Wawancara Khusus

Dr Aditya Gusman: Waktu Pasti Terjadinya Gempa Tidak Bisa Diprediksi

Dr Aditya Gusman: Waktu Pasti Terjadinya Gempa Tidak Bisa Diprediksi
Pakar Gempa dan Tsunami GNS Science Dr Aditya Gusman. ©2021 Merdeka.com
KHAS | 25 Agustus 2021 07:06 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Gempa bumi dan tsunami tidak bisa diprediksi waktu tepatnya. Hanya bisa diprediksi potensi terjadinya. Artinya, jika ada prediksi akan terjadi gempa dengan magnitudo (M) 8 dalam 30 tahun ke depan, tidak dapat dipastikan jelas waktu pastinya.

"Kalau ada yang menyatakan bahwa besok akan terjadi gempa di Jakarta M 8,7, maka jelas kalimat itu tidak dapat dipercaya. Intinya belum ada ilmu yang bisa memprediksi gempa sampai sedetail itu," ujar pakar Gempa dan Tsunami GNS Science Dr Aditya Gusman kepada merdeka.com.

Berikut petikan wawancara jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adilah dengan Dr Aditya Gusman.

Sempat beredar informasi mengenai potensi gempa megathrust bermagnitudo (M) 8,8 dan tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa. Bisa dijelaskan mengapa potensi gempa besar dan tsunami itu bisa terjadi?

Indonesia khususnya di lepas pantai pulau Jawa sebelah selatan itu berhadapan dengan satu zona gempa. Sebenarnya di bawah itu ada bidang pertemuan dua lempeng raksasa atau dikenal dengan zona subduksi yang merupakan sumber gempa besar.

Zona gempa itu sangat besar sekali, kalau ditarik garis itu sampai pada lepas pantai Aceh. Sumber gempa Aceh tahun 2004 yang mencapai M 9,1 hingga 9,2 itu masih satu daerah zona gempa besar dengan yang ada di selatan Jawa. Kalau ditarik itu bidang sumber gempanya dari Andaman- Aceh berlanjut ke bawah sebelah Barat pulau Sumatera kemudian di lepas pantai Selat Sunda, sampai berhentinya di sekitar Sumbawa.

Di zona subduksi besar ini umumnya dibagi menjadi beberapa segmen, seperti segmen Selatan Jawa, segmen Selat Sunda, dan segmen Sumatera. Karena daerahnya yang besar, maka magnitudo gempa bisa sanget besar karena magnitude gempa sebanding dengan luas bidang lempengan gempa. Misalnya bidangnya kecil maka magnitudonya juga akan kecil, begitu sebaliknya.

Untuk di daerah Selatan Jawa saja mungkin sekitar 1.500 kilometer panjangnya. kalau berdasarkan panjangnya saja bisa melepaskan energi sampai magnitudo 9+. Itu sangat besar sekali. Maka yang dimaksud dengan gempa megathrust itu adalah gempa yang terjadi di bidang besar ini. Sedangkan thrust adalah bentuk pergerakannya yang mengarah ke atas.

Daerah megathrust itu adalah daerah yang dapat menghasilkan gempa dengan mekanisme gerak ke atas dan sangat luas. Seperti yang pernah terjadi di Jepang, Amerika Selatan dan Aceh. Jadi berdasarkan luas bidangnya, masih terdapat kemungkinan terjadinya gempa megathrust ini di selatan Jawa.

Ahli menyebutkan bahwa Jakarta juga bisa merasakan dampak dari gempa megathrust tersebut. Sebesar apa dampak gempa megathrust itu?

Kalau gempa megathrust yang bergerak, dengan magnitudo (M) 8,7 sebenarnya bukan hanya Jakarta tapi keseluruhan pulau Jawa juga ikut merasakan guncangannya. Jadi terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi besarnya guncangan yang dirasakan di setiap daerah tersebut.

Pertama, berdasarkan letak lokasi di mana titik gempa berada. Semakin dekat dengan pusat gempa, maka semakin keras goncangannya. Kedua, untuk di Jakarta sendiri, khusus bangunan yang dibangun di atas endapan sedimen, bila terjadi gempa maka akan teramplifikasi guncangannya. Untuk daerah yang tanahnya keras maka guncangannya tidak akan lebih keras meskipun jaraknya lebih dekat dengan pusat gempa.

Apakah gempa tidak bisa diprediksi?

Jadi yang tidak bisa diprediksi itu waktu tepatnya. Untuk potensi sendiri kita menggunakan probability atau tingkat kemungkinan. Bila diibaratkan misalnya, ada prediksi akan terjadi gempa M 8 dalam 30 tahun ke depan, artinya tidak dapat dipastikan jelas kapan tempatnya dalam 30 tahun itu. apakah akan terjadi besok, 2 tahun ke depan, atau 30 tahun ke depan. Jadi itu yang dimaksud dengan prediksi gempa.

Kalau ada yang menyatakan bahwa besok akan terjadi gempa di Jakarta M 8,7, maka jelas kalimat itu tidak dapat dipercaya. Intinya belum ada ilmu yang bisa memprediksi gempa sampai sedetail itu.

Apa tujuan para ahli membuat pemodelan gempa?

Pemodelan gempa ini tujuannya bisa berguna untuk perencanaan. Misalnya untuk membuat bangunan. Seperti contoh infrastruktur dengan biaya besar seperti PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) maka sebaiknya tidak dibangun di daerah patahan gempa. Pemodelan gempa juga digunakan untuk membangun jembatan, maka perlu adanya perencanaan.

Contoh lain, untuk perencanaan yang masuk dalam daerah gempa, maka dapat dibangun sawah tanpa perlu ada bangunan. Jadi perlu dipahami daerah sumber-sumber patahan gempa itu, tidak hanya megathrust saja. Ada disebutnya kajian bahaya gempa. Kita sudah punya peta sumber dan bahaya gempa nasional yang diterbitkan tahun 2017. Itu mempelajari potensi gempa serta sumber-sumber gempa. Jadi tujuannya untuk meminimalisir dampak dari kerusakan gempa itu sendiri.

Apa jenis gempa yang paling sering terjadi di Indonesia dan penyebabnya?

Sebagian besar tsunami di dunia dibangkitkan dari gempa, sama halnya di Indonesia. Untuk jenis gempa, secara umum dibagi menjadi dua, pertama gempa di daerah subduksi yaitu gempa yang terjadi di daerah besar sekali misalnya di Selatan Jawa dan Selatan Sumatera. Lalu kedua, dalam scientific istilahnya crustal faults yaitu gempa yang terjadi di lempeng benua atau kerak bumi.

Biasanya sangat dangkal dan magnitudonya cenderung kecil M 5-7. Dampaknya sendiri cenderung masuk kategori lokal, hanya skala provinsi, seperti gempa yang terjadi di Palu tahun 2018

Wilayah mana di Indonesia yang paling berpotensi diguncang gempa vulkanik?

Untuk gempa vulkanik tentunya terjadi di daerah yang berada di sekitar gunung berapi seperti Gunung Merapi, Gunung RInjani, dan sebagainya. Sedangkan letusan gunung, yang paling jelas adalah yang terjadi di kawasan sekitar gunung Krakatau. Seperti yang terjadi di tahun 2018 di Banten, di mana terjadi letusan dan sebagian badan dari gunung Krakatau longsor dan jatuh ke air. Itu yang membangkitkan tsunami di daerah Selat Sunda.

Mungkinkah tsunami besar tahun 1883 yang diakibatkan letusan Gunung Krakatau berpotensi terjadi kembali?

Untuk magnitude sebesar erupsi Krakatau di tahun 1883 itu kemungkinannya kecil terjadi. Jadi memang tahun 1883 itu terjadi tsunami yang disebabkan oleh gunung Krakatau. Itu erupsinya besar, tsunaminya besar pula.

Jadi saya rasa sangat kecil kemungkinan anak Krakatau dapat menghasilkan gempa sebesar itu dalam waktu dekat ini. Untuk potensi erupsi ke depan, sebenarnya masih perlu diadakan penelitian. Hipotesis dari saya, kalau sekarang terjadi erupsi gunung berapi seperti 2018 maka akan terjadi longsoran. Bila volume longsoran besar, maka tsunami juga akan besar.

Untuk tsunami tahun 2018 di Banten itu memang sudah banyak peneliti yang meyakini bahwa penyebabnya adalah aktivitas dari anak gunung Krakatau. Jadi karena erupsi, sebagian badan longsor, nah runtuhannya masuk ke laut. Karena proses itulah maka terjadi tsunami.

Berdasarkan hitungan prediksi, kapan gunung anak krakatau akan meletus hingga bisa menimbulkan tsunami yang besar?

Berdasarkan pendekatan sangat sederhana, bisa dihitung dari lahirnya gunung Anak Krakatau di tahun 1927 sampai kejadian 20018. Jadi sekitar 90 tahun mendatang.

Anda pernah tinggal di Jepang, seberapa canggih sistem peringatan dini gempa bumi di Jepang?

Peringatan dini tersebut bermanfaat untuk orang Jepang. Sebagai contoh, kereta cepat shinkansen bila terkena guncangan gempa terdapat kemungkinan kereta akan lompat dari relnya. Maka dari itu Jepang mengembangkan prediksi gempa yang baik agar kereta dapat berhenti sebelum guncangan gempa sampai pada laju kereta tersebut.

Peringatan dini di Jepang dibuat untuk mengetahui kapan guncangan itu merambat. Bukan waktu pasti terjadinya gempa. Jadi begitu gempa terjadi, maka guncangan atau getaran akan merambat, jadi sistem peringatan ini bisa menginformasikan rambatan getaran gempa sebelum sampai pada kereta tersebut. Saya rasa peringatan dini seperti ini adalah standar ya, tujuannya untuk mengurangi risiko dari bencana dan korban jiwa.

Sedangkan untuk peringatan dini tsunami, lagi-lagi kita tidak bisa memprediksi secara pasti waktu kapan terjadinya gempa pembangkit tsunami. Tetapi kita bisa prediksi berapa tinggi tsunami dan waktu tibanya berdasarkan data yang direkam oleh instrument setelah gempa terjadi. Berdasarkan informasi gempa itu, kita baru bisa mengetahui model tsunaminya. Nanti baru bisa disebarkan ke masyarakat untuk evakuasi dini.

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi gempa megathrust?

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan, bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat. Karena ini harus dilakukan bersama. Misalnya dengan pendidikan. Bisa dilakukan dengan drill (latihan evakuasi) secara terus menerus.

Contoh, di kalangan pelajar atau sekolah, setiap tahun bisa ada program latihan evakuasi bencana seperti gempa atau tsunami. Bisa disesuaikan dengan lingkungan masing-masing karena untuk program seperti ini memang perlu ada identifikasi dari sumber-sumber gempa sesuai dengan daerahnya.

Selain itu disiapkan pula jalur evakuasi. Kita dapat mencanangkan zona evakuasi dari setiap daerah sesuai dengan kemungkinan risiko bencana. Perlu juga ada infrastruktur untuk evakuasi vertikal.

Hal lain yang dapat disiapkan adalah terkait dengan logistik. Kalau di Jepang, jika terjadi bencana tsunami, maka supermarket sudah siap menyediakan logistik dan sleeping bag untuk dibagikan ke masyarakat. Di Indonesia sendiri harusnya ada satu gudang khusus untuk lumbung bencana.

Apakah pembuatan tanggul-tanggul di pantai tidak efektif?

Pengalaman dari Jepang yang membangun tembok, terdapat kelebihan dan kekurangan. Tembok tersebut hanya bisa menghentikan tsunami kecil. Tanggul tersebut dibuat gunanya untuk melindungi tempat-tempat yang dianggap penting. Tapi hal tersebut membutuhkan biaya yang besar sekali.

Sebenarnya yang harus dibangun pertama kali bukan tanggul namun ketahanan masyarakat. Nanti ketika masyarakat sudah paham, mereka akan sadar dan membangun tanggul. Jadi tanggul ini sebaiknya dibangun setelah ada kesadaran dari masyarakat sendiri. Jadi infrastruktur dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu memahami masyarakat lebih dulu.

Hal preventif lain yang bisa dilakukan yaitu sebenarnya membangun dengan tidak membangun apa-apa. Artinya pantai-pantai bebas dari bangunan atau bangunan yang ada, berjarak sekitar 200-300 meter dari bibir pantai. Sesuai dengan kemungkinan jarak tsunami. Selain itu, hutan pantai juga dianggap cukup efektif untuk menghalau atau mengurangi arus tsunami yang datang.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami