Dokter Oen Boen Ing, Penolong Rakyat Kecil Yang Tak Mau Dibayar

Dokter Oen Boen Ing, Penolong Rakyat Kecil Yang Tak Mau Dibayar
Dokter Oen Boen Ing. ©Yayasan Panti Kosala
KHAS | 12 Februari 2021 07:15 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Pukul tiga dini hari di Kota Surakarta. Puluhan orang sudah mengantre dengan rapi di daerah Pasar Legi. Mereka tukang becak, pedagang kecil, kuli angkut dan para wong cilik lainnya. Sebagian tak membawa uang. Tapi mereka tahu, Dokter Oen Boen Ing tak akan mengusir mereka yang tak punya.

Saat kebanyakan orang masih nyenyak tidur, Dokter Oen sudah siap menyambut pasien di klinik yang sederhana. Penampilannya khas dengan kaca mata dan kemeja putih. Dengan cermat didengarkan keluhan pasiennya satu per satu. Biasanya tak butuh waktu lama, Dokter Oen langsung bisa mendiagnosis penyakit pasien.

Semua dikerjakan sendiri oleh Dokter Oen. Mulai dari memanggil pasien, memeriksa, hingga menuliskan resep. Tak ada asisten di klinik itu. Hanya seorang pria tua yang membantu menjaga tempat parkir.

Jika biasanya dokter lain akan meminta ongkos pengobatan, tidak demikian dengan Dokter Oen.

"Tidak usah bayar, semoga lekas sembuh saja," katanya pada pasien yang tak punya uang. Hampir selalu seperti itu.

Dokter Oen tak meminta bayaran apa pun. Bahkan tak jarang Pak Dokter malah mengongkosi pasiennya pulang. Dia juga yang akan menebus resep obat jika pasiennya tak punya uang. Semua dilakukan Dokter Oen atas nama kemanusiaan.

Di luar jam praktik, dokter Oen juga tak pernah menolak pasien. Jika seandainya dia sendiri pun sedang tak sehat, maka dokter Oen akan beristirahat sejenak dan kembali mengobati pasien yang datang.

"Saking unik dan mulianya kebiasaan Dokter Oen membuka praktek pada pukul 03.00 WIB dan mengobati pasien yang membutuhkan, ini menjadi memori kolektif Wong Solo," kata Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, kepada merdeka.com.

Dokter Oen dicintai semua kalangan di kota Surakarta. Namanya jelas menunjukkan dia seorang keturunan Tionghoa. Namun dengan bangga komunitas Arab di Surakarta, menyebut dokter Oen sebagai dokternya Orang Arab. Dokter Oen juga diangkat menjadi dokter bagi Keluarga Keraton Surakarta. Sementara bagi rakyat kecil, dokter Oen adalah sahabat dan harapan satu-satunya untuk mendapat pertolongan medis.

"Bagi masyarakat Surakarta, nama Dr Oen begitu lekat sebagai dokternya wong cilik karena tidak pernah minta ongkos saat praktik. Bahkan kadang sering mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan obat untuk pasien yang tidak mampu," kata dr Handojo Tjandrakusuma, Ketua Pembina Yayasan Kesehatan Panti Kosala Solo saat berbincang dengan merdeka.com.

Tak pernah sekali pun terlintas oleh Dokter Oen menjadikan profesi dokter sebagai sarana mendapat keuntungan. Hal ini pun diamini oleh pihak Keraton Mangkunegaraan.

"Selain menjadi dokter keluarga Pura Mangkunegaran, Dokter Oen juga sangat dekat dengan rakyat. Pasien khususnya yang kurang mampu digratiskan," kata Abdidalem Pariwisata Pura Mangkunegaran Solo, Mas Ngabehi Joko Pramodyo.

Ada lagi cerita dari seorang menteri era Orde Lama Oei Tjoe Tat. Keluarganya adalah langganan dokter Oen di Surakarta. Oei menyaksikan kebiasaan dokter Oen yang menyobek kwitansi pembayaran obat untuk pasien miskin. Kenangan akan peristiwa itu sangat membekas bagi Oei Tjoe Tat.

dokter oen boen ing

Oen Boen Ing lahir di Salatiga, 3 Maret 1903. Ayahnya adalah seorang pengusaha tembakau yang kaya raya. Namun Oen Boen Ing sejak kecil rupanya sudah ingin menjadi dokter. Keinginan ini muncul setelah sering membantu kakeknya yang menjadi shinse atau dokter tradisional Tionghoa. Sang kakek tak pernah memberatkan pasien dengan meminta ongkos pengobatan.

