Sisi lain Tol Cipali 3

Biar susah tapi tetap ingat Tuhan

Biar susah tapi tetap ingat Tuhan
Tol Cipali. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko
KHAS | 21 Agustus 2015 09:51 Reporter : Arbi Sumandoyo

Merdeka.com - Di antara deretan kafe-kafe sepanjang jalur Pantai Utara, Subang, Jawa Barat, ingar bingar dunia malam sudah memanas. Wanita-wanita penghibur siap menggoda saban pengendara lewat jalur esek-esek tersebut. Pada penghujung perbatasan wilayah itu, berdiri sebuah panti pijat buat melepas pegal para pengendara.

Dari luar sebuah panti pijat nampak sepi. Sebut saja Panti Pijat Melati. Di sana ada empat wanita bertugas sebagai terapis atau pemijat coba menyapa dengan centilnya. "Silakan mas, mau pijat berapa jam?" katanya genit kepada merdeka.com di lokasi, Sabtu pekan lalu.

Saat berinteraksi, salah satu pemijat berinisial DW mengaku pendapatannya kian menurun dengan adanya akses Tol Cipali. Dia sekarang ini dalam sehari hanya beberapa langganan mampir ke tempatnya. Padahal sebelum berdirinya Tol Cipali langganan bisa sampai 4 orang buat satu terapis. "Kalau sekarang paling dua. Dulu mah bisa 4-5 orang," katanya.

Di panti pijat itu, terdapat empat wanita terapis. Pendapatannya dengan sistem bagi hasil dengan pemilik panti pijat, 75:25 persen. Saban menerima satu langganan komisinya terbilang cukup banyak dibandingkan dengan pendapatan pemiliknya.

"Kalau di sini sejam Rp 100 ribu, kita dapat Rp 75 ribu. Nah, buat masuk yang pemilik dapat Rp 25 ribu. Itu sih, belum termasuk tips," ujar wanita berusia 25 tahun itu.

Gadis asli Cirebon itu mengaku menerima banyak tawaran menggiurkan dari para pelanggan nakal. Namun, dia mengaku di tempatnya punya larangan buat layanan 'lebih'. Biasanya dia menyiasatinya secara halus, para pelanggan diberikan penjelasan secara baik-baik.

"Kita bilang, di sini enggak bisa kaya begitu, kalau di tempat lain mungkin ada," ujarnya.

DW sendiri memilih pekerjaan ini bukan tanpa resiko. Keluarganya tak pernah tahu pekerjaannya sekarang ini. Apalagi, pacarnya sendiri sedang tak berada di Indonesia karena bekerja sebagai pelaut.

"Keluarga saya tahu kerja sebagai penjaga toko, bukan terapis kayak begini, takut nanti mikirnya yang enggak-enggak," ujarnya.

Di panti pijat ini, para pelanggan diwajibkan memakai sarung bukan setengah telanjang bulat. DW biasanya enggan memijat para pelanggan dengan kondisi telanjang bulat. "Ada yang kayak begitu tapi kita kasih penjelasan rata-rata mengerti kok," ujarnya tertawa.

Apalagi, larangan keras dari pemilik menuntutnya untuk menolak ajakan mesum dari pelanggan hidung belang. Walau ada tawaran fulus menggiurkan, tapi hal itu tidak membuat imannya goyah. Buat DW latar belakang kehidupan susahnya menempa pribadinya kian tegar dalam menjalani hidup.

"Saya orang susah. Cari uangnya yang halal saja mas, enggak perlu besar. Kecil-kecil nanti terkumpul, biar lagi susah gini, tetap inget sama yang di atas (Tuhan)," ujarnya semangat.

Dia pun mendapatkan pelatihan pijat sebelum terjun langsung kepada pelanggan. Tak sembarangan bekerja sebagai pemijat. "Kita pasti dikasih dulu sebulan penuh, baru bisa kerja. Enggak asal-asalan mas," ujarnya.

Walaupun pantai pijatnya berdiri di antara deretan terakhir dari arah Pantura menuju Jakarta atau paling awal dari arah sebaliknya. Kebanyakan pengendara biasa melabeli panti pijat satu-satunya itu bisa menerima layanan pemuas nafsu birahi. Padahal tidak melulu bisnis hiburan di Pantura berkaitan dengan layanan nafsu birahi.

Dampak Tol Cipali ikut menyebabkan kian terasa mencekik bisnis di sepanjang jalur Pantura. (mdk/mtf)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami