Dari Dalam Ambulans di Tengah Kerusuhan

KHAS | 4 Oktober 2019 08:53 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Rabu malam, 25 September 2019. Jarum jam menunjuk angka 23.00 WIB. Kerusuhan makin membesar sekitar Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat. Sekitar empat ambulans tertahan tak bisa keluar dari area Gedung BNI 46. Padahal banyak korban di luar akibat ricuh pendemo dan aparat kepolisian di luar.

Ada tiga ambulans berlambang Palang Merah Indonesia. Asalnya dari PMI Jakarta Pusat, PMI Jakarta Utara dan PMI Jakarta Timur. Ada juga ambulans dari Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118 milik Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta.

Ada enam personel dari PMI Jakarta Timur. Mereka adalah Supri, Joko, Abdul Rojak, Arif, Iwan, dan Aray. Tim ini dipimpin Supri yang juga bertugas sebagai supir ambulans.

Semula mereka diminta siaga di area Jembatan Slipi. Sayangnya jalur sudah ditutup. Jelang tengah malam, ambulans merapatkan barisan di Menara BNI 46. Tim kesehatan sengaja disatukan. Mereka tidak diterjunkan ke lokasi kerusuhan. Hanya menunggu korban datang atau panggilan untuk memberi pertolongan.

©2019 Merdeka.com/Yunita Amalia

Makin malam suasana makin mencekam. Timbul kecurigaan lantaran ambulans diminta tak keluar area Menara BNI 46. Mereka dikepung orang tak dikenal. Ditanya asal usul malah diam. Saat ambulans AGD 118 hendak keluar, mereka diadang. Entah apa alasannya, mereka diminta tetap standby. Adu mulut pun tak terhindarkan.

"Akhirnya bisa keluar juga. Alasannya tabung oksigen habis," cerita Joko kepada merdeka.com, Kamis (3/10) lalu.

Melihat itu, timbul kekhawatiran. Tim PMI Jakarta Timur berkumpul dan mencari jalan untuk keluar dari pos kesehatan. Mereka bersepakat bila ada korban datang membutuhkan pertolongan akan mendesak barisan aparat bertameng dan pentungan keluar.

Lewat jam 11 malam, datang korban yang pingsan dan diangkat menggunakan tandu. Menurut pengakuan temannya, korban pingsan karena terlalu banyak menghirup gas air mata. Setibanya di lokasi tim kesehatan, korban dimasukkan ke dalam ambulans untuk dapat perawatan.

Seperti rencana awal, mereka akan keluar dari Menara BNI 46 bila ada korban membutuhkan pertolongan. Sayangnya, di waktu bersamaan ricuh antar aparat dan pendemo makin besar. Joko dan Supri sepakat untuk nekat keluar membawa pasien. Namun, di saat bersamaan ada dua orang tak dikenal masuk ke dalam ambulans. Mereka mengaku petugas para medis. Namun tak ada atribut.

Satu di antara mereka mengaku relawan PMI Jakarta Pusat dan mengenal beberapa nama pengurusnya. Beberapa nama memang terkonfirmasi. Sementara satu orang lainnya mengaku berasal dari komunitas escorting alias perkumpulan pengawal ambulans agar cepat sampai ke tujuan.

Tak lama, segerombolan kepolisan bertameng datang. Mereka mengepung ambulans. Meminta semua yang di dalam mobil keluar. Meminta pintu samping dan pintu belakang di buka.

Kaca mobil belakang pun dipukul hingga pecah. Petugas medis dan korban sakit diminta keluar. Begitu juga dua penumpang gelap tadi. Joko dipaksa keluar dan mendapatkan tindak kekerasan. Begitu juga dengan Supri dan Rojak.

"Korban tadi juga dipaksa keluar. Saya enggak tahu itu nasibnya bagaimana," kata Joko. Saat itu dia mengaku pasrah dan tidak melakukan perlawanan apapun. Kalah secara jumlah, Joko pun memilih pasrah.

Joko mengaku video viral di sosial media tentang perundungan petugas medis oleh aparat polisi adalah dirinya. Dari video itu dia baru tahu kalau dirinya dituding jadi penyuplai logistik kerusuhan. Ambulans PMI dituduh membawa batu dan bom molotov. Namun, pembuat video tidak menunjukkan gambar batu yang dituduhkan.

Tak ditemukan yang dicari, Joko, Supri dan Rojak diminta masuk lagi ke dalam ambulans. Mereka lantas diamankan dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Sementara satu pasien dan dua penumpang gelap yang tadi ikut ambulans tak diketahui keberadaannya.

Meski telah mendapat tindakan represif, Joko masih sempat mengkhawatirkan tiga teman lainnya. Sebab, saat berusaha menembus barikade, mereka terpisah dari Arif, Iwan dan Aray.

Setibanya di Polda Metro Jaya, Joko, Supri dan Rojak langsung dibawa ke poli kesehatan. Luka mereka diobati petugas kesehatan di sana. Ketiganya mengalami cidera. Joko cidera pada bibir. Ada luka di dagu Supri dan ada luka di jidat Rojak.

Usai mendapatkan perawatan, mereka dibawa ke sebuah ruangan pejabat polisi. Joko tak ingat siapa nama polisi yang mengawalnya sejak dari lokasi kerusuhan. Namun, anggota polisi itu mengatakan, mereka belum bisa dipulangkan dan diminta menginap di ruangan tersebut.

"Malam ini kita belum bisa memulangkan teman-teman medis, harus menginap di sini. Enggak usah khawatir dan takut, teman-teman medis menginap di ruangan saya untuk istirahat" kata Joko meniru ucapan polisi ketika di Polda Metro Jaya.

Joko menepis kabar dirinya ditahan di sel. Sebaliknya, di ruangan itu dia ditawari makan bahkan dipersilakan merokok jika ingin. Tetapi ruangan itu memang dikawal beberapa petugas.

1 dari 1 halaman

Petugas PMI Dituduh Makar

Jelang tengah malam, Budi Pranoto tiba di rumahnya. Sebuah pesan masuk. Keget mendengar kabar ambulans milik PMI Jakarta Timur hancur. Niat untuk istirahat urung dilakukan. Berubah khawatir akan keselamatan enam personel tim medis yang tengah bertugas.

Budi merupakan Wakil Ketua PMI Jakarta Timur Bidang Penanggulangan Bencana. Sehari sebelumnya, Budi juga sempat bertugas jadi tim kesehatan di area demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR/MPR. Kabar ambulans hancur membuat dia segera bergegas menuju Polda Metro Jaya.

Dalam perjalanan menuju Polda Metro, dia langsung berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Dia meminta Kepala Markas, Eki segera membuat kronologis kejadian. Kronologis yang dibuat Eki langsung disebar ke internal PMI dan eksternal.

Budi juga menghubungi ajudan Ketua PMI, Jusuf Kalla. Sayangnya saat itu, Wapres JK sedang tidak di Indonesia. Namun, kepada sang ajudan, Budi mengabarkan mobil ambulans milik PMI Jakarta Timur hancur dalam kerusuhan.

Setibanya di Polda Metro, Budi bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Orang itu menyebut bertemu dengan Joko, Supri dan Rojak. Tiga relawan PMI yang digiring ke Polda Metro saat kerusuhan. Ketiganya mengalami prematur di badan sebelah kanan dan kiri. Ada luka di kepala juga. Dia yakin dari luka yang dialami, tiga anak buahnya kena pukulan dan mendapatkan tindakan represif.

Dari Biddokes, Budi diminta menuju satu tempat. Dia langsung menyetujui. Pikirnya akan dipertemukan tiga rekannya itu. Sebaliknya dia justru bertemu dengan kawan-kawan dari PMI wilayah lain yang juga datang untuk mengonfirmasi kejadian sebenarnya.

Ponsel Budi dan teman-temannya diambil. Mereka tidak boleh ke mana-mana. Mereka dijaga polisi. Salah satu di antara mereka lantas menjelaskan penyebab penahanan sejumlah anggota PMI.

"Dia bilang (teman-teman) kami makar karena membantu demonstran membawa logistik berupa batu," kata Budi mengulang petugas saat dirinya di tahan.

Budi naik pitam, tapi tak bisa melakukan perlawanan. Dituduh makar baginya sangat menyakitkan. Dia yakin, teman-teman relawan PMI tidak akan pernah melakukan seperti yang dituduhkan. Datang ke lokasi kerusuhan hanya untuk memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

"Saya sedih waktu PMI dituduh makar. Saat ayah saya meninggal Juli lalu saya bisa tahan tidak menangis. Ini menyakitkan," ungkap Budi.

Budi bukan orang baru di dunia Palang Merah. Hidupnya sudah didedikasikan untuk membantu sesama lewat Palang Merah. Dia kecewa aparat melakukan tuduhan tak berdasar. Apalagi tak diizinkan untuk bertemu petugas yang ditahan. Sepanjang malam dia tak bisa tidur. Pikirannya panjang. Sambil terus berdoa agar datang pertolongan.

Saat azan Subuh berkumandang, Budi meminta izin untuk salat di masjid. Polisi yang betugas mengizinkan dengan syarat tetap dikawal petugas. Pagi hari, sejumlah pejabat PMI mulai berdatangan. Salah satunya Ketua PMI DKI Jakarta, Muhammad Ali Reza.

Entah diskusi apa yang terjadi, menurut Budi, semua barang mereka kemudian dikembalikan. Selanjutnya dibebaskan.

Sore harinya, Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers. Dalam keterangan pers itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menjelaskan polisi sudah meminta klarifikasi petugas ambulans. Ternyata batu di mobil tersebut berasal dari perusuh.

Saat kejadian, pasukan Brimob mencoba meredakan situasi demo. Lantas ada lemparan batu dari perusuh. Saat dikejar, perusuh mencari tempat perlindungan. Salah satunya ke ambulans milik PMI dan Pemprov DKI.

Argo menduga tindakan perusuh masuk ke dalam mobil ambulans agar seolah-olah tindakan anarki dalam demonstrasi melibatkan fasilitas kesehatan seperti ambulans. "Dia itu masuk mencari perlindungan ke mobil PMI," kata Argo menjelaskan, Kamis pekan lalu. (mdk/ang)

Baca juga:
Medis Jalanan di Malam Mencekam
Aksi Anies Baswedan Hadapi Demonstrasi Sampai-Sampai Tanggung Biaya Pengobatan
Demo Mahasiswa, Gubernur Anies Kirim Ambulans Dikawal Satpol PP
Massa Mujahid 212 Singgung Insiden Ambulans Pemprov Disebut Bawa Batu & Bensin
Soal Hoaks Ambulans, Anies Tak Ingin Habiskan Energi Laporkan Denny Siregar
Sowan ke Anies, Kapolda Metro Bahas Salah Informasi Ambulans DKI Bawa Batu