Dengan polos, Oen kecil bertanya pada kakeknya. Kenapa tidak menarik uang berobat dari pasien? Sang kakek menjawab bijak. Tuhan akan memberikan rezeki yang cukup selama kita melayani dengan rasa welas asih dan penuh kemanusiaan.

"Momen itu yang saya kira terus membenak dalam benak Oen, hingga akhirnya berbuat mulia seperti kakeknya," kata Heri Priyatmoko.

Namun cita-cita Oen muda menjadi dokter mendapat tentangan dari keluarga. Mereka berkeras putera laki-lakinya harus meneruskan bisnis keluarga.

Berbeda dengan sekarang, profesi dokter dulu bukanlah profesi idaman bagi priyayi pribumi dan orang-orang kaya Tionghoa. Penghasilan dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah, lebih kecil dibanding pegawai negeri. Sekolahnya pun lama dan sulit.

Dokter lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) harus mengobati masyarakat pribumi. Melakukan pekerjaan yang tak mau dilakukan oleh Para Dokter Eropa. Mereka juga harus menghadapi berbagai wabah penyakit yang melanda Hindia Belanda kala itu. Mulai cacar, pes, hingga Flu Spanyol yang banyak memakan korban jiwa.

Sang Kakek yang menginspirasinya sejak kecil juga ternyata menentang niat Oen Boen Ing. Namun alasannya berbeda. Sang kakek justru takut Boen Ing akan mencari kekayaan dengan membebani orang sakit. Hal ini yang membuat Oen muda bertekad menjadi dokter hanya untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Niatnya makin bulat.

Oen Boen Ing lulus dari STOVIA di Batavia tahun 1932. Dia pertama kali bekerja sebagai dokter di Kediri. Di sana pula Dokter Oen bertemu pujaan hatinya, Corrie Djie Nio. Gadis cantik, puteri dari keluarga terpandang di kota itu. Namun Corrie ternyata mampu menyesuaikan diri dengan kesederhanaan dan idealisme dokter Oen. Sekitar tahun 1935, keluarga muda itu memutuskan pindah ke Surakarta. Di sanalah dokter Oen makin menancapkan citranya sebagai dokter Wong Cilik.

Tak Mau Dikultuskan

Kebiasaan dokter Oen membuka praktik pada pukul 03.00 WIB, konon didasari oleh kesukaannya pada angka 3. Hal itu berasal dari tanggal lahir dr Oen. cerita-cerita unik dan kiprah dokter Oen di Solo masih banyak diingat warga senior di sana.

Salah satunya Sumartono Hadinoto. Dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dokter Oen menjadi dokter langganan ayah dan ibunya.

“Saya ingat betul, pengabdian beliau sangat luar biasa. Pasiennya banyak sekali,” kata Sumartono.

Cerita lain yang banyak diingat juga adalah bagaimana masyarakat sangat percaya dengan kemampuan Dokter Oen. Sampai kalau ada yang sakit, komentarnya selalu berbunyi, sudah dibawa ke dokter Oen belum? Begitu sampai ke rumah praktik dr Oen, begitu di-stetoskop saja pasien sudah merasa langsung sembuh. Rupanya dokter Oen membawa sugesti positif bagi pasiennya.

“Itu yang saya dengar dari orang tua saya. Bahkan orang secara psikologis, orang yang sakit, begitu ketemu dokter Oen otomatis sembuh,” tambahnya.

dokter oen boen ing
©Yayasan Panti Kosala

Pengabdian dokter Oen jauh dari sekadar mengobati pasien miskin. Sang dokter juga menyelundupkan penisilin untuk Jenderal Soedirman yang tengah bergerilya melawan Belanda. Saat itu susah sekali mendapatkan obat tersebut.

Dokter Oen pula yang membantu mengobati para pejuang saat perang kemerdekaan. Keluar masuk lokasi berbahaya demi mengobati yang terluka. Para pejuang di garis depan sangat menghormati dokter Oen.

Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan Satya Lencana Bhakti atas jasa-jasa dokter Oen Boen Ing pada tanggal 30 Oktober 1976.

Dokter Oen mewariskan keteladanan dan kemanusiaan. Prinsip hidup mulia yang masih relevan diikuti para dokter di tengah pandemi saat ini.Saat mereka mempertaruhkan nyawanya untuk mengobati pasien, hal ini mengingatkan pada kiprah dokter Oen dulu.

"Perjuangan tanpa memburu tepuk tangan dan duit. Menjalankan tugas mulia di tengah pagebluk covid-19. Ini mengingatkan kita pada kiprah Oen yang menyabung nyawa pada periode revolusi," kata sejarawan Heri Priyatmoko lagi.

Sebelum meninggal, dokter Oen meminta jenazahnya dikremasi dan abunya disebar ke Sungai Bengawan Solo. Dia tak ingin kelak kuburannya dikultuskan. Apalagi sudah banyak yang menyebutnya dokter ‘sakti’. Belum diobati sudah bisa menyembuhkan, dan segala hal yang menjurus klenik. Dokter yang rendah hati ini tak mau itu terjadi.

"Dokter Oen tidak mau orang-orang nanti berduyun-duyun datang ke makamnya lantaran terjerat mitos yang irasional bahwa dirinya adalah wong ampuh. Pusaranya juga bukan tempat ritual," jelas Heri.

Kesehatan dokter Oen memburuk seiring dengan usia senja. Tanggal 30 Oktober 1982, dokter Oen meninggal dunia. Seluruh Surakarta berduka. Ribuan orang berjejal dari berbagai golongan, tanpa melihat suku dan agama. Mereka semua ingin mengantarkan jenazah dokter Oen. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan hari itu. Lautan manusia membanjiri wilayah RS Panti Kosala, Krematorium Tiong Ting dan Pura Mangkunegaraan.

"Dokter Oen Boen Ing dikebumikan Jumat berikutnya upacara adat kebesaran Pura Mangkunegaran. Sri Paduka Mangkunegoro VIII bertindak sebagai inspektur upacara," ujar Mas Ngabehi Joko Pramodyo.

Wali Kota Solo Sukatmo Prawiro Hadisoebroto turut memberikan sambutan dalam upacara tersebut. Isak tangis dari orang-orang yang pernah diobati dr Oen terus terdengar saat momen mengheningkan cipta.

Dalam Buku Dr Oen, Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil yang ditulis Ravando dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2017, diceritakan dokter Oen tak pernah menumpuk kekayaan. Ada kisah mengharukan saat dokter itu meninggal. Pemilik apotek yang biasa jadi langganan Dokter Oen masih memegang bon tagihan sebesar Rp 200.000. Jumlah tersebut merupakan biaya pembelian obat untuk pasien kurang mampu yang ditanggung oleh dokter Oen pribadi.

Selain mewariskan cerita kemanusiaan, dokter Oen juga meninggalkan fasilitas kesehatan yang bertahan sampai hari ini. Salah satunya adalah RS Dr Oen Kandang Sapi Solo. Awalnya adalah Poliklinik Tsi Sheng Yuan yang sudah berdiri tahun 1933. Sempat pula berganti nama menjadi RS Panti Kosala. Di sinilah dulu tempat dr Oen berkiprah.

Untuk menghormati jasa-jasanya, nama Dokter Oen kemudian diabadikan sebagai nama rumah sakit pada tanggal 3 Maret 1983.

Di tahun 1992 berdiri RS Dr Oen Solo Baru di Sukoharjo. Rumah sakit kedua yang masih berada di bawah naungan Yayasan Panti Kosala.

Pesan Dokter Oen terus bergema, melintas melampaui zaman. "Aku ingin melayani orang lain, membuat orang lain yang susah jadi sehat. Aku ingin seluruh hidupku menjadi penolong." (mdk/ian)

Baca juga:
Sejarah Hari Pers Nasional 9 Februari, Ketahui Peran dan Tugasnya
Peluru Ini Jadi Bukti Indonesia Pernah Perang dengan Malaysia, Ditemukan TNI di Hutan
Asri dan Banyak Patung Unik, Ini Potret Omah Petroek Rumah Romo Sindhunata di Sleman
Kisah Hidup Shigeru Ono, Samurai Jepang yang Membela Kemerdekaan Indonesia
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati, Pernah Jadi 'Gubuk Janda' hingga Hotel

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami