Doa Kesembuhan dari Balik Jeruji

Doa Kesembuhan dari Balik Jeruji
Pasien ODGJ di Ponpes Daarul Miftah Mulia, Ciseeng, Kabupaten Bogor. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki
KHAS | 6 April 2021 11:40 Reporter : Arie Basuki

Merdeka.com - Dua pekan lagi Johan pulang ke rumah. Keadaannya sudah lebih tenang. Wajahnya mulai bisa tersenyum. Rasa rindu berada di tengah keluarga ini sedang dinantikan. Setelah berbulan-bulan menjalani rehabilitasi. Johan kini terasa seperti terlahir kembali.

Johan bukan seorang kriminal. Pria ini sedang menjalani terapi kejiwaan. Bertumpuk masalah di tahun lalu, membuatnya harus mengalami depresi. Tiap hari tatapannya kosong. Tak mau bicara dan lebih sering melamun.

Kurang lebih tujuh bulan Johan menjalani terapi. Selama berobat untuk kesembuhan jiwanya, dia dimasukkan ke dalam kamar berjeruji besi. Tidak sendiri di ruangan itu. Banyak pula yang senasib dengannya.

"Sebentar lagi saya akan kembali bertemu keluarga," ujar Johan ketika berbincang dengan merdeka.com, Senin kemarin.

pesantren penderita gangguan jiwa di ciseeng

pasien odgj di ponpes daarul miftah mulia ciseeng kabupaten bogor

Masalah ekonomi memang paling dirasakan Johan. Mantan kontraktor ini sempat terlilit utang. Di tengah kesusahan itu, dia mendapat musibah. Sang istri harus operasi rahim dan membutuhkan biaya besar.

Merasa terpojok dan tidak mendapat jalan keluar, perlahan terjadi perubahan sikap dari Johan. Pria ini tidak mau lagi banyak bicara dan tatapannya kosong.

Tempat rehabilitasi jiwa itu bernama Daarul Miftah Mulia. Berada di tengah desa berudara sejuk kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Tepatnya di Kampung Cisuuk RT 04 RW 02. Sekitar bangunan itu di kelilingi kebuh beragam jenis sayuran. Sepintas memang terlihat seperti sebuah pesantren.

pesantren penderita gangguan jiwa di ciseeng

pesantren penderita gangguan jiwa di ciseeng

Sudah 14 tahun tempat rehabilitasi ini berdiri. Ribuan pasien Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pernah ditangani. Semua langsung dipegang Ustaz Ruslan selaku pimpinan Daarul Miftah Mulia.

"Banyak pasien yang datang biasanya stres karena faktor ekonomi," ujar Ustaz Ruslan ketika berbincang dengan merdeka.com, Senin kemarin.

Pasien di tempat rehabilitasi jiwa Daarul Miftah Mulia kini terdapat 60 orang. Mereka memiliki beragam latar belakang sakit berbeda. Mulai dari depresi hingga masalah penyalahgunaan narkoba yang menyebabkan gangguan jiwa.

Lebih dari 80 persen pasien di sini juga mendapat pengobatan gratis. Untuk bisa menutupi kekurangan, biasanya Ustaz Ruslan dan timnya melakukan subsidi silang dan berharap uluran tangan donatur. Biasanya untuk pasien memiliki kemampuan ekonomi cukup, mereka biasanya dikenakan biaya pengobatan Rp600.000 sampai Rp1,5 juta per bulan.

Metode Penyembuhan

Dalam menyembuhkan para pasien, Ustaz Ruslan menggunakan metode pijat simpul saraf dan rukiah. Pengobatan semacam ini memang menjadi andalan di Daarul Miftah Mulia. Para pasien memang lebih banyak diminta mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Para ODGJ juga diajarkan salat, membaca Alquran dan zikir. Persis seperti mengajarkan kepada santri di pesantren. Selebihnya unuk mengisi waktu luang, para ODGJ ini juga diajarkan langsung berkebun di halaman sekitar area rehabilitasi. Meskipun lahan kebun mereka garap masih milik orang lain akibat masalah keterbatasan.

pasien odgj di ponpes daarul miftah mulia ciseeng kabupaten bogor

pesantren penderita gangguan jiwa di ciseeng

Khusus bagi pasien dengan tingkat kesulitan khusus, biasanya Ustaz Ruslan akan memasukkan ke dalam ruang isolasi. Walau namanya terkesan menyeramkan, tetapi ruangan itu sangat manusiawi. Tentu ini dilakukan agar ODGJ tersebut tidak mengancam kondisi para pasien lain. Rata-rata untuk penyembuhan membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun.

"Selama menjalani terapi, kami para pasien memang diajarkan untuk banyak beribadah dan berdoa," ungkap Johan.

Para pasien pasien sekaligus santri Daarul Miftah Mulia memang dikirim langsung keluarga. Ada pula kiriman dari berbagai komunitas yang menemukan ODGJ di jalanan. Semua diterima Ustaz Ruslan dengan tangan terbuka.

pasien odgj di ponpes daarul miftah mulia ciseeng kabupaten bogor

pesantren penderita gangguan jiwa di ciseeng

Harus diakui selama masa Pandemi Covid-19, tempat rehabilitasi kejiwaan miliknya mendapat banyak tambahan pasien. Bahkan jumlahnya dua kali lipat. Banyak di antara pasien lagi-lagi utamanya terkait masalah ekonomi. "Di masa pandemi ini, penghuni pesantren bertambah."

Memang selama 14 tahun terakhir Ustaz Ruslan sudah memutuskan membantu penyembuhan masalah kejiwaan ini. Semua berawal ketika dia mengajar di Pondok Pesantren. Ada seorang santrinya memiliki kakak mengalami kejiwaan cukup parah. Kemudian Ustaz Ruslan meminta izin keluarga membantu menyembuhkan.

Selama menjalani proses penyembuhan, kakak dari santrinya tersebut menjalani terapi seperti dilakukannya kini di Daarul Miftah Mulia. Setelah sekian bulan, pasien tersebut sembuh. Dari situ nama Ustaz Ruslan terus dikenal hingga kini mampu menyembuhkan ODGJ. "Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk membantu sesama manusia," kata Ustaz Ruslan mengungkapkan. (mdk/ang)

Baca juga:
Penderita Gangguan Jiwa di Tabanan Bertambah 760 Orang Selama Pandemi Covid-19
Ingat Eks Pramugari Depresi Tinggal di Yayasan Sosial? Begini Kabar Terbarunya
5 Cara Menghadapi Orang Bipolar, Beri Bantuan Sejak Dini
Kembang Desa Cantik Jadi ODGJ, Tidur Sama Kambing di Rumah Kecil
Polisi Amankan Pria Coba Bunuh Diri di Depan Polres Jakarta Selatan
Mensos Usul Orang dengan Gangguan Jiwa Dapat Vaksinasi Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami