Wawancara Khusus

Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra: Salahkan Saya Juga Boleh

Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra: Salahkan Saya Juga Boleh
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. ©2020 Liputan6.com/Tira Santia
KHAS | 17 November 2021 11:52 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra masih tetap tersenyum meski persoalan berat di pundaknya. Pemerintah menilai, perusahaan yang dipimpinnya secara teknis sudah disebut bangkrut.

Garuda Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya di luar karena utang yang membesar, tapi juga di internal perusahaan. Karyawannya sudah tidak lagi mendapat gaji penuh. Termasuk sang direktur utama. Karyawan yang gajinya tidak terlalu besar, potongannya hanya 30 persen. Sedangkan yang bergaji jumbo, potongan bisa mencapai 50 persen.

Dibuka opsi pensiun dini. Karyawan berhak mengajukan. Setelah itu dibicarakan kesepakatan dua belah pihak. Opsi lain, tawaran cuti di luar tanggungan. Opsi yang muncul karena keadaan. Irfan mengakui, demi mengurani beban.

Bos Garuda Indonesia masih percaya diri. Persoalan ini bisa selesai. "Percaya sama Saya," katanya.

Berikut petikan wawancara khusus jurnalis merdeka.com Wilfridus Setu Embu dengan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.

Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo di paparan dengan DPR sempat menyinggung bahwa Garuda Indonesia technically bangkrut. Apakah kondisinya memang seperti itu?

Itu kan istilah

Bagaimana kondisi terkini Garuda Indonesia?

Begini, kalau Anda lihat buku, hidup itu kan ada dua. Di atas kertas sama kenyataan. Di kenyataan, saya (Garuda) masih hidup kan? Tapi dihitung-hitung gila utangnya segini, pendapatannya segini. Gini lah, Kamu kalau punya utang Rp1 miliar, gaji Kamu cuma Rp10 juta, Kamu technically sudah mati kan.

Tapi kalau masih hidup terus berarti, satu mereka tidak ngotot. Kedua Kamu kerja keras. Ketiga, Tuhan mungkin masih kasihan.

Tadi sempat disebut ada beberapa kewajiban yang ditahan. Ada pensiun dini, gaji ditahan. Bagaimana kondisi di internal Garuda?

Gaji tidak ditahan. Dipotong. Sebenarnya begini. Jumlah pesawat kita segini, kita punya organisasi untuk disesuaikan dengan jumlah pesawat, lebih-lebih dikit oke lah. Jumlah pesawat yang terbang mengecil ini perlu banyak segini tidak. Dan saya bicara terbuka sama karyawan, saya ada sharing session setiap bulan. Saya bilang, ini masalah karena dengan jumlah pesawat kita yang sedikit dari yang kita punya yang kita terbangkan berarti tidak banyak.

Pendapatannya kalau pun penuh kan tidak cocok dengan bebannya. Salah satunya beban jumlah orang. Tapi kita bicara baik-baik kok. Ini Kamu jangan salahin Saya, jangan salahin ini. Ini kan pandemi. Semuanya kan terjadi pandemi. Mau salahkan Saya boleh juga sih.

Terus kita tawarkan pensiun dini. Pensiun dini itu artinya Kamu mengajukan. Kesepakatan dua belah pihak. Bukan Saya loh pensiun dini. Terus kita tawarkan cuti di luar tanggungan. Kan ada yang mau urusin anak, suami, istri. Pokoknya dia cuti kita tidak bayar. Oke kan jadi beban Saya kurang.

Setelah dilakukan aduh makin berat nih. Kita bisa hidup atau tidak. Ya kita potong gaji. Saya dipotong juga loh. Saya dipotong 50 persen. Gaji Saya lebih kecil daripada BUMN kecil. Eh kenapa Saya ngeluh ya. Ada beberapa yang pendapatannya tidak terlalu tinggi kita kasih 30 persen (potongan). Pilot jumlahnya banyak dirumahkan gantian. Kan kita mau membebaskan. Kita omong apa adanya.

Lalu, kalau lessor itu jumlahnya berapa totalnya?

Tidak tahulah Saya angkanya. Tapi memang kita nyewanya mahal lah.

Kisaran angka berapa?

Mahal. Dan jadi beban karena ini bisnis yang marginnya single digit. Kamu mesti cost leadership. Kamu mesti jago. Ini revenue against costnya ketinggian dibandingkan teman-teman yang lain. Bukan tidak kompetitif. Makin susah kita untuk untung.

Sebenarnya kompetitif satu hal lah, tapi makin susah kita bikin untung karena makin susah kita bikin untung. Karena cost-nya besar.

Terus kan orang pada ngomong di luar, yang masih di dalam ngomong, teman-teman. Saya kasih tahu sama kamu ya, Saya mau kerja. Tidak mau menanggapi para komentator yang cari panggung.

Gini saja deh. Kita lakukan sebaik mungkin. Maybe sana salah sini salah. Tapi ini satu setengah tahun.

Kalau estimasi kira-kira selesai setahun apa dua tahun dengan lessor?

Bisa. Sudah tenang aja.

Anda yakin?

Kamu percaya sama Saya. (mdk/noe)

Baca juga:
Penjelasan Pilot Garuda Indonesia Soal Kabar Pengalihan ke Citilink
Negosiasi Berlanjut, Garuda Indonesia Sampaikan Skema Restrukturisasi ke Lessor
Umrah dan Haji dari Indonesia Kembali Dibuka, Garuda Indonesia Bisa Ketiban Untung
Menghitung Besaran Gaji Pilot Garuda Indonesia
KPK Minta Peter Gontha Laporkan Dugaan Korupsi di Garuda Sesuai Prosedur
Nasib Pilot Garuda Indonesia
Penyebab Sebenarnya Garuda Indonesia Bangkrut Versi Erick Thohir

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami