Tren vlog di Indonesia (2)

Jalan terjal dan sunyi sebelum vlog kita nikmati

KHAS » MALANG | 11 Oktober 2016 07:13 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Bayu Eko Moektito sedang dilanda kesedihan pada Hari Valentine 2012. Beberapa hari sebelum perayaan kasih sayang sedunia itu, sang pacar memutuskan hubungan. Laiknya anak muda lain, pria 22 tahun asal Kota Malang, Jawa Timur, ini merasakan emosinya teraduk-aduk gara-gara kegagalan percintaan.

"Sakit hati, galau, lalu aku terobsesi luapin galau dengan karya," ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Bayu, yang memiliki nama alias Skak di Internet, mengunggah sebuah video blog (vlog). Di vlog tersebut, bayu bertekad menceritakan kegalauannya putus dengan sang pacar serta kiat-kiat menghadapi Valentine sebagai jomblo. Dia meniru pengemasan vlog-vlog dari mancanegara yang lebih dulu populer aku referensi dari vlog luar kaya Ray William, Smosh dan lain sebagainya.

Siapa sangka, vlog diunggah lewat Youtube itu ditonton ribuan orang, jumlah yang tak terbayangkan bagi Bayu saat itu. Banyak komentar positif, komentar bagus, serta dukungan dari para penonton.

"Viewer aku meledak jadi 1.000. Saat itu viewer segitu sudah banyak," kata Bayu.

Vlog menjadi salah satu kegiatan yang belakangan ini paling banyak diminati pegiat media sosial. Banyak orang berlomba-lomba membuat video sekreatif dan seunik mungkin tentang kehidupan sehari-hari mereka, kendati sejatinya mereka barangkali bukan seorang pesohor.

Beberapa nama seperti Laurentius Rando atau Karin Novilda, merupakan sosok yang dikenal khalayak luas sepenuhnya berkat vlog.

Walau resminya hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari, proses membuat vlog sangat sulit. Perlu keterampilan edit video serta membangun narasi yang mumpuni, agar penonton terpaku menyaksikan tingkah polah para vlogger.

Youtuber Bayu Skak di kantor kapanlagi.com Malang (c) 2015 Merdeka.com

Bayu Skak mengungkapkan, dengan vlog, dirinya bisa mengungkapkan ekspresi kegiatannya sehari-hari dilengkapi dengan audio visual yang semakin menjadikannya menarik. Berbeda dengan blog, yang hanya menampilkan tulisan-tulisan panjang, vlog mampu menceritakan secara langsung dan seekspresi mungkin.

"Saya kan senang animasi, dulu saya sekolah di SMKN Malang mengenai animasi, terus saya suka bikin video-video gitu. Dari 2010 awalnya saya bikin video, dulu iseng-iseng, tapi saya tekuni deh sampai sekarang nge-vlog," kata Bayu.

Mahasiswa Universitas Negeri Malang ini mengaku perlu banyak jam terbang untuk membuat video yang berhasil menarik minat pengguna Youtube.

Setelah vlog-nya tentang Valentine populer, Bayu semakin menggeluti kegemarannya membuat video. Lambat laun namanya melejit. Jumlah penonton rata-rata mencapai 100 ribuan. Manajemen youtube pun menghubungi Bayu pada 2013, lalu mengajaknya bekerjasama. Kini, Bayu mampu meraup puluhan juta Rupiah dari karya-karyanya.

"Awalnya aku engga tahu bisa dapat duit dari youtube. Sampai akhirnya memantabkan diri tahun 2013 akhir menjadi profesional, menekuninya membeli kamera bagus, komputer bagus, jadi udah niat dari situ," akunya.

Tak berbeda dengan Bayu, Ikramarki yang juga seorang vlogger profesional jungkir balik membuat konten yang bisa menarik perhatian. Dia memantabkan diri khusus mengunggah video jalan-jalan.

Proses kreatif menyusun vlog ini yang sangat menantang bagi Ikram. Contohnya adalah vlog yang dia buat selepas mengunjungi Pura Lingsar, di Lombok Barat. Walau judulnya 'Mahluk Mistis Penunggu Pura Lingsar' Ikram justru enggan membahas tahayul. Sebaliknya dia lebih banyak mengulas sebuah sanggar yang di keramati oleh penduduk sekitar, khususnya umat Hindu.

Ikram sekaligus meluangkan waktu menceritakan kepercayaan dan tradisi untuk mensyukuri sebuah mata air yang bernama Kemaliq, yang dipercayai sebagai anugerah sumber kehidupan dari Tuhan Yang Maha Esa yang juga dapat membuat seseorang awet muda jika membasuh mukanya menggunakan air tersebut.

Adanya unsur kebaruan serta informasi khas sebuah destinasi menjadi pertimbangan utama Ikram sebelum mengunggah karya terbarunya. "Aku bikin vlog bukan buat seneng-seneng sehari-hari doang, tapi mikirin juga siapa yang nonton, apa yang didapat dari yang nonton. Minimal vlog aku itu bermanfaat, memberikan informasi dan edukasi kepada banyak orang," tandasnya.

Ilustrasi vlogger tips kecantikan (c) 2015 Merdeka.com/@yuyacst



Soal keuntungan ekonomi dari membuat vlog, Ikram tak memungkirinya. Apalagi basis utama unggahannya lewat Instagram, media sosial yang berbeda sistem monetisasinya dibanding Youtube.

Setelah hampir dua tahun menekuni vlog, Ikram seringkali mendapat barang gratis (endorsement) untuk nantinya dipariwarakan dari beberapa perusahaan, misalnya kaos dan lain sebagainya.

"Jadi ya aku dapat endorsan gitu sih, belum sampai dapat uang gitu. Tapi itu engga terlalu penting, yang penting apa yang kita tampilkan itu berguma buat orang lain," kata Ikram.

Bayu punya beberapa rumus untuk menghasilkan vlog populer. Ini berdasarkan pengalamannya selama nyaris empat tahun menggeluti produksi konten digital.

Tema yang menarik menurutnya terkait kehidupan sehari-hari. Kentut pun bisa menjadi topik bahasan vlog yang menarik. Namun kemasannya tidak bisa terlalu vulgar, karena penonton kanal Bayu Skak rata-rata masih pelajar.

"Jadi aku harus mikirin engga mau bikin konten aneh-aneh. Aku pernah dulu buat konten payudara ditutup gitu, itu view gede, tapi aku engga mau, engga pantas dan engga akan aku buat ke depan lagi," urainya.

Bagi mereka yang baru merintis karir di bidang vlog, Bayu punya saran. Dia menilai konten kontroversial, yang bernuansa cabul, mungkin cepat mengangkat popularitas seorang vlogger. Namun itu tidak lama.

"Harus kita pikirkan bahwa konten tersebut akan ditonton orang banyak, maka harus dibuat sungguh-sungguh dan kreatif, jangan umbar yang negatif itu. Pokoknya kita menghibur dengan yang baik," tuturnya. Sebagai buktinya, Bayu sejak lama selalu menyensor umpatan dalam videonya, kendati kata-kata kasar itu sebetulnya untuk menambah unsur guyon.

Kunci lainnya, menurut Bayu, adalah konsisten. Popularitas pasti terkerek bila seseorang rajin mengunggah video minimal satu kali sepekan. "Aku seminggu sekali, setiap hari Sabtu, selalu upload video baru."

(mdk/ard)