IndoXXI Bikin Bisnis Film Deg-degan

IndoXXI Bikin Bisnis Film Deg-degan
KHAS | 13 Januari 2020 10:21 Reporter : Angga Yudha Pratomo

Merdeka.com - Potensi ekonomi industri perfilman nasional sebenarnya begitu besar. Bisa mencapai angka Rp5 triliun lebih per tahun. Justru jumlah itu hilang dan membuat para produser film harus putar otak agar karyanya tidak hanya bisa dikenang, tetapi mendapat apresiasi mendulang keuntungan.

Asumsi kehilangan potensi dari industri kreatif film itu merupakan hasil riset Badar Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Mereka melakukan riset di empat kota, di antaranya DKI Jakarta, Kota Bogor, Medan dan Deli Serdang.

Hasil riset dari empat kota itu, total kehilangan ekonomi mencapai Rp1,49 triliun. "Asumsi dari empat kota ini, bila kita tarik ke nasional bisa mencapai Rp5 triliun," ungkap Ketua APROFI Edwin Nazir kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

ketua umum aprofi edwin nazir

Ketua Umum APROFI Edwin Nazir @2020 https://www.instagram.com/edwinnazir

Penyebab kehilangan potensi ekonomi industri perfilman paling besar berasal dari situs film bajakan. Mereka resah selama lebih kurang satu dekade situs itu tidak kunjung dihentikan pergerakannya oleh pemerintah. Apalagi selama ini mereka telah merusak ekosistem industri kreatif.

IndoXXI menjadi paling disorot sebagai situs menonton film ilegal. Mereka bahkan terang benderang telah melanggar aturan berlapis. Mulai dari UU Nomor 8 Tahun 1992 tentang perfilman, UU Hak Cipta Pasal 72, dan UU ITE.

Sebenarnya pemerintah tidak diam. Sudah berkali-kali IndoXXI kena blokir. Sampai pada akhirnya pada 1 Januari 2020, mereka mengaku undur diri dengan alasan ingin mendukung dan memajukan industri kreatif tanah air. Meski nyatanya masih banyak situs sejenis diduga terafiliasi masih mudah diakses para penikmat tontonan film bajakan.

1 dari 3 halaman

Pemblokiran situs film bajakan masuk dalam kategori Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Jumlah situs yang ditutup tiap tahun terus bertambah. Pada 2017, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sudah memblokir sebanyak 190 situs.

Kemudian di tahun 2018, pemblokiran kategori HKI naik menjadi 412 situs. Pada tahun selanjutnya peningkatan sangat drastis. Pada 2019, jumlah situs diblokir melonjak lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni 1.143 situs.

Data ini juga sama mengarah ke riset yang dilakukan oleh YouGov. Dalam riset yang dilakukannya pada Desember 2019, menemukan bahwa sebanyak 63 persen pengguna internet di Indonesia mengakses situs-situs streaming yang illegal.

indoxxi

IndoXXI pamit 2019 Twitter

Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu, menyebut jumlah situs film bajakan paling banyak kena blokir. Meski harus disadari bahwa tindakan ini belum sepenuhnya efektif.

Menurut pria akrab disapa Nando ini, tugas dari kementeriannya hanya sampai pada titik pemblokiran. Tiada lagi cara lain. Penindakan lebih lanjut merupakan wewenang aparat hukum. "Pemblokiran itu merupakan langkah hilir. Langkah hulunya adalah melakukan edukasi kepada pengguna internet," kata Nando kepada kami di kantornya, Jumat pekan lalu.

2 dari 3 halaman

Untung Rugi Industri Perfilman

Beragam cara dipakai pengelola situs bajakan demi menayangkan film terbaru. Mulai dari mencuri bahkan tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pembuat film. Semua dilakukan demi pengelolaan bisnis bajakan tetap berkelanjutan.

Edwin mengaku pernah mendengar rumor produser film bekerja sama dengan situs pembajakan. Alasan mereka kongsi biasanya agar film itu bisa lebih populer. Namun, sejauh ini kabar itu belum terbukti. Hanya kabar burung di kalangan produser film.

Adapun banyak film khususnya karya anak bangsa muncul di situs bajakan, Edwin menyebut bisa melalui beberapa cara. Pertama, ada kemungkinan data bocor ketika semua pihak terlibat dalam produksi sedang melihat kembali karya mereka sebelum tayang di publik. Dokumen itu biasanya dikirim via digital.

