Sumpah Pemuda Peranakan Arab untuk Indonesia

KHAS | 16 Agustus 2019 08:04 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Kelompok Arab di Indonesia mengalami perpecahan. Membuat Abdurrahman Baswedan selalu kepikiran. Keinginannya besar agar mereka dipersatukan. Sebagai seorang keturunan Arab yang lahir dan besar di tanah Jawa, dia ingin golongannya berjuang untuk Indonesia.

Masa 1920-an, kelompok Arab terbelah dua. Ada golongan Sayid dan Non Sayid. Mereka punya organisasi masing-masing. Ar Rabitah untuk golongan Sayid dan Al Irsyad diisi Non Sayid.

Kemudian muncul ide Baswedan membuat wadah persatuan. Dia membentuk Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada 1934. Kemudian bertransformasi menjadi partai politik.

Semasa hidup, Baswedan memilih jalur pergerakan. Sampai dikenal pada masa itu sebagai aktivis, jurnalis sekaligus seorang sastrawan. Keberhasilan mempersatukan etnis Arab mendapat apresiasi banyak tokoh nasional ketika itu.

Etnis Arab dan Tionghoa dikenal lebih dahulu tiba di Indonesia. Jauh sebelum kehadiran VOC dan Belanda. Biasanya para pendatang didominasi kaum laki-laki. Mereka berlayar dari tempat asalnya membawa barang dagangan.

Setelah menetap, para pendatang ini menikahi perempuan lokal. Keturunan percampuran ini melahirkan peranakan. Baik peranakan Tionghoa maupun Peranakan Arab. Mereka sekaligus menyebarluaskan agama dan tradisi asal tempat tinggalnya. Sehingga terjadi penetrasi dan akulturasi budaya di Nusantara.

Anies Rasyid Baswedan, cucu AR Baswedan, menceritakan bagaimana etnis Arab di Indonesia ketika itu terpecah. Sebagian peranakan Arab merasa bumi nusantara adalah tanah airnya. Sebab ibu mereka adalah penduduk lokal.

Banyak bahasa ibu peranakan Arab adalah bahasa daerah. Seperti sang kakek yang lahir di Ampel pada 9 September tahun 1908. Anies mengaku sosok AR Baswedan memang memiliki rupa persis orang Arab. Semua akan terasa berbeda ketika berbicara. Logatnya sangat 'medok' khas orang Jawa.

"Mereka selalu menyebutkan bahwa ibu pertiwi (Indonesia) adalah tanah ibu kami. Karena orang-orang Arab datang ke sini sendirian, tidak membawa istri," cerita Anies Baswedan, cucu AR Baswedan kepada merdeka.com pekan lalu.

Peranakan Arab menyatakan Indonesia sebagai tanah airnya. Sebab, mereka dilahirkan ibu penduduk lokal kemudian dibesarkan di bumi nusantara. Mereka memiliki sebutan Akhwal bagi warga lokal. Akhwal berarti saudara ibu.

Pembagian kelas antar golongan di Pemerintahan Belanda, membuat etnis Arab berbeda pandangan. Sebagian rela dicap pribumi. Sementara masih ada penentang dan menganggap tetap Arab.

Kelompok penentang ini biasanya disebut 'Arab Totok'. Mereka adalah orang Arab yang lahir dan dibesarkan di negara asalnya tetapi hijrah ke nusantara. Para pendatang ini sangat menentang keras adanya pengakuan peranakan Arab.

Perpecahan kelompok Arab juga terjadi karena gesekan antar kelompok. Sayid merupakan golongan bangsawan. Sedangkan Non Sayid dikenal sebagai ploretariat. Mereka bernanung dalam dua organisasi. Al Irsyad lahir pada tahun 1915. Sedangkan Ar Rabitah tahun 1928.

Sebelum adanya perpecahan, mereka sebenarnya memiliki satu organisasi bernama Jamiatul Khair yang didirikan pada 7 Juli 1905. Anies menyebut konflik internal ini sudah mengakar dan hampir tidak bisa terurai.

Seiring berjalannya waktu, muncul ide untuk menyatukan peranakan Arab dalam satu wadah. Sang Kakek merupakan pencetusnya. Membuat dua kelompok ini bersepakat mendeklarasikan Indonesia sebagai tanah air. "AR Baswedan bersama keturunan Arab lainnya yang progresif berhasil mendirikan PAI (Persatoean Arab Indonesia) pada 1934," ujar Gubernur DKI Jakarta itu.

©2019 brilio.net

Pada tanggal 3-5 Oktober 1934, mereka menggelar Konferensi Peranakan Arab di Semarang. Acara ini terselenggara berkat dukungan para tokoh keturunan Arab yang dikenal Baswedan.

Dalam pertemuan itu, sejumlah tokoh Al Irsyad dan Ar Rabitah datang dari Surabaya, Semarang, Pekalongan dan Jakarta. Sebanyak 40 orang yang datang merupakan tokoh penting dari dua kelompok tersebut.

Suasana hari pertama kongres cukup canggung. Dua kelompok itu belum pernah duduk satu forum. Baswedan muncul mewakili kelompok Al Irsyad menggunakan kata 'saudara' sebagai pengganti gelar sayid. Ide ini cukup mencairkan suasana konferensi. Gayung bersambut, kelompok Ar Rabitah di bawah pimpinan Nuh Alkaf membahas modus kompromi pergantian gelar Sayid.

Suasana hari kedua konferensi cukup tegang. Tidak sedikit peserta konferensi mengantongi pistol di pinggang. Suasana semakin memanas lantaran adanya provokasi dan berbagai hasutan dari pihak yang ingin etnis ini terus bermusuhan. Terlebih setelah Baswedan menyampaikan ide dan gagasan tema konferensi.

Ada enam usulan dari Baswedan. Pertama, tanah air Arab peranakan adalah Indonesia. Kedua, kultur Arab peranakan adalah kultur Indonesia-Islam. Ketiga, berdasarkan ketentuan di atas, Arab peranakan wajib bekerja untuk tanah air dan masyarakat Indonesia.

Keempat, untuk memenuhi kewajiban itu, perlu didirikan organisasi politik khusus untuk arab peranakan. Kelima, menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan perselisihan dalam masyarakat arab. Keenam, menjauhi kehidupan menyendiri dan menyesuaikan dengan keadaan zaman dan masyarakat Indonesia.

Pokok pemikiran Baswedan hari itu cukup menyita perhatian peserta konferensi. Debat sengit pun tak terelakkan. Dalam forum dia mampu menjawab beragam pertanyaan dan kritikan peserta konferensi.

Peserta dalam debat itu di antaranya Moh. Abubakar Alatas, putra ketua Ar Rabitah, AR Aleydrus lulusan sekolah Paris, Gasim Shohab tokoh pergerakan berhaluan Al Irsyad dan Hasan Argubi Kepala Bangsa Arab dan Husin Bamasymus dari Al Irsyad.

©2019 brilio.net

Konferensi hari kedua itu melahirkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Dalam dokumen 'Sumpah Pemuda Arab Indonesia 1934' terdapat tiga poin pernyataan Sumpah Pemuda Keturunan Arab:

1. Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. (Sebelum itu mereka berkeyakinan tanah-airnya adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke sana).
2. Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi).
3. Memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Hari ketiga konferensi membahas tentang bentuk dan sifat organisasi. Hasil konferensi memutuskan dibentuknya organisasi khusus peranakan Arab. Kaum totok hanya boleh sebagai anggota donatur dan tidak memiliki hak suara. Organisasi ini bernama Persatoean Arab Indonesia. Penggunaan kata Persatoean melambangkan persatuan dari Arab peranakan.

Kepengurusan PAI diketuai AR Baswedan dari kalangan Al Irsyad. Penulis pertama oleh Nuh Alkaf dari Ar Rabitah, dan penulis kedua oleh Salim Maskatie dari Al Irsyad. Sementara bendahara dipercayakan kepada Segaf Alsegaf dari Al Irsyad dan komisaris dijabat Abdurrahim Argubi dari Al Irsyad.

Kehadiran PAI masa itu menyita perhatian. Bukan cuma kalangan Arab. Mereka jadi pusat perhatian kelompok nasionalis dan pemerintahan kolonial. Sayangnya simpati masyarakat Arab semata hanya ingin kelompok Arab bersatu.

Dukungan hanya datang dari kelompok netral yang tidak bergabung dengan Al Irsyad dan Ar Rabitah. Kaum totok agaknya masih belum menerima sepenuhnya haslil konferensi tersebut. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, kehadiran PAI mulai diterima.

