Dua Hari Jokowi Mencari Menteri

KHAS | 23 Oktober 2019 07:48 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Alunan lagu grup musik Queen dan Metallica bergema di tengah santap siang Presiden Joko Widodo dan Basuki Hadimuljono di Istana Negara. Mereka asyik berbincang. Membahas pembangunan infrastruktur Tanah Air lima tahun ke depan.

Basuki beruntung memiliki waktu cukup panjang berbincang bareng Jokowi di tengah audisi menteri. Tiga poin persetujuan telah ditandatangani, kemudian Basuki mendapat bonus khusus makan siang bersama. Apalagi keduanya dikenal doyan musik. Jokowi merupakan pendengar musik rock, sedangkan Basuki merupakan seorang penabuh alat musik drum.

Adapun pembahasan cukup berat itu, di antaranya mengenai pembangunan kawasan destinasi wisata seperti Danau Toba hingga Labuan Bajo. Jokowi juga sempat menyinggung progres sayembara ibu kota baru Indonesia. Basuki memang hampir dipastikan kembali mengisi Menteri Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Basuki Hadimuljono ©2019 Merdeka.com

Lebih kurang hampir dua jam Basuki berbincang dengan Jokowi. Sekitar 13.30 WIB, dirinya meninggalkan Istana Negara. Menjadi salah seorang calon menteri yang mendapat kesempatan bertemu paling lama di hari kedua audisi menteri pada Selasa, 22 Oktober 2019. "Agak lama karena bonus diajak makan siang," kata Basuki bercerita usai menemui Jokowi.

Sudah dua hari Jokowi memanggil para calon menteri. Sudah lebih 30 orang datang ke Istana Negara memenuhi undangan. Sejumlah nama mengejutkan muncul sejak hari pertama audisi pada Senin, 21 Oktober 2019.

Para calon menteri satu per satu datang ke Istana Negara kompak berkemeja putih. Aturan itu sesuai undangan bercap garuda di terima mereka sejak malam. Hampir dipastikan semua tokoh politik dan profesional itu menjadi pembantu presiden untuk pemerintahan lima tahun ke depan.

Walau resmi terima undangan, tidak semua bertemu langsung dengan Jokowi. Salah satunya, yakni Bupati Minahasa Christiany Eugenia Paruntu alias Tetty Paruntu. Kedatangan pada Senin, sekitar pukul 10 pagi di Istana Negara, tidak mendapat hasil positif. Dia gagal mendapat kesempatan menteri.

Hampir 3 jam para pewarta menunggu. Tetty belum juga keluar dari pertemuan tertutup. Pengumuman nasib Tetty justru diumumkan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin. Dijelaskan dia bahwa bupati Minahasa sekaligus kader partai Golkar itu langsung meninggalkan Istana melalui pintu samping usai bertemu Ketum Golkar Airlangga Hartarto.

Tetty dikabarkan hanya bertemu dengan mantan Mensesneg Pratikno. Dalam pertemuan, dirinya diminta klarifikasi atas dua kasus. Pertama, mengenai keterlibatan Tetty dalam kasus mantan anggota DPR Bowo Sidik yang disebut menerima suap sebesar Rp2,6 miliar dari Tetty atas kerja sama pengangkutan pupuk dan gratifikasi senilai Rp7,7 M. Kasus kedua, mengenai mutasi ASN di kantornya yang mengakibatkan Sekda Minahasa Selatan diselidiki pihak berwajib.

Tetty Paruntu ©2019 Instagram/christiany_eugenia_paruntu

Juru Bicara Kepresidenan, Fadjroel Rahman, mengungkapkan batalnya Tetty bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Dia mengakui bahwa Tetty diundang pihak istana. Namun, akhirnya presiden mempunyai pertimbangan tertentu.

"Diakui memang diundang kan, disampaikan melalui WA langsung tetapi kemudian ada sejumlah pertimbangan terkait dengan prinsip kehati-hatian. Tidak menunjukan soal hukum sebenarnya, tapi lebih pada prinsip kehati-hatian saja," kata Fadjroel.

Menurutnya, Jokowi mencermati betul soal calon menterinya. Tetty memang pernah diperiksa terkait kasus korupsi yang menimpa politikus Golkar Bowo Sidik. Kepala negara ingin para pembantunya bersih dari masalah di kabinet jilid II.

©2019 Merdeka.com

Pada hari pertama audisi menteri, nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD merupakan orang pertama tiba di istana merdeka. Melangkah dengan percaya diri, Senyumnya mengembang sambil melambaikan tangan kepada awak media.

Selain itu, menyusul CEO Go-jek Nadiem Makarim, Wishnutama, Pengusaha Erick Thohir sampai Kapolri Tito Karnavian. Pada sore hari, kejutan paling ditunggu akhirnya muncul. Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus mantan calon presiden, Prabowo Subianto tiba ke Istana. Dia hadir didampingi Edhy Prabowo yang juga dipanggil sebagai calon menteri.

Selama penyusunan kabinet berlangsung, Presiden Jokowi dibatu tujuh orang yang mendapat tugas khusus. Tugas tersebut berlaku hingga hari ini. Tujuh orang tersebut ialah Pratikno, Pramono Anung, Retno Marsudi, Moeldoko, Ari Dwipayana, Sukardi Rinakit dan Alexander Lay.

Panas Partai NasDem

Di hari pertama, presiden lebih banyak menerima tamu calon menteri dari kalangan profesional. Dia hanya menerima dua partai politik. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Prabowo Subianto.

Kehadiran keduanya membuat sejumlah pihak koalisi merasa kurang nyaman. Salah satunya Partai NasDem yang sejak awal mengusung Jokowi untuk menjadi petahana sebagai presiden. Sederet nama diusulkan dikabarkan ditolak Presiden Jokowi.

Salah satunya nama Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Sumber merdeka.com di internal Partai NasDem, menyebut Viktor tampak menanti telpon dari Presiden dan memilih menunggu di kantor DPP NasDem, Jakarta Pusat. Namanya tak kunjung dipanggil, Viktor akhirnya kembali bertolak ke NTT.

Di dalam markas Partai NasDem itu, sumber merdeka.com ini menyebut Ketum Partai NasDem Surya Paloh sempat naik pitam saat nama Viktor tidak diterima Jokowi. Surya kecewa kader terbaiknya ditolak presiden. Selain itu mereka juga kecewa lantaran presiden mengesampingkan partai politik dengan memberikan porsi kaum profesional.

Dalam semalam, NasDem mengubah nama usulan partai. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, mantan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Sekjen Partai NasDem Johny G Plate lalu diusulkan. Tiga nama itu mendapat sambutan positif dari Istana.

Surya Paloh membantah melakukan perubahan jumlah jatah menteri untuk partainya. Pada periode pertama kepemimpinan Jokowi-JK NasDem mendapatkan 3 kursi menteri. Menteri LHK oleh Siti Nurbaya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo.

"(Kursi menteri) enggak bertambah, enggak kurang," kata Surya di kantor DPP NasDem kepada merdeka.com.

Hanya saja soal pos menteri kali ini dia belum tahu. Masih menunggu pengumuman yang akan disampaikan Jokowi pada hari Rabu. Surya berpesan, siapa saja menteri yang ditunjuk presiden harus bekerja dengan baik dan memaksimalkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Dia ingin menteri dari NasDem mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya.

"Menempatkan kepentingan bangsa ini di atas segalanya," kata Surya mengakhiri.

Sekjen Partai NasDem, Johny G Plate, membantah masuknya nama Viktor sebagai calon menteri. Partainya merasa tidak pernah memberi rekomendasi nama tersebut kepada presiden. "Memang tidak ada namanya (Viktor)," kata Johny kepada merdeka.com, Selasa kemarin.

Viktor Laiskodat ©2019 Merdeka.com/antara

Usai pertemuan di Istana, Johny juga bercerita sudah bicara empat mata dengan Jokowi. Lantaran sering berkomunikasi dengan presiden, dia sudah tidak merasa canggung. Sebaliknya pertemuan keduanya justru langsung pada pokok masalah mengenai perlindungan data dan digitalisasi.

"Subtansinya itu arahan presiden dan diskusi terkait beberapa sektor," kata Johny bercerita.

Dampak dari sikap Partai NasDem, membuat posisi pos menteri berubah. Nama Edhy Prabowo yang sejak awal digadang mengisi pos Kementerian Pertanian justru tergeser. Rencananya hari ini dia bakal dilantik sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, mengganti posisi Susi Pudjiastuti.

Padahal sejak rekonsiliasi pascapilpres 2019, sumber merdeka.com di kalangan Istana Negara menyebut Jokowi yang meminta langsung kepada Prabowo untuk menjadikan Edhy Prabowo sebagai menteri pertanian. Upaya itu sekaligus menjadi pintu masuk awal Partai Gerindra masuk ke dalam koalisi.

Edhy masih enggan berkomentar tentang pos menteri bakal diisinya nanti. Diakuinya memang ada dua pertimbangan. Antara mengisi Kementerian Pertanian atau Kelautan. "Saya menunggu keputusan Pak Presiden saja," ucap dia.

Sedangkan nama menteri pertanian kemungkinan besar akan diisi kader Partai NasDem, Syahrul Yasin Limpo. Sinyal itu disampaikan usai dirinya menemui Jokowi secara empat mata dalam audisi menteri.

"Lebih khusus di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan lain sebagainya," kata Syahrul.

Bagi Partai Gerindra, posisi menteri bagi Prabowo palin terpenting. Prabowo hampir dipastikan mengisi pos Kementerian Pertahanan. Hal itu juga disinggung ketika berada di Istana Negara. Permintaan itu juga spesial diberikan kepada Jokowi.

Prabowo dan Edhy Prabowo ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Berbeda dengan Partai NasDem, justru jalan mulus didapatkan Partai Golkar. Tiga nama menteri sudah dipastikan masuk, yakni Airlangga Hartarto, Agus Gumiwang dan Zainudin Amali. Tiga nama itu tidak mengalami kesulitan. Apalagi nama Airlangga yang sudah jauh hari diminta Jokowi kembali fokus pembenahan defisit neraca perdagangan.

Airlangga mengatakan, dalam pertemuan itu Presiden mengeluhkan defisit neraca perdagangan makin membengkak dalam beberapa bulan belakangan. Presiden Jokowi juga memintanya untuk mengembangkan kawasan ekonomi.

"Tantangan ke depan bagaimana kita memiliki kondisi terkait dengan defisit neraca perdagangan, juga terkait kawasan-kawasan ekonomi," ujar Airlangga.

Airlangga juga diminta mendorong produk unggulan baru agar mendongkrak ekspor Indonesia. Tentunya, penciptaan produk unggulan tersebut harus melalui kawasan ekonomi industri yang ada selama ini.

Baca juga:
Jokowi Lantik Menteri Hari Ini, Prabowo Hingga Sri Mulyani Hadir ke Istana
Relawan Ingatkan Presiden Jokowi Hati-Hati Pilih Menteri
Mantan Bendahara TKN Dukung Kabinet Pilihan Presiden Jokowi
Jokowi Tunjuk Kakak Cak Imin Jadi Mendes, Ida Menaker & Agus Suparmanto Mendag
Jokowi Tunjuk Bambang Brodjonegoro Perkuat SDM dan Daya Saing Ekonomi
VIDEO: Warna-Warni Audisi Calon Menteri Jokowi Hari Kedua
Kembali Masuk Kabinet, Moeldoko Sebut Tugasnya Tidak Berubah

(mdk/ang)