Ganjar - Sandiaga di Lintasan 2024

Ganjar - Sandiaga di Lintasan 2024
Ganjar-Sandi. ©2021 Merdeka.com
KHAS | 14 Juni 2021 06:04 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.31 WIB. Dari kejauhan, suara lantang terdengar. Kegembiraan terpancar. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mencapai garis finish gowes Hidup Sehat Series Borobudur di Manohara Borobudur, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (5/6).

Sesaat setelah medali dikalungkan pada Sandiaga, suasana kembali riuh. Kemunculan tuan rumah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memecah kegembiraan. Ganjar yang start satu jam lebih lambat, menyusul Sandiaga ke garis finish.

Sandiaga menyambut Ganjar dengan senyuman. Lantas keduanya saling beradu siku tangan kanan. Saling berbincang dan bersendau gurau. Tawa terdengar dari kejauhan. Persaingan keduanya di jalan panjang, berakhir di meja makan.

Sosok keduanya tak hanya mencuri perhatian di lintasan balap sepeda. Tapi juga di lintasan menuju 2024. Digadang-gadang sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. Keduanya pun kompak tak memikirkan kontestasi politik 2024. Sibuk dengan tanggung jawab dan pekerjaan masing-masing. Meski begitu, nama keduanya cukup diunggulkan. Bahkan dijodohkan.

Litbang Kompas belum melihat pasangan yang pas dan saling melengkapi meraih kesuksesan di Pemilu 2024. Menjodohkan capres-cawapres tak semata soal angka. Tapi juga dukungan politik. Litbang Kompas punya hasil penelitian. Setidaknya ada satu tokoh kuat yang cocok bersanding dengan Ganjar Pranowo di medan pertarungan 2024. Analisis ini berdasarkan latar belakang dukungan.

Nama paling kuat jatuh pada Sandiaga Salahudin Uno. Dia dinilai bisa melengkapi Ganjar dari berbagai faktor. Pertama, 51,1 persen pemilih Sandiaga adalah wanita. Berbeda dengan Ganjar yang mayoritas didukung laki-laki. Angkanya 59,1 persen.

Sandiaga juga didukung 44,4 persen responden usia di bawah 23 tahun. Ganjar punya kelemahan pada kategori ini. Pemilih Ganjar kebanyakan di usia 40 sampai 60 tahun.

infografis pemilih ganjar dan sandi
©2021 Merdeka.com/djoko purwanto

Dari sisi domisili, 62,2 persen pemilih Sandiaga berasal dari luar Jawa. Cukup melengkapi Ganjar yang kuat dukungan pemilih dari Pulau Jawa.

Dilihat berdasar kategori kelompok suku, pemilih Sandiaga lebih beragam. Yakni 39,5 persen dari Jawa, 14,0 persen Sunda, 20,9 persen Melayu dan 25,6 persen lainnya. Sementara untuk Ganjar, 85,9 persen pendukung berasal dari suku Jawa.

Dari dukungan partai politik, Sandiaga cenderung melengkapi kekurangan Ganjar Pranowo. Sandi didukung 11,1 persen pemilih PKS, 15,6 persen Demokrat, 17,8 persen Gerindra, 8,9 persen Golkar, 4,4 persen NasDem, dan 2,2 persen PPP serta 8,9 persen PDIP. Terakhir yang juga mencolok, Sandiaga didukung 44,4 persen responden yang merasa tak puas dengan kinerja pemerintah Jokowi.

Tapi bukan berarti Sandiaga tanpa catatan. Sosok Sandiaga yang lebih dikenal sebagai 'kelas atas', kurang mendapat simpati kelompok atau segmen pemilih lain.

"Dia mampu tidak menampilkan sosok nasionalis untuk bisa mendapatkan simpati pemilih dari massa nasionalis anak-anak muda yang masih ke kanan, ke kiri? Dia harus mampu. Kalau dia tidak mampu, pemilihnya relatif per segmen," ujar Peneliti Litbang Kompas, Toto Suryaningtyas saat berbincang dengan merdeka.com, akhir pekan lalu.

infografis pemilih ganjar dan sandi
©2021 Merdeka.com/djoko purwanto

Hitungan di atas kertas memang Sandi calon yang paling tepat berdampingan dengan Ganjar. Namun nama Sandi belum tentu menjadi benefit positif untuk Ganjar. Sebab, karakter yang dibangun politikus Gerindra itu dinilai kurang nasionalis.

Sosok nasionalis sangat diperlukan seorang presiden atau wakil presiden. Sejarah mencatat, sejak pertama kali pemilu digelar di Indonesia, masyarakat lebih banyak memilih pemimpin yang nasionalis daripada agamis. Sementara Sandi, memiliki kekurangan dalam poin tersebut.

"Dia (Sandiaga) lebih banyak pada politisi modern religius. Tapi sebagai ciri nasionalis kurang," katanya.

Partai Demokrasi Indonesia dan Partai Gerindra, tempat Ganjar serta Sandiaga bernaung, belum memutuskan berjalan bersama. Namun wacana berduet sudah digaungkan. Itu pun belum tentu mengusung Ganjar dan Sandiaga. Meskipun nama keduanya selalu muncul di lima besar hasil survei calon presiden.

"Gerindra belum memutuskan, nanti kita akan lihat, kita evaluasi dan kita akan bikin forum untuk bahas ini," tegas Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad

Sandiaga enggan membicarakan namanya yang kerap masuk radar survei calon presiden. Dia memilih fokus menjalankan pekerjaan di Kemenparekraf.

"Dia bilang 'gue lagi fokus kerja bro, ruwet'," kata Sandiaga yang disampaikan oleh jubirnya, Kawendra Lukistian.

Menghadapi Tembok Besar

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno melihat tembok besar yang menghalangi Ganjar Pranowo dan Sandiaga Uno untuk maju di Pemilu 2024.

Ganjar harus berhadapan dengan Ketua DPP PDIP yang juga Ketua DPR Puan Maharani. Nama Puan juga dijagokan untuk bertarung di Pilpres 2024. Tingginya popularitas Ganjar 'dianggap' sebagai batu sandungan bagi Puan. Intrik pun terjadi di dalam kandang banteng.

Puan merupakan penguasa di PDIP. Darah biru partai karena keturunan Trah Bung Karno. Posisi PDIP cukup dilematis. "Ini rumitnya pilihan antara penguasa di partai atau mereka yang didukung dari bawah, perjudian, mau ambil dari partai atau mau yang didukung dari bawah," jelas dia.

prabowo puan saat pertemuan di teuku umar
©2021 Merdeka.com

Sementara Sandiaga harus menunggu perintah dari Ketum Gerindra, Prabowo Subianto. Di sisi lain, kader Gerindra justru dikabarkan satu suara untuk meminta sang ketua umum maju kembali sebagai calon presiden.

"Sandi tentu saja tembok besarnya ada di Prabowo Subianto. Kalau Prabowo maju saya kira berat bagi Sandi untuk maju. Tetapi kalau Prabowo tidak maju, the one and only Gerindra yang layak maju hanya Sandi," terang Adi.

Khusus Sandi, kekurangannya saat ini dari sisi elektabilitas yang stagnan. Malah cenderung menurun ketimbang tokoh capres potensial lainnya. Analisisnya, tidak lepas dari keputusan Sandiaga memilih menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi. Terlebih, Sandi jarang bicara politik di publik.

"Makanya mulai dilupakan oleh publik sebagai capres yang layak periode 2024. Kalau bicara capres enggak jauh-jauh sekarang ini adalah Anies, Ganjar, Puan, Prabowo, Airlangga, AHY, Ridwan Kamil," kata Adi. (mdk/rnd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami