Calon Kuat Kapolri Pilihan Jokowi

Calon Kuat Kapolri Pilihan Jokowi
gedung Mabes POLRI. merdeka.com/Imam Buhori
KHAS | 11 Januari 2021 10:11 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Bursa calon Kapolri kian terang. Nama-nama Perwira Tinggi (Pati) calon pengganti Jenderal Idham Azis yang segera memasuki masa purna tugas pada 25 Januari 2020, sudah mengerucut. Lima nama calon Kapolri pun sudah disodorkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) kepada Presiden Joko Widodo pada Jumat pekan lalu.

Semua nama diserahkan berpangkat bintang tiga. Kelima nama tersebut, yaitu Komjen Gatot Eddy Pramono, Komjen Boy Rafli Amar, dan Komjen Listyo Sigit Prabowo. Selanjutnya ada Komjen Arief Sulistyanto dan Komjen Agus Andrianto. Bisik-bisik sumber merdeka.com di lingkaran pemerintahan sudah memiliki pilihan calon Kapolri. Sosok tersebut cukup laik menggantikan posisi Idham Azis lantaran. Selanjutnya orang itu juga termasuk 'orang asli' Polri.

Pekan lalu nama calon Kapolri memang kencang menjadi pembahasan di lingkaran pemerintahan. Sumber tersebut menyebut presiden sudah mengantongi nama pantas menggantikan tugas Idham Azis. "Inisialnya G," ungkapnya. Diduga kuat nama Wakil Kapolri Komjen Gatot Eddy Pramono memiliki kans besar untuk duduk sebagai pucuk pimpinan Polri nanti.

Gatot Eddy merupakan alumni akademi polisi tahun 1988. Pria berusia 55 tahun kelahiran Solok, Sumatera Barat, ini sebelum menjabat sebagai Wakapolri, juga pernah menjabat Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri pada 2018. Gatot juga pernah menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kapolda Metro Jaya, hingga Wakapolda Sulawesi Selatan.

wakapolri komjen gatot eddy pramono

Wakapolri Komjen Gatot Edy Pramono ©2020 Merdeka.com/Nur Habibie

Menteri Koordinator Polhukam Mahfud MD menyebut semua nama diserahkan Kompolnas sesuai dengan kriteria sebagai calon Kapolri. Pengalaman mereka dalam menjalani tugas selama ini juga profesional dan memiliki segudang pengalaman. "Kelima orang ini dianggap memenuhi syarat profesionalitas, loyalitas, jam terbang," ungkap Mahfud MD.

Anggota Kompolnas Poengky Indarti menyampaikan, berdasarkan UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 38 ayat (1) huruf b, Kompolnas bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian Kapolri.

Ketika memberikan pertimbangan kepada Presiden, Kompolnas merujuk pasal 11 ayat (6) UU nomor 2 tahun 2002 maka calon Kapolri adalah perwira tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan karir.

Dia menerangkan, yang dimaksud dengan jenjang kepangkatan ialah prinsip senioritas dalam arti penyandang pangkat tertinggi di bawah Kapolri. Sedangkan yang dimaksud dengan jenjang karir ialah pengalaman penugasan dari perwira tinggi calon Kapolri pada berbagai bidang profesi Kepolisian atau berbagai macam jabatan di Kepolisian.

Nama-nama yang diajukan ke presiden, jelasnya, dipilih dengan merujuk pada dasar tersebut. Dalam menentukan pilihan, Kompolnas memerhatikan rekam jejak tiap nama. Selain itu, pihaknya juga menyerap masukan dari berbagai elemen masyarakat. Pendapat sejumlah senior para kandidat juga juga diterima. Dia menegaskan bahwa dalam proses penyaringan, Kompolnas bersikap independen dan obyektif.

"(Prosesnya) Smooth saja, tidak ada masalah. Jika ada masukan positif dan negatif tentang calon pasti akan kami cross check dengan sumber lain. Tidak langsung kami telan mentah-mentah," kata Poengky kepada merdeka.com Kamis pekan lalu.

Baca Selanjutnya: Calon Kapolri Harus Memiliki Chemistry...

Halaman

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami