Istri jenderal main tampar harus malu lihat teladan Lena Soekanto
KHAS | 7 Juli 2017 06:45 Reporter : Ramadhian Fadillah

Merdeka.com - Aksi seorang wanita berinisial JM bikin geger. Istri pensiunan jenderal bintang satu polisi ini menampar petugas bandara Sam Ratulangi Manado, Rabu (6/7). JM tak terima diminta melepas jam tangannya.

Kasus ini berlanjut ke polisi. JM juga ikut melaporkan balik dua petugas tersebut ke polisi atas perbuatan tak menyenangkan.

Banyak pihak menyayangkan aksi arogansi JM. Menteri Perhubungan Budi Karya menyebut anak buahnya sudah bertindak sesuai dengan aturan. Dia menegaskan akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Mabes Polri pun berjanji akan mengusut tuntas kasus ini.

Rupanya JM dan banyak istri pejabat lain lupa teladan yang diberikan oleh Hadidjah Lena Mokoginta atau yang lebih dikenal dengan nama Ibu Lena Soekanto. Dialah istri Kapolri pertama Jenderal RS Soekanto Tjokrodiatmodjo.

Lena dibesarkan sebagai putri bangsawan Sulawesi Utara. Namun orang tuanya selalu mengajarkan agar menjadi orang yang merakyat dan sederhana.

Semangat itulah yang terus diingatnya. Saat kepolisian Indonesia masih muda, Lena juga yang pertama kali menggagas terbentuknya persatuan istri polisi atau Bhayangkari. Dia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Jenderal RS Soekanto menjadi Kapolri dari tahun 1945 hingga 1959. Menjabat orang nomor satu di kepolisian selama 14 tahun tak membuat pasangan ini punya uang cukup. Bahkan saat pensiun keduanya sempat tak punya rumah dan tinggal berpindah-pindah.

Salah satu rumah yang pernah ditempati RS Soekanto dan istri ada di Jl Proklamasi, Jakarta Pusat. Mantan anak buah yang melihat rumah mantan Kapolri ini nyaris menangis sedih.

Jika hujan, rumah tua itu bocor di beberapa tempat. Pagar depan rumahnya rusak. Tak sesuai benar untuk mantan Kapolri. Namun pasangan suami istri tersebut tak mengeluh.

Hal ini dikisahkan Kombes (Purn) HA Koesnoro dalam tulisannya untuk buku biografi RS Soekanto yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2016.

Yang mengharukan, di tengah kekurangan tersebut Ibu Soekanto dan suaminya juga selalu senang menyambut tamu yang datang. Siapa pun tak pernah dibedakan.

"Bila saya menghadapi ada pejabat polisi yang agak angkuh dan sombong, terus terang saya persilakan beliau datang menemui Bapak Soekanto di rumah beliau agar dapat melihat langsung keadaan Bapak Soekanto dengan rumah dan perabotan yang sangat sederhana tersebut," kata Koesnoro.

Menurut dia siapa pun yang masih memiliki nurani, pasti langsung berubah sikap melihat kehidupan mantan Kapolri dan istrinya yang sangat sederhana itu.

Lena Soekanto meninggal 1 Maret 1986. Suaminya meninggal 26 Agustus 1993. Sesuai pesan RS Soekanto, dia menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia meminta dimakamkan satu lubang dengan istrinya di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Seumur hidup keduanya dikenal sebagai pejabat sederhana yang meninggalkan banyak teladan. Sayang, cuma sedikit yang meneladani mereka.

Baca juga:

Kisah Soeharto tembus medan perang Sarajevo untuk bantu Bosnia

Tegasnya Jenderal Marinir bela guru yang diancam orang tua siswa

Kiai Subchi, ulama besar rendah hati guru jenderal Soedirman

Kisah gubernur jujur bikin malu pengusaha yang mau main suap

(mdk/ian)