal memperingatkan lembaga penegak hukum lokal bahwa kerusuhan di Capitol bisa mengobarkan kekerasan lainnya.

“Kami sedang melihat individu yang mungkin ingin mengulangi jenis kekerasan yang sama seperti yang kami lihat pekan lalu,” jelas Wray, menambahkan bahwa sejak 6 Januari, FBI telah mengidentifikasi lebih dari 200 tersangka.

“Kami tahu siapa Anda. Jika Anda berada di luar sana, agen FBI akan datang untuk mencari Anda.”

Dia menambahkan, lebih dari 100 orang telah ditangkap sejauh ini, dan banyak penyelidikan lain yang juga sedang berlangsung.

anggota garda nasional tertidur di capitol as
©2021 REUTERS/Joshua Roberts

Negara bagian di seluruh AS meningkatkan pengamanan untuk menghadapi kemungkinan unjuk rasa bersenjata dan kekerasan akhir pekan ini, terutama di gedung-gedung pemerintah. Para pejabat sedang meninjau kembali rencana pengamanan mereka untuk target berisiko tinggi dan polisi di kota-kota besar sedang bersiap untuk siaga taktis jika diperlukan.

Penangkapan Pria Membawa Senjata dan Amunisi

Insiden lainnya yang terjadi jelang pelantikan ialah penangkapan seorang pria bersenjata asal Virginia oleh polisi di Capitol karena ingin masuk ke gedung tersebut menggunakan surat izin palsu. Dalam mobilnya, pria yang diidentifikasi sebagai Wesley Allen Beeler ini membawa senjata dengan 509 amunisi, magazin dan peluru senapan, kata dokumen pengadilan, seperti dikutip dari Times of Israel. Laporan polisi menyatakan Beeler ditangkap atas tuduhan memiliki senjata tanpa izin dan sejumlah amunisi.

Siaga tinggi jelang agenda penting pelantikan presiden dan wakil presiden baru kali ini diperlakukan cukup ekstra, salah satunya dapat dilihat dari jumlah pasukan Garda Nasional yang dikerahkan yaitu 25.000. Jika dibandingkan dengan pelantikan Donald Trump pada 2017 dan digabung dengan pelantikan Barack Obama pada 2013, jumlah pasukan yang dikerahkan untuk pelantikan Biden masih jauh lebih besar.

Dikutip dari Newsweek, saat pelantikan Trump, pasukan yang dikerahkan sebanyak 8.000 orang. Sementara saat pelantikan Obama pada periode kedua di 2013, hanya 6.000 pasukan Garda Nasional yang dikerahkan. Pada pelantikan periode pertamanya di 2009, pasukan yang dikerahkan sebanyak 10.000 orang.

Sejarah Kerusuhan Capitol yang Berulang

Gangguan keamanan besar jelang pelantikan presiden di AS juga pernah terjadi 160 tahun lalu, pada masa Abraham Lincoln. Sebelum Lincoln dilantik, kerusuhan di Capitol pecah ketika tujuh negara bagian di selatan memisahkan diri dari AS antara Desember 1860 dan Februari 1861.

Perjalanan menuju pelantikan pertama Lincoln juga dramatis. Ada upaya pembunuhan terhadap Lincoln, walaupun kemudian berhasil digagalkan pihak intelijen.
Situasi politik tahun 2021 ini dinilai mirip denga napa yang terjadi 160 tahun lalu, sebagaimana disampaikan pakar politik Robert Lieberman, yang juga penulis Four Threats: The Recurring Crises of American Democracy.

“Menurut saya 1860-1861 mungkin analog terbaik untuk (2021),” ujarnya dilansir TIME, Jumat (15/1).

Leiberman mengatakan, penyerangan Capitol pada 6 Januari 2021 merupakan “yang paling dekat dengan tahun 1861, satu contoh kegagalan nyata dari apa yang Anda sebut peralihan kekuasaan damai yang berjalan lancar."

abraham lincoln
©vk.com

Perbedaan besar yang Lieberman temukan antara dulu dan sekarang adalah bahwa pemberontakan 2021 datang “dari dalam pemerintahan,” merujuk pada anggota Kongres dan Presiden Donald Trump yang menghasut para pemberontak.

Pada 1860, Demokrat di wilayah Selatan “semua setuju Lincoln menang. Tetapi kesamaannya mungkin, dalam kedua kasus, ada penolakan terhadap proses demokrasi,” jelas Direktur Pusat Era Perang Sipil George dan Ann Richards Universitas Negeri Pennsylvania, Rachel Shelden.

“(Hari ini) kami melihat penolakan terhadap gagasan bahwa mayoritas memilih Joe Biden, dan pada tahun 1860 meskipun orang-orang ini mengatakan ya, Lincoln memenangkan pemilihan, itu, bagi mereka, berarti mereka harus meninggalkan Persatuan, yang mana dalam dan dari dirinya sendiri, penolakan terhadap demokrasi. Mereka berdua menolak proses demokrasi, hanya dengan cara yang berbeda.”

Sejarawan Ted Widmer mengatakan kepada New York Times, massa memang berusaha masuk ke Capitol pada 13 Februari 1861, untuk menghentikan penghitungan suara elektoral sah negara bagian. Pihak keamanan US Capitol tidak mengizinkan mereka masuk karena mereka tidak memiliki izin.

Sebaliknya, mereka berdiri di luar melontarkan berbagai hinaan ke kepala petugas keamanan Capitol Jenderal Winfield Scott. Pengamat di TKP saat itu menggambarkan kerumunan itu sebagai "sekam yang mudah terbakar" dengan "revolusi" di benak mereka.

Melihat ke belakang saat Lincoln lolos dari bahaya, kurang dari sepekan setelah serangan massa di US Capitol, Widmer berkata "Rasanya sangat mirip (dengan 6 Januari 2021)."

Awalnya Joe Biden juga memutuskan untuk naik kereta api Amtrak, menempuh perjalanan 90 menit dari rumahnya di Wilmington, negara bagian Delaware, menuju Union Station di Washington pada 20 Januari, hari H pelantikan. Tetapi rencana itu dibatalkan setelah muncul peringatan potensi ancaman kekerasan pada hari pelantikannya menyusul kerusuhan Gedung Parlemen AS atau US Capitol pekan lalu. (mdk/pan)

Baca juga:
Terindikasi Membahayakan, 12 Tentara Garda Nasional Dikeluarkan dari Tugas Pelantikan
Panduan Memahami Pelantikan Joe Biden-Kamala Harris
Pelantikan Joe Biden Diharapkan Bisa Genjot Pengembangan EBT Indonesia
Mencekam, Washington Dijaga Ribuan Tentara Jelang Pelantikan Joe Biden
Hari Pertama Menjabat Joe Biden akan Cabut Larangan Bagi Muslim Masuk AS
Trump Bakal Tinggalkan Washington Pagi Hari Sebelum Pelantikan Joe Biden

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami