CEO Consina: Berawal dari Modal Rp 50.000

KHAS | 13 Agustus 2019 07:04 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Punggung Disyon tertembak. Tubuhnya terjatuh, sejenak tak bergerak. Perlahan dirinya tersadar. Dalam keadaan terbaring, hanya satu terpikir. Tas berisi uang tak boleh hilang.

Demonstrasi menumbangkan rezim Orde Baru tahun 1998 banyak meninggalkan cerita kelam. Disyon bersyukur tembakan mengenai punggung bukan peluru tajam. Ketika itu dia ikut dalam demo bersama kelompok mahasiswa Trisakti Jakarta.

Dalam keadaan terluka, Disyon mencoba selamatkan diri. Memegang tas erat-erat, dia berlari sembunyi. Tas itu tak mau dilepas. Isinya uang sejumlah Rp 50 juta. Baru saja pinjam dari kakaknya. Buat modal usaha.

Perjuangan berdarah-darah itu tidak sia-sia. Disyon memegang amanah. Dia menjadi salah seorang pengusaha muda. Usahanya bahkan tumbuh besar. Sampai sudah terkenal seantero Indonesia.

Secuil cerita ini menjadi kenangan berharga bagi Disyon Toba. Sosok ini merupakan pemilik produk Consina. Bagi para pecinta kegiatan alam, merek ini sudah sangat dikenal.

Dalam wawancara dengan tim Merdeka.com pada Selasa, 6 Agustus 2019, Disyon banyak menceritakan bagaimana perjuangan bisnisnya. Termasuk mempertahankan usahanya di tengah persaingan bisnis. Berikut perbincangan kami dengan Disyon Toba:

Bagaimana awal mula Consina berdiri dan kini menjadi produk andalan di bidang outdoor?

Consina di mulai dari saya dulu suka naik gunung. Jadi tahun dari SMA kelas 2 itu sudah suka naik itu kalau enggak salah tahun 1991, dari SMA suka naik gunung, terus masuk kuliah kampus semester 3 dan 4, baru begabung dengan cinta alam Triksakti. Lumayan aktif, suka dikirim ke kampus di luar apa segala macam.

Di situ lah saya membutuhkan banyak peralatan outdoor termasuk tas segala macam, waktu itu kan baru ada dua merek tahun itu. Segitu produk luar sudah banyak bikin di Indonesia sumbernya, 90 persen produk Amerika dan Eropa bikin di Indonesia tahun 1994.

Tapi waktu itu kita dapat barangnya dari pabrik, kok ini barang luar merek-merek terkenal dibuat di Indonesia bisa kok. Kenapa merek kita sendiri Indonesia enggak bisa buat sebagus itu? Akhirnya saya mencoba apa iseng bikin cuma buat sendiri atau teman-teman.

Buat temen dulu, karena saya kaya bikin tas pinggang agak besar, bodypack model gitu, di sini enggak ada. Cuma beda di gambar-gambar bikin berapa buah, ternyata banyak temen yang minta. Pesanan meningkat terus, akhirnya coba masuk ke situ tapi memang waktu itu banyaknya temen-temen saja yang beli.

Mulai dari ransel besar segala macam, jadi emang start dari teman-teman, tahun 2001 baru dimulai lagi produksi yang lainnya.

Sebenarnya produk pertama apa yang dibuat Anda waktu itu?

Tas pinggang. Memang dulu enggak ada orang yang bikin seperti itu, jadi sangat bagus waktu itu laku. Akhirnya saya mencari orang buat menjahit segala macam, kemudian juga mencari bahu baku.

Bahan bakunya dulu pertama dari bahan-bahan limbah, limbah pabrik-pabrik yang saya bilang produksi barang-barang luar itu. Jadi limbahnya ada, enggak tahu waktu itu bahan bagus yang seperti itu enggak ada di Indonesia saja. Jadi saya pakai limbah.

Bikin saat itu orang melihat produk Consina itu disangka orang dari merek luar negeri, jadi dari situ bahan dari limbah karena bagus, jadi startnya sangat bagus, jadi kita produksi apa saja dulu habis terus.

Kalo enggak salah dulu sudah 50 pcs, itu cepet habisnya. Jahit sendiri, mencari tukang jahit, tukang jahitnya juga kita ambil dari pabrik besar, jadi saya melihat kemampuan pada saat itu tenaga kerja kita produksi sudah sangat bagus.

Bisa diceritakan kendala apa saja ketika Anda memulai Consina?

Halangannya kan banyak. Macam-macam. Jadi ketika pesanan semakin banyak terus diperparah tahun 1999, ya setelah itu tahun 2000 pabrik produk luar negeri itu pindah semua. Setelah krisis itu, pindah semua, ada yang ke Vietnam ada yang ke mana, jadi saya enggak bisa pakai bahan baku, nyari juga susah. Sulit.

Saat itu internet juga masih belum sebagus sekarang. Cari informasi susah. Kita mau ke Cina, tidak tahu Cina di daerah mananya buat beli bahan. Saat itu kita akhirnya pakai bahan yangg kurang bagus, jadi kualitasnya menurun.

Akhirnya beberapa tahun setelah itu saya ke pameran di Cina. Lihat datang cari bahan bakunya, begitu dapet dari situ kita mulai produksi lagi. Saat itu juga ada toko-toko outdoor di Jakarta di bebrapa daerah lagi mulai bangun.

CEO Consina Disyon Toba 2019 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo

Dengan produksi yang makin banyak, jualnya juga tidak terlalu mudah, karena saingan juga sudah mulai datang. Saat itu pengusaha order tdak terlalu banyak, tapi kita dari dulu bikinnya selalu spesial, karena kita dulu sering. Waktu itu juga temen-temen sudah berlangganan, banyak referensi majalah maupun katalog outdoor. Jad design kita selalu mengikuti prodak luar.

Consina itu dari sejak berdiri sampai tiga tahun lalu itu, kita selalu kehabisan barang. Selalu produksi tidak pernah cukup, sampe tiga thn lalu itu, tidak bisa terpenuhi, kualitas produksi selalu berkurang.

Kita mulai memasarkan dari tim marketing harus lebih ekstra karena persaingan pertumbuhan terus juga yangg mungkin sekarang tiket pesawat juga mahal, tetapi ya kreativitas tetap terus harus di bangun.

Ketika tahun 1998, kabarnya Anda sampai memeluk uang agar terhindar dari kerusuhan. Bagaimana sebenarnya cerita itu?

Jadi itu dulu, satu bagian. Dulu kan saya mulai awal dari sisa-sisa uang jajan saja. Jadi kalau dibilang modalnya berapa sij? Mungkin dari Rp 50 ribu. Beli bahan bakunya kain bekas itu kan satu kilogram itu kalo tidak salah Rp 3.000. Tas panjang-panjang kadang bahannya 3-5 meter. Saya kumpulan saja bahan, kalau ada duit saya kumpulin, begitu sudah mulai banyak. Saat itu saya baru cari tukang jahit. Untung ketemu juga mantan kerja di perusahan besar, bisa bikin pola.

Sampel pertama begitu memuaskan, langsung saya kasih bahan semua. Tukang jahit itu bilang, "Ini bahan dari limbah dari pabrik saya kerja nih, Pak?" "Iya Memang," saya bilang.

Dia lalu kerjain. Terus setelah itu, bahan lama-lama tidak ada. Susah. Padahal tahun 1998sampai 1999, itu penjualan masih tetap bagus. Karena tadi barang-barang limbah masih ada.

Jadi maksud saya, saya enggak punya duit, saya pinjam duit kakak saya buat beli bahan. Itu biasanya setahun sekali pabrik-pabrik melelang bahan-bahan pabrik yang masih bagus. Saya tidak punya duit, akhirnya saya pinjem kakak, kakak juga ragu kan. Akhirnya dikasih pinjem, saat itu duit itu besar lah, tahun segitu saya bawa Rp 50 juta kalau tidak salah.

Uang Rp 50 juta saya bawa di tas. Saya mau pulang kuliah dulu, saya kuliah di Trisaksti. Pulang kuliah niatnya langsung transaksi, tapi waktu itu lagi ada demo. Saya memang beberapa kali ikut demo. Jadi sebelum kelas, saya ikut demo dulu dan bawa duit di belakang. Waktu itu enggak ada yang tahu bawa duit.

Ternyata demo rusuh kan itu, tembakan segala macam. Memang dari siang Enggak ada kelas kuliah karena demonya besar, kuliah semua dibatalkan. Akhirnya saya di situ padahal janjian sore. Ternyata sore itu rusuh. Saya kena tembak waktu itu. Yang saya ingat, "waduh ada duit nih di belakang."

Akhirnya saya ditolongin temen saya, takutnya duit saya dicopet dibawa orang, akhirnya saya tetap jalan saja. Tas saya ambil terus saya cari kelas yang kosong, lihat kondisi dulu, ternyata saya terkena peluru karet. Tapi darah semua di punggung. Ya sudah saya buru-buru pulang. Karena ngeri. Saya juga ngeri duit saya nanti disita atau ilang.

CEO Consina Disyon Toba 2019 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo

Saya terkena tembakan di punggung. Deket tulang burikat. Kalau lagi demo, saya letakan tas di belakang saja. Enggak ada yang tahu itu isinya duit.

Waktu ketembak terasa, masuknya dalam memang. Begitu saya kena kan terasa tuh darah ngalir, saya pikir saya bakal mati. Saya tungguin 5 detik 10 detik kok enggak jatuh-jatuh. Terus saya baru sadar jangan-jangan peluru karet.

Saya segera masuk kampus. Sekaligus nutup pagar. Waktu itu saya terkahir yang masuk. Pas saya tengok, pagar kampus enggak ditutup. Sementara polisi lagi lari menuju pager itu. Saya balik lagi, saya tutup, sayanya di tembakin. Saya ke pos satpam, di pos satpam cuma berdua saja sama ada wartawan asing dari CNN.

Akhirnya hari itu ya saya berpikir saya harus menyelamatkan duit. Karena kondisinya enggak kondusif. Waktu itu terus kampus juga ditembakin. Isu-isu juga banyak yang akan masuk diserbu. Maka saya pikir saya harus keluar nih nyelamatin duit ini, jangan sampai orang tangkap saya atau temen buka tas. Habis itu pulang, sudah sampe rumah, ada yang luka, saya ke rumah sakit.

Memang duit itu buat modal produksi barang apa?

Waktu itu buat tas. Tapi ya transaksinya mungkin seminggu setelah insiden itu.

Awal produksi barang outdoor, apakah langsung memakai merek Consina?

Dulu pakai merek luar. Terkenal lah mereknya. Iseng saja. Kemudian ada temen yang bilang ke saya kasih masukan. "Lu model bagus, design bagus, kenapa pakai nama merek luar? Kenapa enggak pakai merek sendiri?"

Akhirnya saya pilih nama inspirasi dari kakak saya yang sudah meninggal. Dulu dia punya insipirasi, kalau nanti dia punya perusahan namanya Consina.

Lalu ada teman bagian design, dia kasih pilihan design merek Consina, saya bawa ke kampus. Lebih suka yang dulu huruf C-nya gambar kepala suku India, gambar gunung, dan jadi berbagi macam. Ternyata dari semuanya suka yang logonya cemara. Memang saya waktu mau keliatan ini seperti prodak luar tetapi ini produk Indonesia.

Memang arti nama Consina itu apa?

Karena ini dulu dari kakak saya. Jadi waktu saya tidak tahu, karena kakak saya ada beberapa orang. Dari nama orang semua dan menjadi singkatan Consina alias Cornelius, Simon dan Nathan. Jadi mereka rencana bertiga mau bikin usaha bareng yang akan dikasih nama Consina. Tapi kalau saya ditanya, Consina itu saya jawab Conservation of Indonesia.

Sejauh mana produk Consina bisa masuk sampai pasar luar negeri?

Sekarang aksesoris sudah ada. Sekarang juga sebenarnya kita lagi tahap saling berkomunikasi dengan beberapa importir dari Dubai, Qatar. Sebelumnya baru beberapa tahun terakhir, kami melayani wilayah Asia.

Sebenarnya sudah ada permintaan dari Prancis, Inggris, Turki. Tapi belum kita respon. Karena dulu produksi kita masih belum memenuhi. Apalagi persaingan makin ketat.

Di jaket Consina ada tulisannya Indonesia dan New York. Di bagian label pakaian. Yang regelur yang kita kirim keluar negei. Kalau dulu kan kita bikin khusus. Ukurannya juga disesuaikan dengan mereka. Sejak ada permintaan banyak kita rapihin dulu.

Bagaimana cara Anda menghadapi tantangan dan persaingan bisnis produk outdoor seperti ini?

Penting di promosi dan marketingnya itu sendiri. Karena jalur promosi sekarang sudah beda. Jadi televisi maupun surat kabar sudah enggak jadi pilihan utama. Sekarang masuk online. Mulai dari media sosia dan segala terkait online. Tapi sekarang kita liat kalau di online pun sidah saling tiban. Mahal juga kalau masuk ke online, kita bayar berapa cuma berapa hari. Hasilnya juga tidak signifikan.

CEO Consina Disyon Toba 2019 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo

Online itu termasuk paling cepet dalam promosinya. Fungsinya Instagram zaman dulu itu saya salut. Dulu kan ada tukang mie ayam tiba-tiba sudah bangun rumah gara-gara Instagram. Tapi sekarang sudah beda. Tidak bisa lagi seperti itu.

Makanya saya bilang bagaimana nih tantangannya? Sekarang lebih rasional. Di Eropa, orang Indonesia terkenal belanja. Tapi sekarang kita kalah sama Cina. Sekarang Cina itu yang jadi raja tuh di luar negeri.

Consina juga memperlebar pasar dengan menjadi penyelenggara untuk naik Gunung Himalaya. Apakah celah bisnis itu menjanjikan keuntungan bagi Anda?

Menjanjikan atau tidak menjanjikan, kita harus mengolah dan kita memperkenalkan mereka. Karena sekarang sudah banyak orang mendaki gunung. Tahun 2000 sekian, awal-awal ke Himalaya, liat segala macam kalau begini saja orang Indonesia yang sehat juga bisa. Tidak membutuhkan fisik yang kuat.

Kita memperkenalkan itu juga yang bisa dijelajah. Kita di sini hanya mendukung, kita sudah dapat kepercayaan dari konsumen.

Kalau di Himalaya pengujung enggak dibatasin bisa sampe jutaan per tahun. Tetapi menurut saya sendiri, secara bisnis tidak terlalu besar. Tapi berjalan bisa bertumbuh dari mulut ke mulut. Ini di mulai dari tahun 2009 dengan Consina Service.

Jadi 2009 tuh mulanya adalah kita banyak bikin kerja sama dengan perusahaan asing. Bikin jaket buat tambang, dan segala macam, dan tahun segitu kegiatan di outing lagi booming.

Perusahaan-perusahaan itu kebetulan lagi ada kegiatan outing. Jadi perusahan asing minta order jaket dari kita. Makanya waktu bikin buat kegiatan outing, nah 2009 saya ke Himalaya. Melihat bahwa ini semua bisa dijual. Ya kita buka trip ke Himalaya, dan banyak juga yang berangkat.

Kalau ke luar negeri total per tahun itu 20-30 orang. Bisa segitu, lumayan banyak, secara bisnis tidak terlalu, tapi cukup impresif.

Apa saja upaya Consina agar tetap disukai para konsumen?

Saya tidak mau indentik Consina itu alat mendaki gunung. Consina ini kan produk outdoor. Bisa daki gunung, bisa running, traveling, atau apapun juga tetapi kan kita juga melihat. Kita juga dapat produksi dengan harga yang sangat ekonomis.

Sekarang ini orang-orang, khususnya yang daki gunung, maunya yang simple. Dan itu juga kita produksi sudah mulai ke arah situ. Karena dulu org harus bawa berbagai macam. Kini tas yang murah-murah saja, yang penting fungsionalnya bagus lah.

Dulu kita pake design terlalu berat. jadi kita liat pasar, pasar arah ke mana terus kita liat produk luar bikinnya kaya apa, nah kita ambil jalan tengah.

Reporter: Angga Yudha Pratomo, Syakur Usman, Chicilia Inge (magang)

(mdk/ang)

BERI KOMENTAR
Join Merdeka.com