"Kalau karya itu sudah ada masuk ke Internet, rasanya ada banyak celah kebocoran maupun cara untuk mendapatkan," ungkap produser film 9 Summers 10 Autumns ini.

Kemudian cara lain, biasanya para pembajak memanfaatkan wadah film digital resmi. Banyak produser film menggunakan fasilitas itu agar karyanya tetap bisa dinikmati masyarakat setelah tidak lagi tayang di bioskop. Memanfaatkan wadah itu pun membuat para pembuat film kecipratan untung.

Karena sudah masuk ranah digital, kata Edwin, biasanya para pembajak film mengambil dari wadah film digital tadi. Mereka lalu mereka sambil memutar film itu di ponsel. Sehingga kualitas pun tidak kalah apik. Tetapi, para pembajak tentu tidak semudah itu. Mereka justru akan terkendala penanda cukup lebar pada film.

"Dengan tanda itu atau ada watermark, kita jadi tahu bahwa si pembajak ini dapat dari situs film resmi. Berarti mereka berlangganan resmi. Dan publik pun tahu bahwa ini film bajakan," ungkap dia.

Untung didapat dari penayangan wadah film digital itu sebenarnya lumayan. Itu terhitung dari jumlah penonton dan beberapa faktor lain. Semua ada hitungan resminya yang sudah disepakati antara penyedia jasa situs film digital dan produser. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa film itu dibeli situs film resmi selama sekian tahun.

Memang selama ini pembuat film masih andalkan bioskop sebagai target mendapat keuntungan berlipat. Setiap film tayang bisa membuat sang produsen bahagia. Apalagi bila mencapai angka box office, yakni 1 juta penonton.

Untuk bagi hasil keuntungan, menurut Edwin, harga tiket dibagi dua setelah dipotong pajak. Anggap saja harga tiket Rp40 ribu. Pajak biasanya 10 persen. Sekitar Rp36 ribu pendapatan bersih setelah dipotong pajak. Keuntungan bersih itu dibagi dua antara produser dan pengelola bioskop.

"Bila mencapai box office, maka Rp18 ribu dikali 1 juta penonton. Itu bisa mencapai Rp18 miliar yang didapat sebagai produser film," ungkap dia. Meski begitu, tidak semua karya perfilman Indonesia bisa meraih kesuksesan mencapai jutaan penonton.

Tidak menutup kemungkinan masih banyak produser film sulit balik modal. Ini dikarenakan untuk membuat sebuah film setidaknya perlu mengantongi anggaran setidaknya Rp10 Miliar demi menghasilkan karya terbaik.

3 dari 3 halaman

Sebenarnya ada tren positif dirasakan para produser film Tanah Air. Lebih kurang sebanyak 35 persen banyak penonton bioskop menonton film Indonesia. Bahkan ada potensi bahwa layar bioskop akan bertambah.

Dari tahun 2017 sampai 2019, tercatat ada penambahan hampir 500 layar bioskop Indonesia. Di tahun 2019 kini sudah ada hampir 2.000 layar bioskop. Tentu angka ini masih kalah dibandingkan dengan jumlah layar bioskop di era tahun 80an mencapai 3.000 layar bioskop.

Bukan hanya layar, catatan dipegang APROFI dari gabungan pengusaha bioskop menyebut total penonton tahun 2018 lalu bahkan mencapai 51 juta penonton. "Angka itu terus meningkat tiap tahunnya."

Pengamat TI dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengungkapkan bahwa situs pembajakan justru menorehkan untung lebih besar. Banyaknya pengakses situs film ilegal justru banyak mendulang keuntungan.

IndoXXI setidaknya bisa mendapat keuntungan Rp80 juta per hari bila sehari diakses 8 juta pengunjung. Jumlah itu didapat dari beragam iklan dengan konten negatif yang mengelilingi situs film bajakan tersebut. (mdk/ang)

Baca juga:
Kucing-kucingan IndoXXI
Pembajakan Online, Sekarang Waktunya Untuk Berubah
Situs IndoXXI Masih Beroperasi, Asosiasi Video Minta Pemerintah Tindak Lebih Tegas
IndoXXI Resmi Ditutup
5 Fakta Seru dalam Seminggu, Mulai Bea Impor USD 3 Sampai Penutupan IndoXXI
Strategi Menkominfo Agar IndoXXI Tak Lagi Sebar Film Bajakan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami