Wawancara Imajiner Bung Karno

Diplomasi kebangkitan

KHAS | 28 Maret 2016 09:06 Penulis : Christianto Wibisono

Merdeka.com - Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia dibangun pada 1760 oleh Reiner de Klerk (Middelburg, 19 November 1710 – Batavia 1 September 1780) yang sekaligus menjadi arsiteknya. Reiner, yang saat itu adalah anggota dewan Hindia Belanda, memberi nama Villa Molenvliet. Reiner menjabat Gubernur JendralVOC (1777-1780) pendiri Museum Nasional 1778 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Kini Lebar tanah 57 m panjang 164 M, menciut dari luas aslinya.

Bersama Bung Karno yang berpakaian safari putih dan bergairah menikmati gaya Butet

Kartarajasa menirukan Soeharto berpidato penuh idiom daripada, saya mengikuti acara

peluncuran buku Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis & Tertawa bersama Rakyat oleh Penerbit Gramedia. Acara berlangsung di taman tengah gedung Arsip Nasional Jalan Gajah Mada 111 hari Rabu malam 23 Maret 2016 .

Bung Karno: Bung Chris saya sangat ceria dan puas menyaksikan gairah para tamu pejabat mulai dari mantan Wapres Boediono, Gubernur A Hok, Menko Darmin Nasution, Kepala BIN Sutiyoso dan Hendropriono yang malah itu dijuluki jendral Tentara Merah. Karena sebagai Pangdam Jaya, Hendropriyono dan Agum Gumelar adalah dua Jendral TNI yang berani menerobos jadi Jendral PDI yang mengorbitkan Megawati menjadi Ketua Umum menggantikan Soeryadi di tahun 1993. Mengingat kembali sejarah perseteruan Soeryadi Megawati yang tahun 1996 mengkup kembali kepemimpinan PDIP dengan serbuan pendudukan kantor PDIP 27 Juli 1996 jadi merinding karena bangsa sendiri terus melakukan kekerasan politik terhadap sesamanya. Tapi saya bersyukur Mega cuma menyindir Ahok yang hadir supaya bersikap jantan karena sosmed membully Mega dengan memasang gambar banteng diberi anting.

CW: Jadi Bapak melihat masih ada kemungkinan rekonsiliasi Megawati Ahok dalam proses

pilgub GKI 2017.

BK: Ahok dipanggil sebagai penerima buku pertama meski katanya PDIP tidak mengundang dia. Tapi yang mengundang panitia penerbitan buku Gramedia. Saya rasa bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah untuk tidak mengkotakkan dan memelihara penyakit diskriminatif etnis. Saya dulu 1961 menyita Oei Tiong Ham Concern, tapi saya juga mengangkat Oei Tjoe Tat SH sebagai menteri justru untuk mengingatkan pencetus rasisme 10 Mei 1963. Ketika itu mahasiswa ITB merusak motor dan rumah mahasiswa Tionghoa termasuk anggota PPKI drs Yap Tjwan Bing jadi korban yang frustrasi hijrah ke Amerika Serikat sampai akhir hayatnya.

Saya tidak ingin Indonesia jadi biang keladi Balkan seperti Malaysia yang sekarang ini

diambang "perang saudara"" justru antar Melayu (bumiputera) sesama UMNO saling pecat dan saling tidak percaya dibayangi perang rasial model Lebanon antara etnik Tionghoa, Melayu dan India. Sebab keturunan India juga merasa tersisih dengan praktek affirmative action untuk golongan Melayu Bumiputera. Sebetulnya Indonesia, Malaysia dan Singapura harus segera menyelesaikan proses nation building berbasis citizenship kewarganegaraan universal modern, bukan atas dasar ras, etinis agama seperti yang dipraktikkan secara primitive oleh Malaysia.

CW: Tapi kepekaan masalah etnis dan politik baik pada skala domestik, nasional, regional dan global tetap merupakan satu beban sejarah yang sangat berat untuk dipecahkan oleh pemimpin generasi XYZ.

BK: Ya Generasi X saja sudah merasa ditinggalkan oleh generasi Y internet dan disusul oleh generasi Z, pasca internet yang sudah memasuki Revolusi Industri 4.0 Coba kita catat kronologis Maret yang menakjubkan yang di luar skenario manusia primitif, primordial dan manusia generasi masa lalu yang masih dijerat oleh belenggu anti kolonialisme abad XIX dan teologi abad ke-7 yang sudah ditelan oleh Copernicus dan Galileo Galilei 7 abad lalu. Sri Paus Fransiskus yang kita diskusikan pada Senin 8 Februari 2016 seri kelima WIBK bertema Poros Jakarta Vatikan Beijing melakukan trobosan teologis yang luarbiasa.

Pertama dia membuka transformasi gender dengan membasuh kaki wanita dan kedua dia mengukuhkan Konsili Vatikan II dengan membasuh kaki orang non Katolik. Semua itu dilakukan di tengah gelombang kebencian Eropa terhadap pengungsi yang dianggap merupakan musuh dalam selimut sebagai teroris yang membom Brussels.

Ketika orang Eropa ketakutan dengan arus imigran yang disusupi teroris dan buku penyulut rasisme seperti peringatan terhadap bahaya perubahan Europe menjadi Eurabia menjadi topik sosmed dan grassroots. Maka gesture yang diperlihatkan Sri Paus Fransiskus ini merupakan applikasi realistis dari ajaran utopia, bila anda ditampar pipi kiri anda janganlah membalas, melainkan berikan pipi kanan anda. Terobosan gender dan oikumene lintas agama yang diperlihatkan Sri Paus merupakan tamparan bagi Osama bin Laden dan ISIS yang ngotot dan setia menjalankan teori konflik peradaban Huntington.

Kalau ISIS dan Al Qaeda serta derivativesnya terus menerus memakai pola Kabil (Kain) membunuh Habil, maka mereka mesti ingat bahwa dalam sejarah manusia tetap saja golongan Kabil itu tidak direstui oleh Tuhan dan kemanusiaan. Barangkali untuk sementara golongan Kabil bisa bersorak sorai atau menikmati genoside Yahudi era Nazi dan juga kemenangan sementara teroris sejak WTC dirubuhkan hingga perang saudara ISIS memporakporandakan Timur Tengah memicu gelombang pengungsi yang terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Paus Fransiskus benar benar mewujudkan oikumene universal melengkapi pencairan hubungan diplomatik AS Kuba ketika Minggu 20 Maret 2016 Presiden Obama menjadi presiden AS kedua dalam tempo 88 tahun sejak Presiden Calvin Colidge menempuh perjalanan kapal 3 hari. Sisa perang dingin terakhir dihilangkan sehingga tinggal perang dingin Korea Utara dan Korea Selatan yang masih valid.

CW: Tapi pak perang dingin Beijing Taiwan sisa sisa ideologi Kungchantang Mao Zedong

meski sudah jadi kapitalis Deng Xiao Ping melawan Kuomintang Taiwan juga masih eksis pak. Malah baru baru ini insiden KM Kwai Fey yang ditabrak supaya tidak diseret oleh KRI Hiu-11 menjadi trending topic dan isu diplomatic serius Jakarta Beijing.

BK: Sdr Salim Said dengan bijaksana telah memperingatkan agar kita tidak mengulangi insiden Sondhi 1962. Yaitu ketika massa mendemo dan merusak pertokoan warga Indonesia keturunan India atau pedagang India Pasar Baru, gara gara Presiden Asian Games Federation GD Sondhi mengultimatum pemerintah RI bahwa Asian Games IV 1962 di Jakarta terancam tidak valid karena tidak mengikutsertakan Israel dan Taiwan. Jadi dalam hal Asian Games itu, kita malah lebih Arab dari Arab. Sebab setelah saya nekad dan ngotot tetap tidak mau mengundang Israel dan sebagai protes terhadap arogansi Sondhi AGF saya menyelenggarakan Ganefo 1963 maka RI diskors dari Olimpiade Tokyo 1964.

Nah di saat itu yang solider dengan kita dan sama sama diskors hanya Korea Utara. Sedang negara negara Arab tetap berlenggang kangkung ikut Olympiade Tokyo 1964 dimana Israel termasuk jadi peserta. Mumpung segar pernyataan Sultan Johor Ibrahim Iskandar di Straits Times 24 Maret 2016 supaya Malaysia tidak meng-Arab-kan Islam Malaysia dan tidak perlu ikut ikutan lebih Arab dari Arab, merupakan watak assertive yang patut disosialisasikan secara benar hingga ke tingkat ASEAN.

Nah mengenai insiden Hiu-11 vs Kwai Fey maka jika kita mengajukan ke mahkamah internasional sesuai UNCLOS saya rasa pihak RRT akan tidak berkeberatan. Sebab dari awal posisi Beijing terhadap Jakarta adalah menghormati sikap RI yang tidak mau terjebak menjadi slaah satu pihak yang berkonflik. Jadi pengakuan kedaulatan RI atas Natuna merupakan modal dasar poros Jakarta Beijing yang menjamin kenetralan Jakarta dalam hal terjadi konflik bilateral antara RRT dengan Philipina, Malaysia Vietnam. Sejak awalnya RRT menganggap RI sebagai kapten ASEAN karena itu Beijing mengharapkan RI yang netral itu menjadi jurudamai antara AS Tiongkok maupun AS – ASEAN.

Nah posisi ini jangan sampai di-intervensi oleh residu kaum hawkish anti poros Jakarta Beijing. Jika Jakarta diadu dengan Beijng maka yang untung adalah Washington dan kekuatan lain diluar ASEAN RI Tiongkok. Nah saya ingin kita kembali menghitung sebetulnya kita ini diuntungkan atau dirugikan atau gigit jari dalam diplomasi segitiga Sam Kok, baik zaman perang dingin maupun pasca perang dingin.

CW: Hati-hati nanti dituduh komersial transaksional pak, kalau bicara untung rugi.

BK: Lho justru betul saya ini merasa kapok dan merasa keki karena Indonesia ini selalu dikibuli, bukan sekadar di bully oleh superpower, tapi dikelabui dan diperlakukan seperti orang naif, jujur, polos, lugu yang ketipu di pasar janji, opini, politik adu domba dan politik dagang sapi. Sebagai contoh konkret, adalah perundingan KMB Konferensi Meja Bundar 1949. Elite kita kan sudah capai dan pengen cepat selesai perang kemerdekaan sejak 1945.

Karena begitu Sekutu mendarat maka yang mereka lakukan adalah merongrong kewibawaan cabinet presidensial yang saya pimpin. Dengan alasan bahwa Sekutu mengecam kabinet sebagai cabinet bucho boneka imperialis Jepang, maka dibuatlah Maklumat Wakil Presiden no X 16 Oktober 1945 bahwa kabinet akan bermitra dengan KNIP Komite Nasional Indonesia Pusat yang berperan sebagai DPR. Setelah itu dikeluarkan Maklumat Pemerintah 3 November untuk mendirikan multi partai dan mengubur idee Partai Nasional tunggal karena dinilai berbau fasisme.

Lalu kabinet Syahrir mulai berunding dengan Belanda mulanya di Hoge Veloewe Belanda, gagal lalu di Linggajati juga dilanggar dengan Aksi Kolonial I 1947. Sutan Syahrir jatuh tapi diganti oleh wakilnya Amir Syarifudin, orang Kristen pertama yang menduduki kursi Perdana Menteri dan orang paling berkuasa di Indonesia. Amir melakukan perundingan di atas geladak kapal USS Renville yang berlabuh di Teluk Jakarta. Setiap perundingan wilayah RI semakin ciut, karena memang secara organisatoris, angkatan perang Belanda di belakang Sekutu lebih solid ketimbang lascar cikal bakal TNI yang hanya bisa melakukan gerilya defensive atau maksimal mengganggu dan belum tangguh untuk menghancurkan balik musuh NICA.

Karena itu delegasi kita ke KMB di The Hague fatigue dan ditengah suasana itulah delegasi AS memberi angin segar. Mereka menjanjikan bahwa Indonesia setelah terbukti anti komunis dengan penumpasan pemberontakan PKI Musso September 1948 akan memperoleh bantuan AS dalam rangka pembendungan komunisme. Dengan lobi seperti itu maka RIS (Republik Indonesia Serikat) menerima untuk membayar utang yang terbeban kepada pemerintah Hindia Belanda senilai US$ 1.170 juta.

Kita dijanjikan akan menerima porsi bantuan AS yang berlimpah untuk pembangunan ekonomi nasional RI. Ternyata bantuan konkret yang diberikan adalah kredit dan bantuan teknis untuk pembangunan PT Semen Gresik dan PT Pupuk Sriwijaya. Berbeda dengan arus bantuan Marshall Plan yang dikucurkan ke Jerman Barat sebagai gerbang pertahanan NATO menghentikan expansi Uni Soviet yang sudah menguasai Eropa Timur sejak 1948. Juga bantuan yang dikucurkan kepada bekas musuh Jepang sebagai sekutu pasca perang dingin untuk membendung ekspansi RRT terutama dengan meledaknya Perang Korea 25 Juni 1950 - 27 Juli 1953.

CW: Gus Dur sering menceritakan joke elite bahwa Indonesia tidak ingin memaklumkan perang kepada AS seperti Jerman dan Jepang. Sebab kedua negara itu setelah berperang, kalah dan mengaku kalah, menerima bantuan luarb iasa dari AS sehingga bisa bangkit dari keterpurukan Perang Dunia II. Sedang kalau Indonesia, risikonya adalah kita yang menang dan AS yang kalah, karena itu nanti kita tidak dapat apa apa; malah harus memberi bantuan kepada AS yang kita kalahkan celoteh Gus Dur dengan terpingkal pingkal.

BK: Itu joke yang paling ampuh dan memang ada benarnya. Sebab ternyata memang dalam hal perang diplomasi quid pro quo, politik itu soal who gets what and who pays for what, whom and why kita ini malah terbully dan ter-kibuli. Ada kabinet Sukiman Suwiryo

(27 April 1951-3 April 1952) yang dijuluki cabinet susu koalisi Masyumi dan PNI yang terlanjur menandatangani Mutual Security Act (MSA) yang dihebohkan oleh parlemen dan kabinet jatuh.

Jadi kepalang tanggung mau bekerjasama tapi takut diserang parlemen, terus tidak mantap ya malah kabinentya bubar. Terus kita bermanuver dengan politik bebas aktif, memcoba “adu domba” Uni Soviet AS dan memperoleh keuntungan dari rivalitas dan kompetisi keduanya. Nah di situ sebetulnya kita ini harus kayak orang dagang, dari Uni Soviet dapat apa, dari AS dapat apa, dari Tiongkok dapat apa? Semua tentu dibumbui lips service; kita berdaulat, tidak diikat oleh siapa pun, semua atas dasar kesukarelaan dan kepentingan nasional. Sebetulnya kita kurang lihai memainkan kartu, sehingga segala sesuatu berjalan tidak sepenuhnya pas setara dengan nilai geopolitik yang dinikmati justru oleh para superpower itu secara “murah meriah terkadang gratisan”.

CW: Bisa dijelaskan lebih rinci pak.

BK: Dalam sejarah peperangan antara bangsa, hukum besinya adalah bangsa yang kalah

harus membayar pampasan perang, ganti rugi kompensasi oleh pihak yang kalah kepada pihak yang menang. Sebagai pelajaran dan hukuman bagi provokator yang memulai peperangan membuat bangsa lain menderita dan berkorban. Itu hukum alam yang berlaku sejak awal perang zaman primitive sampai Perang Dunia II sebagai dampak langsung Perang Dunia I.

Setelah Perang Dunia I sebagai perang yang menghukum pihak yang kalah dengan kewajiban pembayaran pampasan maka timbul situasi baru. Karena pampasan yang sangat memberatkan pihak pecundang ternyata merupakan benih meletuskan Perang Duinia II. Karena Adolf Hilter, menggunakan ketidakpuasan rakyat Jerman yang merasa ditindas oleh sekutu pemenang Perang Dunia I dengan kewajiban menyetor pampasan yang sangat memberatkan ekonomi Jerman.

Karena itu terlepas dari masalah membendung komunisme, salah satu terobosan kenegarawanan elite Jerman Prancis inggris dan Eropa pasca Perang Dunia II adalah tekad untuk mengakhiri dendam kesumat dan benih perang yang meletuskan dua perang dunia. Dengan menciptakan masyarakat ekonomi Eropa diawali dengan pasar bersama besibaja dan batubara (European Coal and Steel Community) cikal bakal Uni Eropa sekarang. Momentum itu mengalami lompatan quantum dahsyat dengan perang dingin baru antara AS vs Uni Soviet.

Sehingga AS justru menjadi negara pemenang perang yang tidak menikmati kompensasi pembayaran pampasan perang dari Jerman dan Jepang. Melainkan malah harus mendanai mengucurkan bantuan pinjaman dan hibah untuk menyelamatkan bekas musuh itu dari ancaman menjadi komunis dan masuk blok Uni Soviet yang membahayakan eksistensi AS dan sekutunya.

Dengan pola seperti itu maka AS bagaikan sinterklas pembagi fasilitas dana dan program pembendungan komunisme. AS juga menjadi polisi dunia mencegah suatu bangsa menjadi komunis seperti di perang Korea dan perang Vietnam 1957-1975 Di Vietnam itu AS harus mengeluarkan budget miliaran dollar dan berkorban kehilangan 50.000 jiwa pasukan AS yang gugur di Vietnam. Sementara di Indonesia, Soeharto menjadikan Indonesian anti komunis secara gratisan untuk AS. Jadi samasekali tidak ada diplomasi quod pro quo antara RI dan AS. Yang ada ialah RI di bawah Soeharto menjadi anti komunis total lebih galak dari Korea dan Vietnam, membantai sesame bangsa yang dicap komunis, termasuk mengorbankan saya sebagai tokoh Sukarnois yang menjadi ganjalan aksi memasukkan RI dalam blok Barat AS secara gratisan.

Segera harus dicatat saya juga tidak gratisan memperoleh pinjaman senjata Uni Soviet. Armada kapal selam dan ALRI serta MIG dan AURi terkuat di belahan bumi selatan itu harus RI bayar sebanyak US$ 2,5 miliar, bukan hibah oleh Khruschov. Jadi dalam hal ini kita semua harus mawas diri kenapa negara lain bisa menikmati hibah atau bantuan dengan dalih anti komunis mulai dari Jepang, Korea Vietnam Philipina Thailand.

Sedang kita justru jadi konyol tadinya sok mau netral bebas aktif tidak memihak sampai teken MSA pun dicabut dan kabinetnya bubar. Tapi setelah itu RI justru menjadi kampung anti komunis yang gratis bagi superpower AS. Coba dikalkulasi secara matematik cerdas

pasti kita ini sangat tidak canggih dalam politik transaksional. Di mulut retorika pidato

kita berdiplomasi tidak didikte oleh pihak manapun dan selalu untuk kepentingan nasional. Tapi dalam praktek dan realitas politik kita itu malah dikibuli oleh semua

superpower.

CW: Sekarang ini dalam segitiga Sam Kok AS, RRT RI, kita harus bagaimana pak?

BK: Ya tadi itu, jangan sampai kita ini terjebak urusan sentiment primordial membawa bawa etnis Tionghoa atau India dalam konflik geopolitik berdimensi global, regional maupun lokal nasional. Dulu 1971 kita masih sangat anti komunis, Nixon menerobos ke Beijing karena AS merasa perlu mengadu domba Moskow dengan Beijing dan menikmati keuntungan dari politik segitiga Sam Kok itu. Kita waktu itu tetap anti komunis, anti RRT padahal RRT nya sendiri sudah berubah dari garis keras yang dungu dengan Revolusi Kebudayaan 1966-1976 menjadi rezim Pasar Bebas Deng Xiao Ping pasca Marxisme yang dianggap gagal. Tiongkok kembali ke ekonomi opasar 1979 setelah gagalnya 3o tahun ekonomi kolektif Marxisme.

Tiongkok perlu Indonesia dan Indonesia perlu Tiongkok begitu juga AS ASEAN India, Jepang, Korea dan sebagainya. Nah dalam praktek interaksi diplomatic dan transformasi geopolitik itu bagaimana kita menghitung dan merumuskan kita dapat apa, berapa dan bagaimana dari si anu dan dibandingkan dengan si polan itu mana yang lebih menguntungkan bagi Republik Indonesia. Ya memang ini Presiden, cabinet, menteri, elite harus bersatu padu, putar otak, peras keringat dan curahkan energy untuk strategi diplomasi supaya tidak dibully ataupun dikibuli oleh diplomat dan birokrat internasional superpower yang bisa memperoleh keuntungan diplomatik secara lihay canggih dan cerdas.

Sedang kita sudah bolak balik dikibuli mulai dari KMB sampai Karaha Bodas dan anti komunis gratisan kok tidak kapok kapok. Boleh saja pidato tentang Trisakti, tapi hasil konkretnya harus jelas. RI dapat apa kalau kita sinergikan Poros Maritim dengan One Belt One Road Xi Jinping. Bagaimana supaya Poros Maritim pas dengan OBOR, Artinya betul betul kawasan dan lintas maritime Indonesia terangkat, terungkit jadi jalur maritime global seperti era Marco Polo dan Zheng He di abad Pertengahan.

Coba dikalklasi secara strategic sekaligus detail dari operasi Poros Maritim dan ASEAN jadi mediator superpower di pivot Asia Tenggara. Bagaimana posisi Indonesia sebagai Kapten kesebelasan ASEAN ini dihargai oleh AS RRT Jepang India, Rusia Eropa dan Timur Tengah serta Amerika Latin. Bagaimana mengisi kedaulatan Indonesia dan ASEAN dengan substansi dan bukan dengan retorik yang menjurus ambang perang tanpa pikiran sehat kompetisi produktif kreatif antar peradaban, antar nation state secara damai, beradab. Dan menghasilkan win win solution yang bermanfaat bagi kemajuan kesejahteraan ummat manusia. Bukan mengulangi kesalahan Perang Dingin dan Perang Teror atau Perang Peradaban.

Kalau kita bisa menuju kesitu, maka masalah masalah residu Perang Dingin dan Perang Peradaban dapat kita atasi dan kita ganti dengan fenomena pembangunan manusia pasca teologi Kabil primitive, menuju imortalitas manusia berdimensi moral meritokrasi. Trobosan Diplomasi Kebangkitan Paskah Sri Paus Fransiskus menyapa umat non Katolik merupakan ajaran moral untuk menghentikan residu kebencian Perang Dingin yang menjadi biang keladi kericuhan dan konflik antar peradaban.

Kita harus mendukung dan mensosialisasikan Diplomasi Kebangkitan. Agar kita semua bangkit dari cengkeraman residu perang dingin dan konflik peradaban yang menimbulkan perang teror dan derivativenya perang lintas batas yang dipicu moralitas teologi Kabil dendam kesumat kepada Habil.

CW: Terima kasih pak katas pencerahan Paskah yang relevan baik untuk masalah domestic seperti drama Mega A Hok maupun konflik Kway Fey Hiu-11 di perairan Natuna. Sampai ketemu di edisi 13, Senin 4 April 2016.

(mdk/war)