Kaum peranakan mulai membuka diri dan dipersatukan dalam organisasi ini. Perlahan kaum totok pun juga ikut melebur. Pada akhirnya ketegangan dua kelompok Al Irsyad dan Ar Rabitah mereda.

Setelah tiga tahun berdiri, Persatoean Arab Indonesia bertransformasi menjadi partai politik. Pada tahun 1937, kata Persatoean diubah menjadi Partai. Sehingga singkatan PAI menjadi Partai Arab Indonesia. "Kemudian mereka menyimpulkan bahwa 'kita perlu berpolitik' lalu mendirikan partai," ungkap Anies.

Kontribusi partai Baswedan pun bergerak untuk kemerdekaan. Mereka lantas bergabung dengan GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Membawa semangat perjuangan untuk bebas dari penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Membawa Indonesia menuju kemerdekaan.

Selain bergabung di GAPI, PAI juga diterima menjadi anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). MIAI merupakan federasi dari semua partai dan perkumpulan Islam lantaran bernafas nasionalis berdasarkan islam. Tokoh-tokoh PAI juga banyak yang mengambil peran di dalam federasi ini.

Saat proklamasi kemerdekaan dibacakan, dengan cepat kabar itu menyebar ke seluruh penjuru. PAI dirasa sangat berkontribusi dalam hal ini. Sayangnya, pasca kemerdekaan, PAI harus dibubarkan. Sebab pada kongres tahun 1937, saat perkumpulan PAI bertransformasi ke partai politik disepakati , PAI akan dibubarkan saat Indonesia meraih kemerdekaan atas penjajahan.

"Sesudah (partai) itu bubar, anggota PAI dipersilakan masuk ke berbagai partai politik yang ada," kata Anies. Setelah partai bubar, Baswedan pun bergabung dengan Partai Nasional Indonesia besutan Soekarno, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan S. Budhyarto Martoatmodjo.

Senja Seorang AR Baswedan

Sejak usia SMA, Anies tinggal satu rumah dengan sang kakek. Hal lumrah bagi mereka saat itu kakek tinggal bersama anak dan cucunya. Tiap hari, Anies kecil melihat kakek banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Beragam tulisannya dia kirim kepada para sahabat dan media massa.

Tiap tulisan dikirim lewat pos. Jarak dari rumahnya di Taman Juwono menuju kantor pos lebih kurang 1 kilometer. Hampir tiap hari AR Baswedan pergi ke kantor pos dengan berjalan kaki. Jarak yang cukup jauh di usianya yang memasuki 70 tahun.

©2019 brilio.net

Selain disiplin menulis, AR Baswedan juga kerap mendatangi berbagai perkumpulan. Datang untuk bertukar pikiran dengan kaum muda. Selama di Jogja, sosok Baswedan juga mendatangi rekan-rekan seperjuangannya yang masih hidup. Bertemu untuk silaturahim dan sekedar melepas rindu.

"Kalau siang itu suka datang ke rumah-rumah keliling dan kalau pergi-pergi jalan kaki ke mana pun," cerita Anies.

Pernah suatu hari AR Baswedan diundang Wakil Presiden Adam Malik ke Gedung Agung di Jogja. Baswedan dan Adam memang bersahabat sejak dulu. Selesai pertemuan, Adam Malik mengantarkan Baswedan ke serambi Istana. Saat itu, Adam Malik heran lantaran tak ada mobil yang menjemput sahabatnya itu.

"Mana Bung mobilnya?," tanya Adam saat itu kepada Baswedan.

"Tidak ada, saya jalan kaki. Saya di sini memang biasa jalan kaki, saya enggak ada mobil," kata Baswedan.

Mendengar jawaban itu Adam Malik kaget. Dia baru tahu, mantan menteri luar negeri sekaligus tokoh pergerakan nasional tidak memiliki mobil. Beberapa waktu berikutnya, Adam Malik menghadiahi sebuah mobil untuk Baswedan. "Ini contoh beliau yang ke mana-mana suka jalan kaki," Anies menceritakan.

Pada 16 Maret 1986, sosok penting bersatunya etnis Arab di Indonesia itu meninggal. Meninggalkan segudang cerita. Baru setelah 32 tahun, gelar pahlawan disematkan untuk Abdurrahman Baswedan. Diberikan Presiden Joko Widodo pada November tahun 2018 dan diterima langsung anak bungsu Baswedan, Samhari Baswedan dan cucunya Anies Rasyid Baswedan.

(mdk/ang)